
Tiba di rumah Nek Marlin, Pamela langsung keluar dari mobil dengan perasaan yang panik. Ia berjalan masuk ke dalam, melihat Nek Marlin sudah tidak sadarkan diri, membuat Pamela langsung memeriksa Nek Marlin.
"Apa yanb terjadi?" tanya Pamela.
"Nenek, sempat pingsan dan ia mengelu nyeri di bagian dada," jawab tetangga samping rumah Nek Marlin.
Merasa kondisi Nek Marlin semakin lemah, Pamela langsung menggendong Nek Marlin masuk ke dalam mobil.
Pamela langsung membawa Nek Marlin kerumah sakit terdekat, dan rumah sakit itu ternyata Rumah Sakit Utama Medika. Tidak ada pilihan lagi untuk Pamela mencari rumah sakit yang lain, melihat kondisi Nek Marlin semakin melemah.
Pamela memasuki gerbang masuk ke UGD, dengan cepat. Pamela menghentikan mobilnya tepat di ruang UGD, ia berteriak agar di dengar oleh petugas yang berjaga.
"Pasien Darurat!" teriak Pamela.
Dengan cepat, perawat yang berjaga langsung keluar membawa brangkar. Mereka terkejut melihat Pamela yang membawa pasien darurat itu.
"Dokter Pamela!" panggil Perawat Ken.
"Bawa pasien ke dalam, dia mengalami sesak napas, tekanan darah 90/70 mHmg, deyut 89 kali per menit, pernapasannya tidak beraturan, pasien pingsan sekitar 20 menit," ucap Dokter Pamela.
"Siap DoK!" ucap Perawat Ken, membawa masuk Nek Marlin ke dalam ruang UGD.
Semua orang terkejut melihat Pamela dengan tampilan yang berbeda, membuat Perawaf dan Dokter Yang berjaga. Menghentikan aktifitasnya, menatap Pamela.
Dokter Anton yang berjaga di malam itu langsung mendekati Pamela dengam gaya yang sangat angkuh.
"Apa kau tidak punya malu, datang kemari?" tanya Dokter Anton.
Pamela tidak memperhatikan Dokter Anton, ia langsung membantu Perawat Ken memindahkan Nek Marlin keranjang pasien.
Dari kejauhan, Dokter Zen pun datang, mendekati pasien nomor bad 16, dan teenyata bad itu tempat Nek Marlin. Ia berhenti melangkah ketika melihat Dokter Pamela ada di ruang UGD.
"Apa yang terjadi pada pasien?" tanya Dokter Zen.
Pamela langsung menjelaskan pasien secara detail, kepada Dokter Zen. Dengan cepat Nek Marlin langsung di tangai dengan cepat, membuat Pamela hanya menunggu di luar tirai. Ia langsung menyelesaikan admimistrasi.
"Aku dengar kau menjadi wanita penghibur di salah satu club malam?" tanya Dokter Anton, membuat Perawat Isni yang membantu menyelesaikan administrasi, langsung menoleh ke arah Pamela.
Pamela hanya tersenyum, tidak menanggapi perkataan Dokter Anton.
"Rupanya kau sudah tuli, kau menjual tubuhmu berapa dolar?" tanya Dokter Anton, membuat Pamela langsung menoleh ke arah Dokter Anton dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Pemale menatap Dokter Anton cukup lama, tidak di duga, ternyata Pamela langsung tersenyum manis.
"Apa kau ingin menikmati tubuhku juga?" tanya balik Pamela, membuat Dokter Anton salah tingkah.
"Tidak sudi! Dasar wanita ******!" umpat Dokter Anton.
"Apa bedanya dengan seorang penjilat," ucap Pamela.
Dokter Anton terlihat sangat marah, saat Pamela mengatakan penjilat, membuatnya merasa tersinggung oleh perkataan Pamela.
Pamela justru mengikuti arah kemana Anton berbicara, semakin ucapannya menyakiti hatinya, semakin suka Pamela membongkar kelicikan Dokter Anton.
Tidak bisa berkata lagi, Dokter Anton langsung pergi meninggalkan Pamela begitu saja. Pamela masih tersenyum menatap Dokter Anton menjauh.
Pamela pun langsung duduk di ruang tunggu, saat Dokter Zen selesai menangani Nek Marlin, ia keluar dari dalam tirai, ia melihat Pamela sedang duduk.
Dokter Zen pun menghampirinya dan duduk di samping Pamela.
"Lama tidak jumpa," sapa Dokter Zen.
Pamela yang sibuk dengan bukunya, langsung menutup buku itu begitu saja, matanya menatap ke arah bad tempat Nek Marlin terbaring.
"Baru beberapa minggu, dan itu belom terlalu lama," jawab Pamela.
Pamela langsung tersenyum, menoleh ke arah Dokter Zen.
"Dokter Zen bisa melihat diriku yang sekarang, apakah aku terlihat buruk? Sedih? Putus asa?" jawab Pamela dengan girang.
"Kau memang hebat, kau mampu melewati masa sulit itu dengan senyuman," ucap Dokter Zen.
"Masalah berita itu ..." ucap Dokter Zen belom sempat ia melanjutkan pembicaraannya, tiba-tiba Pamela langsung memotong pembicaraan itu.
"Jangan bahas masalah itu lagi, nyatanya aku memang tidak bersalah, aku tidak mau membahasnya," ucap Pamela, bangkit dari tempat duduknya.
Pamela langsung mendekati ranjang Nek Marlin, ia duduk di samping Nek Marlin dan memegang tangannya penuh dengan kelembutan, Dokter Zen yang melihat semua itu, langsung meninggal Pamela.
'Aku sangat lega, melihat Nek Marlin baik-baik saja, bertahanlah. Sebentar lagi Nenek akan sembuh dan kita pulang,' gumam Pamela.
....
Citra yang merasa kesepian, karena tidak ada Pamel di sampingnya, membuatnya langsung menelpon.
__ADS_1
Pamela: "Ada apa?"
Citra: "Kakak di mana?"
Pamela: "Aku sedang di rumah sakit, ada kondisi darurat, yang mengharuskan aku untuk tidak pulang. Maafkan kakak ya."
Pamela menjelaskan kepada Citra, alasan dirinya tidak pulang, dan ternyata Citra pun memakluminya.
sambungan telpon pun terputus.
Citra memutuskan untuk istirahat di kamarnya yang terlihat sangat indah dan elegan. Tak lama, matanya sudah terpejam dan tidurnya terlihat sangat terlelap.
....
Menunggu Nek Marlin sadarkan diri, Pamela pun tertidur di kursi, kepalanya menyandar di atas ranjang Nek Marlin, Pamela terlihat sangat kelelahan, ia langsung terpejamkan, tidak menyadari di dala UGD terdapat pasien darurat.
Pasien terus berdatangan, membuat semua Dokter dan Perawat sangat kualahan.
Dokter Anton terlihat sangat kualahan, ia menatap ranjang tempat Pamela memejamkan matanya, terlihat raut wajah sengit Dokter Anton ketika menatap Pamela.
'Dasar Dokter gila! Bukannya membantu malah enak-enak tidur,' batin Anton.
UGD terlihat sangat kacau balau, Dokter Anton hampir saja di pukul oleh pasien yang mengalami luka tusuk akibat berkelahi.
Pasien itu dalam kondisi mabuk, ia terpengaruh menuman alkohol, tiba-tiba tubuhnya bangkit dari tempat tidur dan menatap tajam Dokter Anton.
"Kenapa sangat sakit! Sudah ku katanya pelan-pelan, dasar Doktee bodoh!" kesal Pasien.
Dokter Anton merasa tidak terima dengan perlakuan pasien itu, ia langsung membanting pingset di atas nakas, membuat pasien itu langsung menantang Dokter Anton.
"Jika tidak suka di rawat olehku, maka pulanglah!" marah Dokter Anton.
"O ... jadi seorang Dokter, mengusier pasiennya begitu saja? Ini kesempatan untuk membuatmu di pecat dari rumah sakit ini,"ancam pasien itu.
"Kau pikir siapa, mengancamku begitu saja, hah!" seru Dokter Anton.
Perbedatan Dokter Anton dan pasiennya sangat menegangkan, semua Perawat yang berjaga dan Dokter lainnya tidak ada yang berani melerai pertikaian mereka.
Terlalu kesal, pasien itu akhirnya memukul Dokter Anton dengan satu kali pukulan, Dokter Anton pun ambruk ke bawah, dengan darah keluar dari sudut bibirnya.
Dokter Anton mengelap darah itu dan langsung bangkit lagi, ia berniat akan memukul pasien tapi ... tangannya di tahan oleh seseorang yang terlihat cukup kuat untuk diajak berkelahi.
__ADS_1
Anton merasa sangat kesal, kerena niatnya di cegah oleh seseorang. Membuatnya langsung menoleh.
BERSAMBUNG...