Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Mulai siuman


__ADS_3

Dokter Feni, sangat kejut saat Dokter Morgan memergoki dirinya sedang mengintip Dokter Pamela.


"Kau sedang apa?" tanya Dokter Morgan.


Dokter Feni, teelihat gugup. Ia berusaha mencari alasan agar tidak dicurigai oleh Dokter Morgan.


"Aku sedang mencari botol minumku, tidak sengaja melihat mereka sedang duduk," jawab Dokter Feni.


"Apa sudah ketemu?" tanya Dokter Morgan.


"Belom, aku mau cari di ruang staf. Aku rasa aku lupa meletakannya dimana," jawab Dokter Feni.


"Baiklah, "ucap Dokter Morgan.


Dokter Feni pun akhirnya pergu dengan terburu-buru, menjauh dari hadapan Dokter Morgan.


"Aneh sekali dia," gerutu Dokter Morgan.


Tak sengaja Dokter Morgan melihat ke arah Pamela yang sedang bercerita dengan salah satu pasien korban kebakaran.


"Apa mereka keluarga Dokter Pamela?" tanya Dokter Morgan.


Dokter Morgan pun akhirnya mendekati Pamela.


"Kau disini rupanya," ucap Dokter Morgan.


Suara itu membuat mereka yang sedang asik mengobrol pun langsung terdiam dan menoleh ke arah sumber suara.


"Apa aku mengganggu kalian, kalo begitu maafkan aku," ucap Dokter Morgan langssung pergi meninggalkan Pamela.


Nek Marlin yang merasa tidak enak hati dengan Dokter Morgan, langsung menyautinya.


"Bergabunglah, apa kau temannya Dokter Pamela!" sahut Nek Marlin.


Langkah kaki Morgan terhenti, saat mendengar suara itu.


"Benar Nek, aku teman kerjanya Dokter Pamela," ucap Dokter Morgan.


"Senang bertemu denganmu Nek," sapa Dokter Morgan.


"Baiklah, senang juga bertemu denganmu," kata Nek Marlin.


Mereka saling sapa, pasien mulai berdatangan membuat Dokter Morgan dan Dokter Pamela harus ke ruang UGD.


"Nek, ayok keruanganku. Kaliam harus beristirahat," ucap Pamela.


"Tidak perlu, biar nanti Nenek ke ruangan Bagas di rawat," ucap Nek Marlin.


"Baiklah, jika itu yang Nenek mau, aku harus ke UGD," ucap Pamela, langsung pergi meninggalkan Nek Marlin dan Kety begitu saja.


Pamela dengan cepat menangani pasien dengan berbagai macam gejala.


Sampai akhirnya waktu menunjukan sore hari, Pamela langsung menemui Nek Marlin.


"Nek maafkan aku, ada pasien darurat yang harus di operasi, jadi aku yang mengoprasinya," ucap Pamela.


"Tidak apa-apa, bagaimana dengan Bagas. Apa dia bisa pulang hari ini?" tanya Nek Marlin.


"Aku periksa rekam mediknya terlebih dahulu Nek," jawab Pamela.

__ADS_1


Pamela langsung memeriksa rekam medik milik Bagas, merasa semua pemeriksaannya normal dan mulai membaik, Bagas pun boleh di pulangkan.


Pamela menghampiri Bagas.


"Kau boleh pulang bersama Kety," ucap Pamela.


Dengan girangnya, Bagas langsung tersenyum.


"Benarkah," tanya Bagas.


Pamela langsung menganggukan kepalanya.


"Terima kasih Kak, kau sangat baik padaku," ucap Bagas.


"Kak Pamela mengizinkan Bagas tinggal bersama kita?" tanya Kety.


"Tentu saja, selesai pekerjaan Kakak dirumah sakit, Kakak akan daftarkan Bagas agar bisa satu sekolahan denganmu," jawab Pamela.


"Apa aku bermimpi?" tanya Kety.


"Coba sini Nenek cubit pipimu," jawan Nek Marlin.


Kety dicubit oleh Nek Marlin cukup keras, membuatnya langsung meringis kesakitan.


"Aduh, sakit Nek," ucap Kety.


"Itu artinya kau tidak bermimpi," ucap Nek Marlin sambil tertawa.


Pamela pun tertawa, melihat tingkah Kety.


Kety memegang pipinya yang sakit karena di cubit oleh Nek Marlin.


"Hati-hati di jalan Nek, jika Nenek capek. Belilah makanan di luar saja," pesan Pamela.


"Kau ini meragukan Nenek, Nenek masih sanggup untuk memasak makanan yang lezat," ucap Nek Marlin.


"Baiklah, aku percaya tenaga Nenek seperti benteng," kata Pamela dengan menahan ketawa.


Pamela pun mengantarkan Nek Marlin kedepan rumah sakit, sampai akhirnya Nek Marli menaiki taksi online.


"Hati-hati di jalan Nek, sampai bertemu nanti jika Pimpinan sudah sadarkan diri," ucap Pamela.


"Kau jaga dirimu baik-baik, makanlah teratur kau tampak kurus dan pucat," kata Nek Marlin.


"Baiklah, aku akan banyak makan," ucap Pemala.


"Kalian hati-hati ya, kalian harus nurut apa kata Nenek," pesan Pamela kepada Kety dan Bagas.


Kedua anak itu menganggukan kepalanya.


Taksi online pun melaju meninggalkan rumah sakit. Dari lantai atas dua padang mata telah menatap Pamela yang berada di depan pintu masuk rumah sakit.


"Aku rasa mereka adalah anak dari korban perdagangan manusia," ucap Luis.


Luis langsung menelpon seseorang yang terus mencari keberadaan Rozak yang tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi.


Di dalam telpon, Luis mengatakan. "Cari pria itu sampai ketemu,"


Suara itu terdengar penuh dengan penekanan, seolah Luis sedang sangat marah dengan pria yang bernama Rozak.

__ADS_1


Ternyata Rozak telah menipu banyak perusahaan besar yang bekerja sama dengannya.


Luis yang sudah dari awal mengetahui semua itu, langsung bertindak hati-hati karena ia ingin mendekatinya.


Semua upacaya sudah di lakukan Luis secara rapih, sehingga satu persatu kejahatan Rozak telah terbongkar tanpa menuduh siapapun. Permainan Luis sangatlah rapih.


"Permisi," ucap Asisten Jemi.


"Ada apa?" tanya Luis.


"Ada berkas yang harus anda tanda tangani Tuan,"Jawab Asisten Jemi.


"Baiklah," ucap Luis.


Luis langsug menandatangani semua berkas yang dibawa oleh asisten Jemi.


"Apa kau bisa menghubungi Peimel?" tanya Luis.


"Maafkan saya Tuan, saya kesulitan menghubungi dan mencari keberadaan DJ Peimel, dia seperti pergi tanpa jejak," jawab Asisten Jemi.


Sejenak Luis berfikir tentang DJ misterius yang sempat ia temui di club miliknya.


'Siapa dia sebenarnya?' gumam Luis dalam hati.


Luis masih terus memikirkan Peimel, ia sangat penasaran dengannya, karena Peimel sangat berbeda tidak seperti wanita yang selama ini ia temui.


...


Pamela memeriksa Pimpinan Hanji, ia terus menekan kuku Pimpinan Hanji akan merespon. Berulang kali Pamela melakukannya, tetapi tetap saja tidak mendapatkan respon apapun.


"Pimpinan, operasinya berjalan dengan lancar, kenapa Pimpinan belom juga sadarkan diri. Apa Pimpinan lupa untuk bangun?" tanya Pamela.


Sambil menekan jari Pimpinan Hanji, Pamela terus mengoceh sampai akhirnya tangan Pimpinan Hanji berkerak.


Pamela sangat terkejut dan langsung menghubungi Dokter Boy.


Dokter Boy yang mendapat kabar jika Pimpinan Hanji sadarkan diri, langsung berlari menuju ruang ICU.


"Bagaimana keadaan Pimpinan?"tanya Dokter Boy.


"Saat aku menekan tangannya, tiba-tiba ia meresponnya Dok, aku rasa Pimpinan mulai merasakan sakit saat kukunya di tekan," jawab Pamela.


Dokter Boy langsung memeriksa kondisi Pimpinan Hanji secara rinci. Melihat kondisi Pimpinan yang mulai membaik, membuat Dokter Boy bernapas lega.


Saat Dokter Boy, sedang memeriksa kondisi Pimpinan Hanji. Pamela langsung memberitahu kenapa Luis dan semua team yang ikut dalam operasi Pimpinan.


Semua team yang menerima pesan dari Pamela langsung berlarian menuju ruang ICU, termasuk Dokter Morgan yang sedang berbincang dengan Dokter Feni.


Dokter Morgan langsung berlari menuju ruang ICU.


"Ada apa?" tanya Dokter Feni.


"Pimpinan muai siuman," jawab Dokter Morgan.


Dokter Feni yang mendegar jawaban itu langsung ikut Dokter Morgan menuju ruang ICU.


Semua orang berkumpul begitu juga dengan Luis.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2