Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Kepergian Pimpinan Hanji


__ADS_3

Semua orang berkumpul di ruang VIP, mereka melihat Pimpinan Hanji sadarkan diri.


Senyum tersungging dibibir Pimpinan Hanji, bukan membuat mereka bahagia, justru malah membuat semua yang berada di dalam ruang VIP merasa sangat sedih.


"Kakek," lirih Luis.


"Aku berterima kasih pada kalian semua, telah bekerja keras untuk membuatku sadar kembali, tapi semua ini menyaksaku, aku minta. Biarkan aku beristirahat dengan tenang, sudah saatnya aku kembali ketempat yang lebih damai," ucap Pimpinan Hanji dengan nada suara yang dangat lemah.


"Tapi, Pak," cela Dokter Boy.


"Tidak ada tapi-tapian, aku tidak akan melupakan kalian semua. Dan buat cucuku, jaga istrimu dengan baik, berjanjilah dengan Kakek, jika kau harus bagia selamanya," pesan Pimpinan Hanji.


Semua orang di dalam ruang VIP, tidak bisa menolak keputusan Pimpina Hanji, begitu juga Luis, tidak bisa berbuat apapun.


"Selamat tinggal semuanya, cung Kakek pilang ya."


Ucap Pimpinan Hanji, ia langsung menutup matanya dengan tenang.


Semua orang panik, saat melihat Pimpinan Hanji mulai menutup matanya, untuk selama-lamanya.


"Kakek!" panggil Luis.


"Kakek, bangun! Jangan tinggalkan Luis!" teriak Luis yang seperti anak kecil.


Tangis mereka pun pecah, begitu juga Pamela, seperti mimpi baginya.


Perlahan Pamela mendekati Pimpinan Hanji, ia langsung memegang tangannya dengan erat.


"Kakek, kau ingar denganku. Kau berjanji akan makan cilor setelah kau sembuh, tapi kenapa sekarang berbeda? Kenapa kau meninggalkan kami semua, kau berbohong denganku," ucap Pamela, meneteskan air matanya.


Semua orang sedang berduka atas meninggal dunia, Pimpinan Hanji. Kabar itu ditutup rapat-rapat oleh Luis, ia tidak ingin semua orang, mengetahui kematian Kakeknya.


Upacara pemakaman telah berlangsung, hanya beberapa orang yang menghadiri acara pemakanan Pimpinan Hanji.


Luis terlihat diam seribu bahasa, ia menatap batu nisan yang bertuliskan Hanji. Kemudian, membuatnya langsung pergi meninggalkan prmakanan itu.


"Aku ingin, perketat penjagaan makam Kakekku, aku tidak mengizinkan siapapun untuk masuk kedalam," perintah Luis.

__ADS_1


"Baik Tuan," ucap Pak Adit.


Luis berjalan masuk kedalam mobil, diikuti oleh Pamela yang menghadiri pemakanan Pimpinan Hanji.


Didalam mobil.


"Kita akan pulang kemana?" tanya Pamela.


"Sementara, kau harus tinggal dirumah Kakek. Aku tidak mau rumah Kakek kosong begitu saja," jawabnya tanpa menatap Pamela.


Pamela yang mendengar jawaban dari Luis, agak sedikit ketus. Membuatnya hanya menganggukan kepalanya.


Mobil mewah, itu masuk ke dalam rumah utama Almarhum Pimpinan Hanji.


Luis dan Pamela keluar dari dalam mobil, Pamela langsung berjalan menuju kamarnya, ia terlihat sangat lelah, karena semalaman berjaga disamping Almarhum Pimpinan Hanji.


Pelayan, langsung mengarahkan. Kemana Pamela harus beristirahat.


Kamar itu terlihat sangat luas sekali, terpasang fotonya dan Luis terlihat begitu mesra, membuat Pamela hanya bisa tersenyum tipis.


"Pasangan yang palsu," gumam Pamela.


"Baiklah, terima kasih," ucap Pamela.


Pelayan itu pergi meninggalkan Pamela, barulah Pamela melepaskan selendangnya dan berniat akan merebahkan tubuhnya ke ranjang.


Namun, niatnya langsung ia urungkan. Karena ada yang dengan lancang membuka pintu kamarnya.


Cekrek.


Suara itu mengagetkan Pamela, ia menoleh ke arah sumber suara.


"Luis," lirih Pamela.


"Kenapa kau ada dikamarku?" tanya Luis.


"Tadi, pelayan mengantarkanku masuk kedalam kamar ini, aku bahkan tidak tahu, jika kamar ini milikmu," jawabnya dengan sangat polos.

__ADS_1


Luis langsung duduk disofa, tatapannya terlihat sangat lelah.membuat Pamela pun merasa iva dengan dirinya.


"Kau pasti lelah, beristirahatlah," ucap Pamela.


Mendengar penuturan dari Pamela, Luis langsung mengangkat kepalanya menatap Pamela.


"Jangan katakan jika kau hanya kasian denganku," jawabnya terdengar sangat ketus.


'Belagu sekali dia, aku ini kasian karena kau sedang berdua. Bukan ada maksud lain, dasar! Pria aneh!' gumamku dalam hati.


Pemala terus mengumpat dalam hati, ia ingin keluar dari kamar itu, tetapi rumah itu terlalu besar dan ia bingung jika keluar dari kamar, ia harus kemana dan tidur dimana.


Pamela sudah sangat lelah, ia ingin sekali merebahkan tubuhnya.


"Aku harus tidur dimana?" tanyaku.


"Kau tidur dikamar sebelah," jawab Luis.


Pamela menoleh ke setiao sudut kamar Luis.


"Sebelah mana? Apa disini ada pintu doraemon?" tanyaku.


Luis merasa kesal, karena Pamela terus-terus berisik, membuatnya tidak nyenyak untuk memejamkan matanya.


"Brisik!" seru Luis.


Luis membuka matanya, ia menatap tajam Pamela. Bukanya takut, justru malah Pamela kembali menatapnya dengan tajam.


"Kau lihat, pintu dekat televisi. Masuk saja kesana," jelasnya.


Pamela langsung berjalan menuju televisi itu, ia tidak melihat ada pintu di sekitarnya.


Pamela berusaha mencarinya, tetapi ia tidak menemukan apapun, membuatnya putus asa.


"Apa aku sedang di kerjai olehnya, mana ada pintu disini," ucap Pamela.


"Dasar pria aneh."

__ADS_1


"Awas kau ya."


Bersambung....


__ADS_2