
Dunia malam yang dipenuhi dengan kerlap-kerlip lampu diskotik yang membuat pandangan setiap orang menjadi buram. Mereka tidak bisa memperhatikan dengan jelas setiap orang datang keclub.
Pamela masuk kedalam, dan langsung menyalakan leptopnya.
Musik miliknya mulai dimainkan oleh Pamela, semua orang yang ada di dalam club itu, menikmati penampilan Pamela, begitu juga Luis. Ia terus menatap Pamela.
Luis menunggu Pamela sampai selesai memainkan musiknya. Pamela turun dari panggung dan langsung menggunakan jaketnya.
"Maaf Nona Peimel, Tuan kami ingin menemuimu," ucap Jemi.
"Dimana dia?" tanya Pamela.
Jemi berjalan, diikuti oleh Pamela. Mereka berjalan sampai diruangan tempat Luis berada.
Luis tersenyum melihat Peimel.
Luis memberi kode, agar Jemi keluar dari ruangannya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Luis.
"Kabarku baik, ada apa memanggilku," jawab Pamela.
"Apa kau sudah lupa dengan perjanjian kita? Aku sudah melakukan kesepakatan denganmu, apa kau tidak ingat?" tanya Luis.
"Aku pikir, Tuan Luis bercanda saat itu, jadi aku langsung mengiyakan," jawab Peimel.
Luis langsung menarik tangan Pamela, membuat Pamela langsung ketarik kearah Luis. Tangannya menyentuh dada bidang Luis.
"Apa kau mu Tuan?" tanya Pamela.
Luis tersenyum, ia terus menatap Peimel. Luis memperhatikan wajah Peimel, membuat Peimel merasa kurang nyaman.
Seketika tangannya menyentuh rambut Peimel, dan menarik rambut Peimel dengan sangat kuat sampai akhirnya wuik yang dikenakan Peimel terlepas.
Rambut indah Peimel yang asli akhirnya terlihat dengan jelas. Hal ini membuat Peimel sangat marah dengan Luis.
__ADS_1
"Apa-apa ini!" kesal Peimel.
"Kenapa kau kesal! Harus nya aku yang kesal! Kau beraninya membohongiku dan berpura-pura menjadi Peimel, apa maksudmu!" tanya Luis.
Pamela terdiam menatap Luis, yang mulai marah dengan dirinya.
"Apa maksudmu dengan semua kejadian ini? Apa kau ingin membodohiku dengan caramu yang norak seperti ini, Hah!" seru Luis.
"Aki tidak bermaksud untuk menipumu, aku hanya ingin menutupi identitasku sebagai seorang dokter, aku juga punya hak dengam hobiku, apa aku salah!" jawab Pamela.
"Tetap saja, kau pembohong," ucap Luis.
Pamela tersenyum.
"Kau akan berfikir keadaan ini sebagai penghilang penat saat kau menjadi diriku," ucap Luis.
Mereka saling menatap dengan tatapan yang sangat mematikan, keduanya terlihat seperti musuh bebuyutan yang akan perang hari ini juga.
Luis langsung mundur dari hadapan Pamela, ia berdiri dan menatap layar televisi.
"Kakek menginginkan aku berkencan denganmu," ucap Luis.
"Memangnya aku ini wanita apa!" kesal Pamela.
"Kenapa kau tiba-tiba, Marah? Aku belom selesai melanjutkan ucapanku," ucap Luis.
"Intinya Kakek ingin aku menikahimu! Tapi aku belom memberi jawaban apapun," ucap Luis.
Mata Pamela langsung melebar, ia sangat terkejud dengan penuturan dari Luis.
"Apa kau serius?" tanya Pamela, dengan tatapan yang mulai kosong.
"Aku serius, tapi kau boleh menolakya, jika kau tidak mau," jawab Luis.
'Mana mungkin aku menolaknya, astaga. Kenapa aku harus terlibat lagi dengan Pimpinan Hanji, aku pikir setelah operasi, semuanya selesai. Ternyata dugaanku salah, aku harus bagaimana ini?' gumam Pamela dalam hati.
__ADS_1
"Lalu kapan kita akan menyusun rencana ini?" tanya Luis.
"Apa! Renacana? Apa maksudmu? Apa kau akan membohongi Pimpinan?" sahut Pamela.
"Kita akan menikah, tapi tidak sungguhan, kita akan berpura-pura baik didepan Kakek saja. selebihnya terserah kau, kita hidup masing-masing," jelas Luis.
"Rencanamu sangat berat, aku perlu memikirkannya matang-matang," ucap Pamela.
"Baiklah, aku akan menunggu jawaban darimu," ucap Luis.
Pamela terdiam membisu, ia tak sanggup mengatakan apapun. Sampai akhirnya perdebatan dengan Luis pun selesai, membuat Pamela langsung pergi meninggalkan club itu.
Pamela langsung melajukan mobilnya, menuju gedung Ziny Muisc.
"Kak! Ini gawat!" seru Pamela.
Suara Pamela sangat lantang, membuat Kevin yang sedang memakan ramen, langsung mengurungka niatnya.
"Ada apa?" tanya Kevin.
"Apa kau tahu, Luis mengajakku menikah," jawab Pamela.
Seketika, mata Kevin menatap tajam Pamela.
"Apa kau serius?" tanya Kevin.
"Aku harus bagaimana? Aku pikir urusanku dengan Pimpinan setelah operasunya berhasil akan selesai begitu saja, tapi ... malah semakin rumit," jawab Pamela.
Pamela yang langsung duduk di sofa, baru menyadari bahwa Kevin sedang memegang semangkuk ramen ditangannya.
"Apa itu ramen?" tanya Pamela.
Kevin langsung terdiam dan panik, ia bingung harus beralasan apa tentang ramen yang dia makan.
"Baunya sangat enak, coba ku lihat," ucap Pamela.
__ADS_1
"Kevin!"
Bersambung.