
Dokter Arif langsung berjalan menuju ruangannya, ia merasa gagal dalam menjalankam operasi kedua, sebagian perawat dan Dokter yang ikut dalam operasi itu, langsung mengurus jenazah.
Dokter Anton mengukuti kenapa perginya Dokter Arif, sampai di ruangannya, ia pun masuk ke dalam.
"Dok, maafkan atas kesalahan saya," ucap Dokter Anton.
"Kau tahu, ini kesalahan yang sangat fatal, reputasi kita akan hancur ketika media tahu jika kita melakukan kesalahan di dalam meja operasi," marah Dokter Arif.
"Bukankah, dari awal pasien VIP di rawat oleh Dokter Pamela, bukankah dia yang akan di cari oleh media," ucap Dokter Anton.
Dokter Arif langsung terdiam, seolah mencerna semua yang di katakan Dokter Anton.
"Apa maksudmu?" tanya Dokter Arif.
Dokter Anton tersenyum licik.
"Operasi pertama, semua orang mengetahui jika Dokter Pamela tidak ikut dalam operasi itu, sedangkan operasi kedua Dokter Pamela kita libatkan dalam operasi ini, karena tidak ada yang mengetahui yang sebenarnya, bukan kita memfitnah ya Dok, tetapi kita hanya mencantumkan nama Dokter Pamela yang telah melakukan kelalaian, karena Dokter Pamela sebagai penanggung jawab pasien VIP. Ini akan menyelamatkan kita dari kehancuran Dok," jelas Dokter Anton secara detail.
"Apa tindakanmu tidak berlebihan?" tanya Dokter Arif.
"Tidak ada pilihan lagi Dok, saya tidak mau keluar dari rumah sakit ini dengan catatan yang buruk, kita sepakati bersama, kita harus tutup mulut kita rapat-rapat," bisik Dokter Anton.
Dokter Arif pun terdiam menatap Dokter Anton, ia seperti di dalam kebimbangan.
"Akan aku pikirkan," ucap Dokter arif.
Dokter Anton pun keluar dari ruangan Dokter Arif, ia terkejut melihat Dokter Zen sudah berdiri dengan melipat kedua tangannya.
"Siapa lagi yang akan menjadi korban selanjutnya?" tanya Dokter Zen.
Wajah Dokter Anton terlihat sangat panik.
"Akui saja kesalahanmu, jujurlah pada pasien dan minta maaflah, jangan di perpanjang lagi masalah seperti ini, jika keluarga pasien tidak terima dan menuntuk rumah sakit ini, itu artinya kau harus enyah dari tempat ini, bukan orang lain yang kau jadikan korban," jelas Dokter Zen.
Tatapan tajam Dokter Zen, membuat Dokter Anton hanya terdiam. Dokter Arif melihat ada Dokter Zen berada di luar ruangan, membuatnya langsung membuka pintu dan keluar.
"Ada apa?" tanya Dokter Arif.
Dokter Zen tersenyum simpel.
"Aku dengar kegaduhan di dalam ruang operasi, apakah operasinya berhasil, ku dengar kalian melakulan operasi tanpa mengikuti peraturan? Apa itu benar," tanya Dokter Zen.
"Kita bisa bicarakan ini baik-baik," jawab Dokter Arif.
__ADS_1
"Aku rasa rumah sakit ini penuh dengan orang yang tidak bertanggung jawab, dan orang yang hanya memiliki jabatan tinggi tapi tidak bisa memanusiaka manusia," cibir Dokter Zen.
Ucapan Dokter Zen mengundang amarah, membuat Dokter Arif pun meluapkan emosinya.
"Hentikan! Sudah ku katakan, jangan ikut campur. Kau pun sama, bertahan di rumah sakit ini karena menyelamatkan anak dari pimpinan Han, jadi apa bedanya kau denganku," sahut Dokter Arif.
Berdebatan sengit yang terlihat semakin panas, membuat Dokter Zen langsung tersenyum.
"Aku yakin keadilan akan segera di tegakkan," ucap Dokter Zen, pergi meninggalkan Dokter Arif dan Dokter Anton.
Begitu juga dengan Dokter Anton, ia langsung berjalan menjauh dari ruangan Dokter Arif.
Dokter Anton langsung masuk ke dalam ruangannya, ia langsung menghunungi sang ayah, untuk meminta bantuan.
Obrolan itu terlihat sangat serius, ekspresi Dokter Anton terlihat sangat cemas.
Di ruang UGD.
Pasien Dewa terus mengalami kejang dan henti jantung, membuat Pamela dan Dokter Kiki terus melakukan RJP, sampai akhirnya mereka kelelahan.
Napas Pamela yang terlihat ngos-ngosan, membuat Luis langsung membantu Pamela.
"Biar aku yang melakukannya," ucap Luis.
"Kita harus gunakan pacu jantung, cepat!" perintah Pamela.
"Siap Dok," sahut Perawat Amel.
Alat pace jantung pun sudah di dekatkan, Perawat Amel langsung menghidupkan alat itu.
"Isi 200 joule, kejutkan!" perintah Pamela, langsung menempelkan alat itu kedada pasien.
Berulang sebanyak 3 kali, tetapi tetap tidak ada perubahan, Pamela langsung melakukan RJP kembali, dan suara monitor pun langsung berbunyi, menandakan pasien sudah meninggal dunia.
Kelelahan yang di bayar dengan kematian, mambuat hati Pamela sangat hancur, ia merasa gagal menyelamatkan pasien, yang memang sudah tidak bisa di selamatkan lagi.
"Kematian pasien pukul 04.30," ucap Perawat Amel.
Pamela masih melakukan RJP sampai keringat membasahi tubuhnya.
"Hentikan Dokter, pasien sudah tidak bisa di selamatkan," ucap Dokter Tio.
Merasa sangat lelah, Pamela pun berhenti melakukan RJP dan turun dari ranjang pasien.
__ADS_1
Dokter Tio langsung memegang tangan Pamela yang merasa sangat terpukul karena kematian pasien dengan riwayat PTPS.
"Hubungi keluarga pasien, dan katakan yang sejujurnya," perintah Dokter Tio, membuat Perawat Amel langsung mengurus kematian pasien yang bernama Dewa.
"Identitas pasien tidak di ketahui Dok, dia korban penyekapan," ucap Perawat Amel.
"Biar saya yang urus semuanya," sahut Luis.
Perawat Amel pun langsung membawa Luis untuk ke meja perawat, untuk menandatangani berkas keperawatan.
Selesai melakukan pemberkasan, ia mencari keberadaan Pamela, tetapi tidak menemukannya. Ternyata Pamela sedang duduk terdiam di kursi tunggu, ia terlihat murung dengan wajah yang sangat kusut.
"Aku tidak akan menuntutmu," ucap Luis, duduk di samping Pamela.
Pamela menoleh ke arah Luis, yang duduk di sampingnya.
"Ini pertama kalinya aku melihat pasien mati di tanganku, aku kecewa dengan diriku sendiri, tidak bisa menjadi Doktee yang baik," ujar Pamela.
"Jangan menyalahkan dirimu, semua pernah buat salah," ucap Luis.
Kematian pasien VIP sudah menyebar keseluruh media, nama Dokter Pamela menjadi sorotan media. Berita terhangat di pagi hari, nama Pamela Deviana terpampang nyata di stasium TV sebagai Dokter yang melakukan mal praktek di Rumah Sakit Utama Medika.
Bramasta yang setiap pagi selalu menyalakan televisi dan minum teh hangat, kali ini ia mendengar nama putrinya sedang di perbincangkan di seluruh media.
Bramasta menyimal setiap berita yang beredar, kali ini ia sangat terkejut jika putrinya melakulan mal ptaktik.
"Sayang! Apa kau sudah mendengar berita pagi ini?" tanya Sherlin.
Bramasta menunjukan tangannya ke arah siaran televisi yang sedang berlangsung.
"Bagaimana ini, kenapa dia bisa seceroboh ini," ucap Sherlin dengan panik.
"Biarkan saja, dia tidak melibatkan kita, tidak ada yang mengetahui jika Pamela adalah putri kita," ucap Bramasta, membuat Sherlin langsung terdiam menatap tajam ke arah suaminya.
"Putri kita sedang dalam masalah besar, karirnya akan hancur dalam waktu dekat, apa kau tidak ada rasa belas kasihan?" tanya Sherlin.
"Itu lah akibatnya, jika tidak mematuhiku," ujar Bramasta.
Sherlin sangat terkejut dengan jawaban dari Bramasta, ia tidak menyangka suaminya akan mengatakan hal sekeji itu.
Beberapa awak media, langsung meliput berita terhangat di Rumah Sakit Utama Medika, Pamela yang tidak tahu apa-apa merasa bingung dengan berita yang beredar.
"Ada apa ini?"
__ADS_1
BERSAMBUNG....