Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Pertemuan yang tak di sengaja


__ADS_3

Pamela yang menerima pasien dengan banyak luka cambuk dan luka di bagian pergelangan tangannya, ia langsung memeriksa setiap luka.


"Sepertinya luka ini sudah lama," ucap Pamela, kembali memeriksa di bagian punggung pasien, ia melihat ada cambukan yang cukup dalam membuatnya infeksi dan bernanah.


"Apa pasien ada riwayat alergi?" tanya Pamela.


Perawat Isni sudah melakukan skintest.


"Tidak ada riwayat alergi Dok," jawab Perawat Isni.


"Siapkan antibiotik dan suntikan melalui Intravena, beri paracetamol flash dan guyur," perinta Pamela.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Dokter Zen.


"Pasien mengalami demam, dan infeksi di bagian punggung karena luka bekas cambukan, ini membuat pasien tidak sadarkan diri," jawab Pamela.


"Baiklah, setelah ini lakukan pindai CT, hubungi aku jika hasilnya sudah keluar," perintah Dokter Zen.


"Baik Dok," sahut Pamela.


Ketika Pamela akan meninggalkan pasien, tiba-tiba pasien mengalami demam tinggi dan sempat kejang, membuat alat yang menempel di tubuhnya berbunyi.


Pamela dan Dokter Zen langsung menatap pasien itu, dan segera memberi penanganan yang tepat.


"Tekanan darahnya turun drastis, Dok," ucap Perawat Isni.


"Pasien mengalami kejang akibat infeksi, apa kau sudah memberikan antibiotik?" tanya Dokter Zen.


"Sudah Dok," jawab Pamela.


"Guyur pasien dengan Ringer Lactat," perintah Dokter Zen.


Perawat Isni langsung mengganti plabot infus dengan ringer lactat.


"Bagaimana dengan hasil labnya?" tanya Dokter Zen.


"Hemoglobin 8.5 mg/dl, gds 90 mg/dl, trombosit 65.000 mcl, lekosit 12.000 per mikroliter, " jawab Perawat Isni.


"Dia mengalami infeksi akibat luka cambuk itu," ucap Dokter Zen.


Pasian terus mengalami kejang, dan akhirnya Dokter Zen memberikan obat penenang, membuat pasien bisa di kendalikan.


Pasien mulai terpejam, membuat Dokter Zen langsung menyuruh Pamela untuk melakukan pindai CT.


Saat hasilnya keluar, Dokter Zen memperhatikan hasilnya, ia melihat ada penyakit langka yang di derita oleh pasien.


"Apa kau sudah menghubungi polisi?" tanya Dokter Zen.


"Semua polisi susah di hubungi Dok, entah apa yang terjadi? Mungkin mereka sangat sibuk," jawab Dokter Pamela.

__ADS_1


"Hentikan penanganan pasien yang bernama Dewa, kalian tidka berhak untuk merawatnya," ucap lantang Luis.


Semua Dokter dan Perawat yang sedang berdiskusi bersama, langsung menoleh ke arah sumber suara.


Pamela pun langsung menoleh, ia sangat kaget melihat pria berkacamata hitam berjalan menghampirinya di meja perawat.


"Hentikan tindakan itu, dia adalah pasienku," ucap Luis.


"Kau ... siapa kau sebenernya?" tanya Pamela.


Dokter Zen menatap pria berbadan kekar itu dan menatap Pamela yang seperti mengenal pria itu.


Luis tersenyum, dan memberi isyarat kepada ajudannya untuk membawa paksa pasien yang bernama Dewa.


Dengan cepat Pemala langsung menghalangi niat Luis.


"Minggir!" seru Luis.


Pamela tidak kunjung minggir, ia berada di dekat ruang hibrida yang tertutup.


"Kau harus izin terlebih dahulu dengan Dokter yang merawatnya?" ucap Pamela.


Luis tersenyum sinis.


"Kau siapa? Beraninya menyuruhnya untuk meminta izin seperti itu, minggir sekarang atau kau akan tahu akibatnya," ancam Luis.


"Saya tidak takut, pasien yang datang kemari sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai para medis, di rumah sakit ini. Jadi bersikaplah sopan," tegas Pamela.


Dokter Zen akhirnya angkat bicara.


"Kau keluarga dari pasien ini?" tanya Dokter Zen.


"Dia adalah tawanan kami yang kabur," jawab Asisten Jemi.


"Tawanan? Atau kalian yang menyekapnya? Apa itu bukan tindakan kriminal?" tanya Dokter Zen.


Suasana di dalam UGD sangatlah menegangkan, di mana Pamela, Dokter Zen dan Luis saling adu argumen untuk mendapatkan haknya.


"Kami mempunyai bukti kuat, jika harus membawa pria yang sekarat itu kembali kepada kami," jawab Jemi.


"Hem ... sekarang begini saja, kita selesaikan tanpa ada yang di rugikan satu sama lain, pasien tetap kami rawat sampai beliau siuman, dan setelah pasien dinyatakan sembuh. Itu akan menjadi hak kalian, karena pasien saat ini sedang mengalami infeksi yang cukup berat, yang mengakibatkan pasien sempat kejang, kami sedang mengamati seluruh hasil pemeriksaan. Dan kami mencurigai ada penyakit langkah yang di idap oleh pasien, jadi saya mohon toleransinya," jelas Dokter Zen.


Penjelasan Dokter Zen bisa di terima oleh Luis, tetapi, tatapan Luis ke Pamela tidak bisa terlepas.


Pamela pun langsung kembali memeriksa pasien yang lain, semua Perawat dan Dokter pun kembali mekakan aktifitasnya.


Sedangkan Luis dan Jemi duduk di samping pasien, pasien di jaga sangat ketat oleh mereka semua, membuat Pamela dan yang lainnya tidak bisa bersendagurau.


Dokter Kiki dengan girangnya datang membawa banyak makanan dan minuman.

__ADS_1


"Selamat malam!" ucap Dokter Kiki meletakan beberapa kantong plastik berisi makanan dan minuman.


"Wah ... apa Dokter Kiki baru saja mendapatk lotre?" tanya Perawat Ken.


"Jangan-jangan kau ngepet ya?" sambung Pamela.


"Atau jangan-jangan Dokter Kiki abis menang togel ya?" sambung Perawat Isni.


Dokter Kiki langsung memandangi mereka dengan wajah yang sangat kesal. Dengan cepat ia langsung menarik minuman dan makanan yang akan di makan oleh mereka.


"Kenapa kalian yang makan, sini makanannya," kesal Dokter Kiki.


"Kenapa malah marah, kita hanya bercanda, jangan di masukan hati. Nant kau bisa gila," sahut Pamela.


"Ya sudah aku kembalikan," ucap Dokter Kiki.


Pamela melihat Luis yang sedang duduk seorang diri di dekat pasien Dewa, Pamela menghampirinya dan memberikan secangkir kopi dingin yang di bawa oleh Dokter Kiki.


"Minumlah, itu akan membuatmu merasa lebih baik," ucap Pamela.


Jemi yang akan mendekati Pamela, mendapat intruksi dari Luis untuk tidak mengganggu, membuatnya kembali terdiam di tempat.


"Sepertinya, anak buahmu memperhatikan ku terus, apa yang salah denganku?" tanya Pamela.


"Minum saja kopinya, aku tidak suka kopi," jawab Luis berbohong.


"Kau tidak suka kopi? Biasanya Bos-bos sepertimu menyukai kopi, kau berbeda dari mereka," ucap Pamela.


Luis terdiam tidak menanggapi, semua yang di katakan Luis.


Pamela melihat pergerakan tangan pasien Dewa, membuatnya langsung memeriksa konjungtiva dan seclera matanya.


Pasien masih dalam ke adaan yang stabil, tekanan darahnya mulai stabil membuat Pamela bernapas lega.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Luis.


Pamela menoleh ke arah Luis.


"Dia dalam keadaan yang stabil, tapi kondis ini bisa saya menurun, detak jantungnya sangat lemah, membuat pasien bisa mengalami gagal jantung," jelas Pamela.


Dokter Zen masuk ke dalam ruangannya, ia sedang mengamati hasil pemeriksaan pasien Dewa, ia sambil membuka bukunya.


Terlihat sangat teliti dan Dokter Zen langsug menelpon seseorang yang bisa menjelaskan semua gejala yang di timbulkan oleh paien Dewa.


Dokter Zen yang berbicara menggunakan bahasa asing, membuatnya langsung mencatat memeriksaan lanjut yang harus di lakukan oleh pasien Dewa.


"6-Pyruvil Tetrahdyproteinsynthase deficiency."


Penyakit yang sangat langkah.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2