
Setelah Dokter Zen mengobrol dengan seseorang, ia langsung mengatakan.
"6-Pyruvil Tetrahdyproteinsynthase deficiency," ucap Dokter Zen langsung membuka buku panduannya.
Pamela yang masih berada di rumah hibrida, tiba-tiba melihat pasien mengalami henti jantung, monitor yang mendeteksi kondisi pasien pun seketika berbunyi, membuat Pamela dan Perawat yang berjaga langsung mendekat.
Pamela menggeser posisi Luis yang duduk di samping pasien, ia memeriksa bagian jantung pasien menggunakan stetoskop, dan langsung melakukan kompres dada atau resusitasi jantung paru.
Denyut pasien pun kembali terasa, sehingga detak jantung kembali stabil. Keringat telah membasahi kening Pamela, membuatnya langsung mengatur napasnya.
"Pasien mengalami gagal jantung?" tanya Dokter Zen.
"Dia mengalami kelainan genetik PTPS," sambung Dokter Zen.
Belom sempat menjawab, Pamela langsung menatap wajah Dokter Zen karena terkejut dengan diagnosa pasien Dewa, ini pertama kalinya Pamela menemui pasien dengan riwayat PTPS atau 6-Pyruvil Tetrahdyproteinsynthase deficiency.
"Itu sebabnya dia sempat kejang?" tanya Pamela, membuat Dokter Zen menganggukan kepalanya.
"Ini akan terus menerus terjadi, kurangnya kadar BHA membuat hiperfenilalaninemia, ini akan sulit di tangani, karena melihat kondisi pasien yang sangat lemah dan mengalami infeksi pada lukanya, membuat kondisinya akan semakin memburuk, operasi pun tidak akan menyelesaikan permasalahan," jelas Dokter Zen.
"Kondisinya semakin melemah Dok, pasien akan mengalami kejang setiap 4 jam sekali dan sesekali akan mengalami gagal jantung," ucap Pamela.
Dokter Zen menatap Luis, ia langsung mendekat.
"Apa pasien pernah mengalami kejang?" tanya Dokter Zen.
"Iya, bahkan ketika malam hari, dia sering kejang sebanyak dua kali," jawab Jemi.
Luis menatap seperti orang yang baru tahu, jika tawanannya mengalami penyakit langkah.
"Pasien Dewa termasuk memiliki fisik yang kuat, biasanya pasien yang mengalami PTPS saat lahir akan mengalami kecacatan, tetapi berbeda dengan pasien Dewa, ia terlihat sangat kuat dan sehat, orang tidak ada mengira jika dia mengalami PTPS," jelas Dokter Zen.
Di ruang operasi.
Operasi yang di lakukan oleh Dokter Okta sudah selesai, semuanya berjalan dengan lancar, mereka semu ke luar dari ruang operasi.
Betapa terkjutnya mereka semua saat keluar dari ruang opersi, melihat beberapa angkatan bersenjata telah berdiri di ruang tunggu pasien.
"Astagfirulloh," ucap Dokter Okta.
"Ada apa ini?" tanya Dokter Tio.
__ADS_1
Mayor Ardi langsung mendekati Tio.
"Kami dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, kamu ingin mengetahui pasien yang baru saja anda operasi, dia adalah sersan Yuda. Bagaimana kondisinya?" tanya Mayor Ardi.
Dokter Tio, menatap Mayor Ardi dengan teliti. Ia melihat tatapan mereka yang terlihat sangat mencurigakan, membuatnya langsung mengerti.
"Pasien sedang mengalami masa kritis, sangat sulit untuk di tentukan kapan pasien akan sadar," jawab Dokter Tio.
"Apa dia akan segera sembuh?" tanya Mayor Ardi.
"Kemungkinan kecil untuk siuman dalam waktu dekat, tapi operasi berjalan lancar, hanya saja jantungnya sempat terluka karena ledakan itu," jelas Dokter Tio.
"Ku dengar Dokter Okta yang mengoprasi kakinya? Apa kakinya bisa di selamatkan?" tanya Mayor Ardi.
"Kerusakan parah si beberapa jaringan yang ada di kaki pasien, sehingga membuatnya tidak berfungsi lagi, kami mengamputasi kakinya dan mungkin pasien tidak aka menjadi tentara lagi," jelas Dokter Okta.
Mayor Ardi langsung menatap Jendral Santoso, mereka saling menatap satu sama lain, membuat Para medis pamit dan meninggalkan mereka semuanya.
Jendral Santoso menatap kepergian Dokter Tio dan Dokter Zen, tak lama mereka semua pun pergi meninggalkan ruang operasi ada dua ajudan yang di perintahkan untuk berjaga di ruang tempat sersan Yuda di rawat.
Dokter Tio pun kaget, ketika melihat ruang UGD yang di penuhi oleh ajudan Luis, ia perlahan melangkahkan kakinya menatap setiap ruangan.
"Ada pasien dengan riwayat PTPS," jawab Dokter Zen, membuat Dokter Tio terkejut.
Kondisi ruang operasi satu.
semua orang sedang menjalani operasi yang panjang, yauitu pengangkatan hati, ketika mereka sedang melakukan pemotongan setiap jaringan yang terhubung dengan hati, Dokyer Anton yang terlibat di dalam operasi itu melakukan kesalahan yang sangat fatal, sehingga membuat salah satu pembuluh darah di dalam abdomen pecah.
Keadaan ini membuat kondisi pasien semakin menurun dan pasien mengalami gagal jantung di meja operasi, semua Dokter dan perawat yang ada di dalam operasi terlihat sangat panik, dan perawat dari ruang operasi, keluar untuk mengambil stok darah.
Kepanikan itu di ketahui oleh Dokter Kiki yang saat itu tidak sengaja melihat salah satu perawat berlarian.
Dokter Kiki langsung kembali ke ruang UGD, dan menagatakan apa yang dia lihat barusan.
Dokter Kiki berlari agar sampai di tempat ruang UGD.
"Dokter Zen!" panggil Dokter Kikk.
Semua orang yang ada di dalam ruang UGD, menoleh ke arah Dokter Kiki, yang terlihat sangat tergesa-gesa mendekati Dokter Zen.
"Ada apa?" tanya Dokter Zen.
__ADS_1
"Anu ... apa pasien VIP saat ini menjalani operasi?" jawab Dokter Tio mengatur napasnya yang terlihat ngos-ngosan.
"Pasien VIP?" ucap lirih Dokter Zen.
Dokter Zen sudah mengetahui, jika kondisi pasien akan melemah jika menjalani opersi ke dua, karena bukan dari kondisi kankernya melainkan dari kondisi fisiknya, tetapi Dokter Arif yang sangat kekeh dengan operasi ini, sehingga mereka menghalalkan segala cara.
"Dokter Zen tidak ada respon apapun, ia terlihat sangat santai membuat semua dokter dan perawat di buat bingung olehnya.
"Dok! Kenapa anda diam saja?" tanya Pamela.
Mereka yang berada di ruang operasi, akhirnya menghentikan operasinya, dan langsung melakukan resusitasi jantung paru.
Ketia Dokter Arif melakukan RJP, semua dokter mundur dan melihat kegigihan Dokter Arif yang terus melakukan RJP, akhirnya kondisi pasien pun tidak dapat di selamatkan.
Dokter Arif yang penuh keringat langsung berhenti ketika suara monitor berbunyi sangat nyaring, dan pasien di nyatakan meninggak dunia karena faktor internal.
Dokter Arif langsung menatap tajam ke arah Anton.
"Kematiannya pukul 04.00," ucap Dokter Anastesi.
"Semuanya hancur, semua Dokter yang ada di dalam ruangan ini dan perawat yang ikut dalam operasi ini akan mengalami skor selama 2 minggu," ucap Dokter Arif.
"Apa! Aku tidak mau di skorsing Dok," seru Dokter Anton.
"Ini semua kesalahanmu!" seru Dokter Arif.
Dokter Arif langsung keluar dari ruang operasi, ia langsung meninggalkan ruang operasi begitu saja. Sebagian perawat yang ada di dalam ruang operasi langsung mengurus jenazah.
Dokter Arif berjalan menunu ruangannya, dengan rasa kesalnya, diikuti Anton di belakangnya.
"Dok, kita harus bagaimana, aku bahkan tidak sengaja akan jadi seperti ini," ucap Dokter Anton.
Dokter Arif yang sudah berada di dalam ruangannya, menatao tajam Dokter Anton yang sangat ceroboh.
"Kau tahu apa kesalahammu?" tanya Dokter Arif.
Dokter Anton langsung menundukan kepalanya, ia merasa jika bersalah, tetapi niat jahatnya membuat Dokter Arif pun tergoda dengan jabatan tinggi yang ditawarkan oleh Anton.
"Singkirkan Pamela."
BERSAMBUNG....
__ADS_1