
Pamela memesan semua makanan yang dia sukai, membuat Luis merasa heran dengan badan kecil tetapi porsi makannya sangat besar.
'Dia manusia atau justru malah siluman, dia pesan makanan sangat banyak. Dasar wanita aneh,' gumam Luis.
Sambil menunggu makanan, Pamela sengaja membuka obrolan kepada Luis.
"Apa kau sungguh akan menikahiku?" tanya Pamela.
"Memangnya ada apa? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu," jawab Luis.
"Aku hanya bertanya, untuk memastikan kau saja. Aku tidak ingin kau ingkar dan membohongiku, itu saja," ucap Pamela.
"Ingat, 3 hari lagi kita akan menikah, jadi kau jangan macam-macam," ucap Luis.
"Kenapa kau malah menekanku?" tanya Pamela.
Luis menatap Pamela. Tak lama pesanan mereka pun datang, membuat Pamela merasa senang.
"Wah, baunya sangat harum," ucap Pamela.
Semua makanan sudah dihidangkan dimeja, saatnya Pamela menyantap makanan yang sudah disediakan.
Satu persatu, Pamela memakan makanan itu, sehingga membuat Luis sangat heran. Makan sebanyak itu dimakan oleh Pamela.
"Kau mau nasi bakar?" tanya Pamela.
"Tidak," jawab Luis.
"Hem ... Kau mau salad sayur?" tanya Pamela.
"Aku tidak mau," jawab Luis.
"Apa kau mencicipi somay ini?" tanya Pamela.
Merasa kesal, kenapa beberapa kali ditolak oleh Luis, akhirnya Pamela langsung menyuapi Luis begitu saja.
"Aku tidak suka," jawab Luis, tak lama sepotong somay langsung masuk mulutnya, membuat Luis terkejut dan terpaksa mengunyahnya.
"Kau ini banyak tidak maunya, kalo semua-mua tidak mau. Lalu kau makan apa? Apa setiap harinya kau makan roti?" tanya Pamela.
"Kenapa kau malah memarahiku," jawab Luis.
"Bagaimana aku tidak marah denganmu, kau bilang akan menikahiku, tapi makananmu saja aku bahkan tidak tau, bagaimana jika nanti kita makan bersama Pimpinan, kita akan ketahuan," jelas Pamela.
Luis terdiam dan langsung mendekatkan wajahnya kearah Pamela.
"Astaga, kau benar juga," ucap Luis.
__ADS_1
"Besok aku akan menjemputmu, kau harus keapartemenku, nanti akan aku beritahu semuanya disana," kata Luis.
"Baiklah, kesepakatan kita akan dimulai besok," ucap Pamela.
Pamela melanjutkan makannya. Sampai akhirnya ia menghabiskan semua makanan yang dipesan.
"Aduh ... aku kenyang banget," ucap Pamela.
"Jika sudah selesai makan, ayo kita kembali kerumah Kakekku," ajak Luis.
"Astaga, sabar dulu. Semua makanan ini belom turun ke usus, jika kita langsung jalan sekarang, perut ini terasa begah," ucap Pamela.
"Suruh siapa makan begitu banyak," ucap Luis.
"Pekerjaanku menggunakan tenaga dan pikiran, jadi maklumilah," kata Pamela.
"Kau pikir aku tidak? Tapi aku tidak sepertimu," kata Luis.
"Lama-lama kau menyebalkan," ucap Pamela beranja bangun dari tempat duduknya.
Pamela berjalan keluar resto itu, diikuti Luis.
Pamela terdiam, menatap mobil Luis dan langsung berjalan meninggalkan parkiran.
"Tunggu!"
Langkah Pamela terhenti, ia sejenak menoleh kearah sumber suara.
"Bukan urusanmu," jawab Pamela.
"Jelas ini menjadi urusanku, kembalilah! Kita harus segera pulang!" seru Luis.
Pamela tidak menggubris ucapan Luis, ia terus berjalan sampai melihat taksi yang lewat.
Luis yang melihat Pamela terus berjalan, membuatnya merasa geram, akhirnya Luis menghampiri Pamela dan langsung menarik tangannya dengan erat.
Pamela sangat terkejut, tangannya ditarik begitu saja oleh Luis.
"Hey, apa-apaan ini. Lepaskan aku!" teriak Pamela.
Luis tidak memperdulikan Pamela, ia terus berjalan sambil menarik tangan Pamela. Banyak yang melihat mereka berjalan.
Luis langsung menyuruh Pamela masuk ke dalam mobilnya.
Pamela terus memberontak, tetapi tenaganya kalah jauh dari Luis.
Dengan cepat, Luis melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
"Turunkan aku! Aku tidak mau naik mobilmu, kau menyebalkan," kesal Pamela.
"Diam! Jangan bertingkah seperti anak kecil, kau sudah besar," seru Luis.
Pamela menatap tajam Luis, Pamela langsung terdiam selama diperjalan menuju rumah Pimpinan Hanji.
Sepanjang jalan itu, terasa sangat hening. Tidam ada suara apapun, hanya ada keheningan.
Sampai dirumah Pimpinan Hanji, Pamela langsung membuka pintu dan menutupnya dengan kencang.
Luis hanya terdiam menatap kepergian Pamela yang sudah menjauhi mobilnya.
Pamela masuk ke dalam ruangan medis.
"Bagaimana kondisi Pimpinan?" tanya Pamela.
"Beliau sudah bangun Dok, dan sekarang beliau sedang duduk diruang santainya," jawab Perawat.
"Baiklah," ucap Pamela.
Pamela langsung berjalan menuju ruangan Pimpinan Hanji, ia terus berjalan. Langkahnya terhenti saat melihat Pimpinan sedang menatap taman yang sangat indah.
"Mendekatlah," perintah Pimpinan.
Pamela merasa bingung, ia menoleh kekanan dan kekiri, tidak ada satu orangpun.
"Jangan berdiri saja disitu, kemarilah!" perintah Pimpinan Hanji.
'Bagaimana dia tahu, jika itu aku. Apa dia punya indra ke enam?' gumam Pamela.
Pamela akhirnya mendekati Pimpinan Hanji, ia langsung duduk disamping Pimpinan.
"Bagaimana kondisi anda Pak? Aku dengar anda semalam banyak minum," tanya Pamela.
"Aku merasa sangat baikan, kau bisa tahu jika aku ternyata minum minuman beralkohol," jawab Pimpinan Hanji.
"Bagaimana aku tidak tahu, anda meminum terlalu banyak membuat semua orang panik, Pak Adit menelponku, dia mangatakan jika Pimpinan tidak sadarkan diri, ternyata anda memang terpengaruh minuman alkohol itu. Apa anda merasa frustasi?" tanya Pamela.
"Pertanyaanmu membuatku terkejut, apa aku harus menjawabnya?" jawab Pimpinan Hanji.
"Tentu, Pimpinan masih tanggung jawabku," ucap Pamela.
"Baiklah jika begitu, aku akan selalu meminta izin kepada Dokter pribadiku," sahut Pimpinan Hanji.
Dari kejauhan Luis melihat Pamela dengan berbicara dengan Pimpinan, membuatnya mengurungkan niatnya untuk mendekati Pimpinan Hanji.
Bersambung ....
__ADS_1