
Citra langsung memeluk Pamela dengan erat, ia berbisik lirik.
"Kak aku rindu."
Ucapan itu membuat hati Pamela bergetar, membuatnya langsung membalas pelukan Citra.
"Maafkan Kakak ya, selama ini Kakak sibuk bekerja," ucap Pamela.
Pelukan itu cukup lama, membuat salah satu murid melihat Citra yang memeluk seorang DJ yang sangat terkenal.
"Bagaiman kabarmu?" tanya Pamela.
"Kabar ku baik, ada film bagus, kapan kita ke bioskop," jawab Citra.
"Besok jadwal Kakak kosong," ucap Pamela.
"Baiklah, besok Kakak harus mengajakmu bersenang-senang, aku bosan tidak punya teman," kata Citra.
"Bagaimana jika besok Kakak kenalkan teman baru, sepertinya dia sama seperti dirimu, menyukai musik," ucap Pamela.
"Siapa dia? Apa Kakak melupakanku karena dia?" tanya Citra.
"Tidak sayang, jangan salah paham, nanti Kakak akan ceritakan semuanya besok," jawab Pamela.
Citra langsung tersenyum menatap Pamela.
"Janji," ucap Citra, mengulurkan jari kelingkingnya.
Pamela pun tersenyum, lalu membalas uluran tangan Citra.
Mereka berpisah, Pamela langsung pergi meninggalkan Citra yang kembali masuk ke dalam kelas.
Pamela langsung naik ke lantai tiga, untuk menemui Kevin.
Pamela masuk ke dalam ruangan Kevin dan duduk begitu saja.
"Kau lelah?" tanya Kevin.
"Tentu, hari-hari sangat kacau," jawab Pamela.
"Kau menyimpan sesuatu?" tanya Kevin.
Kevin sudah menebak, jika Pamela menyimpan rahasia.
"Aku tidak bisa menutupi semuanya di hadapanmu," jawab Pamela.
"Katakanlah," ucap Kevin.
"Kemarin setelah aku selesai manggung, aku menemui Bos yang bernama Rozak, aku sempat menemuinya ...," ucap Pamela, belom sempat ia melanjutkan ucapannya sudah di potong oleh Kevin.
"Sudah ku peringatkan, jangan meladeni pria hidung belakang disana, mereka kurang ajar semuanya," kesal Kevin.
"Sabar dulu! Aku belom selesai berbicara," geram Pamela.
Kevin langsung terdiam menatap Pamela, ia langsung menarik napas untuk lebih tenang.
"Lanjutkan," ujar Kevin.
"Aku belom sempat berbicara apapun, dia sudah ambruk karena terlalu banyak minum, di situ aku hanya terdiam dan melihatnya di angkat oleh asistennya, lalu aku menemukan kartu identitasnya," jelas Pamela.
Pamela menunjukan kartu identitas Rozak kepada Kevin.
__ADS_1
"Kartu ini terlihat bukan kartu biasa, dari desainnya saja kartu ini memiliki ukiran yang berbeda," ucap Kevin.
"Heleh, hanya kartu saja, di rendam air langsung rusak," kata Pamela.
"Heh, jangan salah, ini kartu hebat. Terkadang setiap mafia akan tunduk dengan seseorang yang memegang kartu ini," jelas Kevin.
Pamela langsung menatap Kevin, mereka saling menatap satu sama lain.
"Mafia."
Suara kompak itu mengingat kejadian mafia yang melakukan perdagangan anak secara ilegal.
"Ini ada hubungannya dengan mereka," ucap Kevin.
"Aku rasa begitu," sahut Pamela.
"Sepertinya kita harus bertindak lebih cepat, sebelum banyak anak yang di culik dan di jual organnya," ucap Kevin.
"Gantian lah, kau yang mencari segalanya, aku sudah menemukan kartu itu, dan akhir-akhir ini aku harus fokus pada kesehatan Pimpinan Hanji, dia akan menjalani operasi minggu depan, jadi ku harus fokus dengannya," jelas Pamela.
"Dia kan mafia kelas kakap, kenapa tidak kau tanyakan saja dengannya," ucap Kevin.
"Aku sudah memikirkannya, tapi melihat kondisi Pimpinan yang sangat melemah, membuatku tak kuasa untuk mengatakan urusan yang lain," ujar Pamela.
"Ya sudah, nanti aku menghubungi Adil, semoga saja dia mau membantuku," ucap Kevin.
"Baiklah, goodluck," ucap Pamela.
Kevin tiba-tiba menatap Pamela.
"Oiya, kenapa kau tidak tanyakan dengan Luis," ucap Kevin, membuat Pamela langsung tersedak.
"Hei ... hati-hati," sambungnya.
"Hampir saja aku mati," ucap Pamela.
"Apa kau ada masalah dengannya?" tanya Kevin.
"Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya, aku terjerat perjanjingan yang sangat konyol," jawab Pamela.
"Apa itu?" tanya Kevin.
"Aku tak kuasa menceritakannya," tanya Pamela.
"Apa kalian saling memiliki rasa?" tanya Kevin.
"Enggak! Enak saja, mana mungkin aku menyukainya," bela Pamela.
Kevin merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Pamela, membuatnya terus menggodanya.
.
.
.
"Aku melihatmu memeluk DJ itu, apa kau kenal?" tanya Iqbal.
"Iya, dia adalah Kakakku," jawab Citra.
Iqbal sangat terkejut dan langsung menatap Citra.
__ADS_1
"Kau serius?" tanya Iqbal.
"Iya, memangnya ada apa?" jawab Citra.
"Dia sangat profesional, bahkan dia tidak pilih kasih saat mengajari kita semua tentang musik, Kakakmu sangat hebat, aku sangat fans dengannya," kagum Iqbal.
"Terima kasih," ucap Citra.
"Kapan-kapan, undang aku ya, main kerumahmu, aku ingi berfoto dengan Kakakmu dan mengunggahnya di media sosial, semua orang akan mengatakan beruntung bisa berfoto dengan seorang DJ terkenal," ucap Iqbal.
"Ya, ya, ya," ucap Citra.
.
.
.
.
Pamela mendapat notifikasi dari ponselnya, ia melihat ada pesan dari Dokter Zen, membuatnya langsung membuka pesan itu.
"Pukul 17.00, temui aku di rumah sakit Radom Medika."
Pesan dari Dokter Zen.
Pamela langsung melihat jam sudah pukul 16.00, membuatnya langsung menghapus riasannya dan mencuci rambutany agar warna rambut pirangnya segera luntur.
Pamela melakukan semuanya di ruangan Kevin yang di dalamnya sangat lengkap.
"Kau mau kemana?" tanya Kevin.
"Aku harus ke rumah sakit Radom Medika," jawab Pamela.
Pamela sembari merias diri menjadi Dokter Pamela, dengan polesan yang naturan, rambut di ikat berwarna hitam.
Merasa penampilannya sudah anggun, tidak jamet lagi, membuat Pamela langsung meninggalkan ruangan Kevin.
Pamela keluar dengan menggunakan maskee berwarna hitam dan ia langsung masuk ke dalam mobilnya.
Pamela melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat cepat, ia melintasi jalanan yang sepi membuat dedaunan yang berserakan dijalanan langsung terbang keangkasa mendapat hentakan dari ban mobil Pamela.
Mobil itu masuk ke area parkiran karyawan, Pamela dengan anggunnya langsung masuk ke dalam rumah sakit Radom Medika.
Dokter Morgan yang selesai merawat pasien, merasa terkejut melihat Pamela berjalan masuk kedalam rumah sakit itu, ia langsung berjalan menuju ruangan Dokter Boy.
"Ada apa dia kemari?" tanya Dokter Morgan.
Dokter Morgan ingin menghentikan langkahnya tetapi, perawat Weni memanggilnya karena ada pasien yang mengeluh ke sakitan. Akhirnya Dokter Morgan mengurungkan niatnya untuk mendekati Pamela.
Dokter Morgan langsung menuju pasian yang ada di ranjang 06, sedang Pamela berjalan terus, sampai akhirnya masuk ke dalam ruangan Dokter Boy.
"Kebetulan kau sudah datang, kita mulai saja rapatnya," ucap Dokter Zen.
"Seminggu lagi kita akan mengadakan operasi pengangkatan kanker yang ada di panggul, terlihat di layar, kondisi kankernya sudah menyebar, membuat saya harus bermusyawara dengan kalian agar kita tidak salah dalam bertindak," jelas Dokter Zen.
"Nanti kita akan angkat bagian panggul dekat dengan tulang ekor, ini sangat beresiko tinggi, ketika gagal dalam operasi ini kemungkinan pasien akan mengalami kelumpuhan," sambung Dokter Zen.
"Jika operasi ini berhasil, maka kita selanjutkan kita akan melakuka kemoterapi kepada pasien, agar mencegah pertumbuhan sel baru," sambung Dokter Zen.
"Baik Dok, sebelum operasi berlangsung, ijinkan saya untuk magang di rumah sakit ini, saya perlu melatih kelenturan tangan saya, minimal saya harus melakukan operasi setiap harinya," usul Pamela.
__ADS_1
"Sudah ku katakan, seperti itu. Kenapa kau tidak mendengarnya?"
BERSAMBUNG....