
Pagi pun tiba.
Pamela masih tertidur lelap, ia tidak mendengar suara ponselnya berdering terus menerus. Membuat Nek Marlin yang mendengar suara ponsel berderingpun langsung mencari sumber suara itu.
Melihat ponsel Pamela yang berdering, Nek Marlin pun akhirnya menganggkatnya.
Nek Marlin: "Hallo."
Luis: "Bersiaplah, akan aku jemput."
Telpon itu langsung dimatikan oleh Luis, membuat Nek Marlin merasa bingung.
"Anak jaman sekarang tidak ada yang sopan, apa dia tidak tahu, jika yang mengangkat telpon ini adalah Neneknya," gerutu Nek Marlin.
Nek Marlin bejalan menuju kamar Pamala, ia melihat pintunya tidak terkunci, membuat Nek Marlin langsung masuk.
"Ya ampun, jam segini dia belom juga bangun," ucap Nek Marlin.
"Hay. Pamela! Bangun! Pacarmu menyuruhmu bersiap-siap," panggil Nek Marlin.
Pamela seketika langsung membuka matanya.
"Nenek!" panggil Pamela dengan lirih.
"Ada apa?" tanyaku.
"Tadi si manusia beruang menelponmu, dia mengatakan jika kau harus bersiap-siap, karena akan dia jemput," jawab Nek Marlin.
Pamela menatap langsung melebarkan matanya.
"Nenek! Kenapa diangkat," ucap Pamela.
"Ya Nenek pikir itu temanmu, karena namanya sepertu binatang," ucap Nek Marlin.
Pamela langsung membersihkan dirinya, ia langsung merias setipis mungkin dan memakai pakaian casual.
Tak lama suara klakson mobil Luis berbunyi, membuat Pamela langsung keluar.
"Aku berangkat Nek!" pamit Pamela.
"Hati-hati," sahut Nek Marlin.
Pamela masuk ke dalam mobil Luis.
"Ada apa menyuruhku bersiap-siap, sepagi ini?" tanya Pamela.
"Fiting baju pengantin," jawab Luis.
"Secepat itu! Astaga, kita bahkan tidak ada lamaran," ucap Pamela.
"Apa kau ingin ada lamaran?" tanya Luis.
Pamela menatap Luis.
"Kau ini tidak ada inisiatif sama sekali, sudah laj terserah kau saja," jawab Pamela.
"Selesai fiting baju, kita harus menemui orang tuamu," perintah Luis.
"Kenapa kau yang mengatur?" tanya Pamela.
"Jika kau tidak menuruti semua perintahku, ku pastikan kau akan di incar oleh mafia yang bernama Rozak," jawab Luis.
"Mudah sekali kau mengancamku! Aku tidak takut," ucap Pamela.
"Kau tidak akan terluka, tapi ... adik-adikmu bagaimana nasibnya," ancam Luis.
"Sialan!" kesal Pamela.
Pamela terdiam, saat di perjalanan menuju butik. Pamela melihat ada pedagang nasi gambreng yang sangat menggugah selera.
"Berhentilah! Aku ingin makan nasi gambreng," ucap Pamela.
Seketika mobil Luis berhenti.
"Hah? Nasi gambreng?" tanya Luis.
"Iya, tunggu sebentar," jawab Pamela
__ADS_1
Pamela keluar dari dalam mobil, berjalan menuju warung makan itu.
Pamela memesan menu yang dia sukai, sampai akhirnya ia kembali ke dalam mobil membaqlwa sekantong plastik yang berisi makanan.
"Apa itu?" tanya Luis.
"Kepo, sudah jalankan mobilnya," jawab Pamela.
Pamela membuka nasi bungkus itu, membuat wangi dari gudeg dan sambelnya membuat Luis merasa pusing.
"Baunya sangat menyengat, apa kau sedang memakan ganja?" tanya Luis.
Pamela menatap Luis dengan tatapan yang aneh.
"Mana ada ganja? Ini nasi gambreng khas jogja, memang baunya seperti ini, kau harus mencicipinya. Ini rasanya sangat enak," jawab Pamela.
"Melihat tampilannya saja aku ingin muntah," ucap Luis.
"Sombong sekali kau ya, memangnya kau ini tinggal dimana? Hah! Bisa-bisanya mencium wangi masakan Indonesia saja kamu merasa ingin muntah, aneh sekali," ucap Pamela.
Melihat Pamela makan, Luis pun tiba-tiba penasaran dengan rasanya. Ia melihat Pamela yang sedang mengunyah saja merasa ingin mencobanya, tetapi ia malu jika meminta Pamela untuk menyuapinya.
Luis terus melirik kearah Pamela, membuat Pamela pun menyadari jika dirinya terus diperhatikan.
"Buka mulutmu," perintah Pamela.
"Aku tidak mau," ucap Luis.
"Jangan sok jual mahal, dari pada kau mati penasaran, mending cobain dulu ini. Asli rasanya enak," kata Pamela.
Luis pun akhirnya mau membuka mulutnya.
Pamela langsung menyuapi Luis, saat makanan itu masuk ke dalam mulut Luis, ia pun langsung mengunyahnya.
"Bagaimana? Enak kan?" tanya Pamela.
Luis yang kaget, dengan rasa masakan itu sangat enak. Tapi menurutnya terlalu pedas.
"Enak, tapi ini terlalu pedas," jawab Luis.
"Aku butuh minum," ucap Luis.
"Bagaimana bisa kau makan tanpa minum," jawab Luis.
"Adanya minuman ini, dapet dari nasi bungkus tadi. Apa kau mau?" tanya Pamela.
Tidak ada pilihan lagi, akhirnya Luis meminum air mineral yang berada di dalam plastik.
"Astaga, aku hampir saja mati kehausan," jawab Luis.
"Ternyata kau lebay juga ya?" tanyaku.
"Apa kau tidak melihat aku hampir mati karena menahan rasa pedas? Hah!" jawabnya.
"Mana mungkin, seseorang bisa mati begitu saja hanya karena memakan pedas," ucap Pamela.
Luis terdiam, tidak mau terus berdebat dengan Pamela, akhirnya ia melajukan mobilnya.
Pamela yang merasa makanannya belom abis, membuatnya langsung membungkus makanan itu dan memasukan ke dalam plastik. Luis memperhatikan tingkah Pamela.
"Apa sudah kenyang?" tanya Luis.
"Bukan urusanmu!" jawab kesal Pamela.
Luis pun tambah emosi mendengar jawaban dari Pamela, ia langsung menghentikan mobilnya.
"Turun!" perintah Luis.
Pamela pun terkejut, menatap Luis.
"Apa kau bercanda?" tanya Pamela.
Pamela memperhatikan sekitaran jalan itu, terlihat sepi dan banyak pepohonan.
"Turun ku bilang," jawab Luis.
Pamela langsung keluar dari mobil Luis, ia membanting pintu mobil Luis.
__ADS_1
"Sialan!" umpatnya.
Mobil itu tanpa basa-basi, langsung melaju meninggalkan Pamela yang sedang berdiri mematung.
"Astaga dia meninggalkanku di pinggir jalan, awas kau ya," kesal Pamela.
"Dasar pria aneh!" teriak Pamela.
Luis terus melajukan mobilnya tanpa menghiraukan Pamela.
Pamela langsung memesan taksi online agar segera menuju butik.
Di dalam perjalanan, Pamela dengan rasa kesal pun duduk di belakang sambil menatap jalanan.
Sampailah dibutik.
Pamela masuk ke dalam, ia melihat Luis sudah menunggunya.
Mereka berdua masuk ke dalam tanpa mengatakan sepatah katapun, hanya keheningan yang terasa.
Pelayan toko menyambut mereka dan langsung menyuruh mereka berdua untuk masuk ke dalam ruangan VIP.
"Model gaun yang mana? Yang akan anda kenakan Nyonya?" tanya Pegawai toko.
Pamela diberi katalok, ia langsung memilih model baju pengantin yang sangat elegan dan mewah.
Cukup lama Pamela memilih tak kunjung menemukan gaun yang dia sukai, membuat Luis semakin kesal dengannya.
"Jangan bermain-main, pilihlah dengan cepat!" seru Luis.
Pamela menatap kesal wajah Luis.
"Terserah aku, aku yang mau menggunakan gaun ini, bukan kau," sahut Pamela.
Pamela kembali memilih model gaun, pegawai toko akhirnya memperlihatkan beberapa gaun yang terkesan elegan.
Saat tirai itu terbuka, pegawai toko menunjukan gaun yang sangat limited edition.
Pilihan pertama, Pamela menolak. Lalu berlanjut dipilihan kedua, Pamela kembali menolak. Akhirnya di pilihan ketiga, Pamela berdiri mendekati gaun itu.
Luis terlihat sangat frustasi dengan kelambatan Pamela, ia sampai membuka dasinya dan melonggarkan kancing bajunya.
'Astaga, aku hampir gila jalan dengan wanita gila ini,' gumamnya.
"Aku mau gaun ini mbak," ucap Pamela.
Pegawai toko akhirnya bernapas lega.
Pilihan terakhir pada gaun pengantin yang terlihat sangat elegan dan mewah.
"Aku ingin di makeup sepertu seorang puteri," perintah Pamela.
"Baik Nyonya," ucap pegawai toko.
Terdengar suara yang tak asing, berasal dari perut Pamela, membuat Luis dan pegawai toko itu menatap Pamela.
"Ups, maafkan aku. Aku sedang ada masalah dengan pencernaanku," ucap Pamela tersipu malu.
Pamela langsung menatap sengit kearah Luis.
'Kau sudah mempermalukanku, awas kau ya,' gumamnya.
Selesai memilih gaun dan makeup pengantin, Pamela dan Luis beristirahat diruang VIP.
"Kau ini sangat memalukan," ucap Luis.
"Apa katamu?" tanya Pamela.
"Kau ini sangat memalukan!" jawab Luis dengan lantang.
"Ini semua gara-gara kau! Beraninya kau menurunkan ku dipinggir jalan dan kau mengganggu makanku, wajar jika aku kesal dan kelaparan!" kesal Pamela.
"Suka-suka aku," ucap Luis.
"Kau sangat menyebalkan!" seru Pamela.
__ADS_1
Bersambung...