
Langkah kaki Pamela mendekat ke arah Bramasta.
"Aku harap ayah membatalkan kerja sama dengan pria ini," ucap Pamela.
Pamela menunjukan foro Rozak.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Bramasta.
"Aku hanya ingin Ayah tidak berurusam dengan orang ini," jawab Pamela.
Bramasta langsung melipat tangannya, menatap tajam Pamela.
"Kenapa kau terlihat sangat perduli dengan Ayah? Selama ini kau tidak pernah sedikitpun mau berurusan dengan perusahaan? Ada apa? Apa kau iri dengan Ayah, jika Ayah bekerja sama dengannya, bisnis Ayah semakin meningkat? Apa kau iri?" tanya Bramasta.
Tatapan itu membuat suasana semakin tegas, Sherlin tidak mampu mengatakan apapun saat ia melihat wajah Bramastan yang terlihat sangat marah.
"Aku belom bisa mengatakannya sekarang, aku belom punya banyak bukti, tapi percayalah, dia pria yang sangat jahat," jawab Pamela.
Bramasta tertawa, ia beranggapan semua yang dikatakan Pamela adalah lelucon yang tak perlu di dengar.
"Ayah rasa, kau harus mempersiapkan dirimu untuk bergabung dengan perusahaan Ayah, kebetulan Ayah mengeluarkan produk baru yang akan segera di luncurkan bulan depan," ucap Bramasta.
Pamela terlihat sangat kesal dengan Ayahnya sendiri, ia tak mampu mengatakan apapun.
"Sudah aku katakan aku tidak mau!" seru Pamela.
Pamela melangkahkan kakinya keluar dari rumah orang tuanya, tetapi langkahnya langsung terhenti saat Bramasta bersuara kembali.
"Kau harus tahu, Rozak itu pria yang sangat royal, ia mensuport usaha Ayah sehingga bisa membuka cabang di kotanya," ucap Bramasta.
Pamela tak mendengarkan apa yang dikatakan Bramasta, ia terus melangkah keluar.
Pamela langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah orang tuanya. Di dalam rumah, Bramasta masih menatap kepergian Pamela.
"Aku rasa, ada benarnya. Apa yang dikatakan Pamela," ucap Sherlin.
"Aku rasa justru dia malah terhasut oleh ucapan orang lain, dia tidak tahu apa-apa tentang dunia perbisnisan," ujar Bramasta.
"Coba kamu terlusuri terlebih dahulu, sumber kekayaan dari Rozak," ucap Sherlin.
Bramasta langsung menatap wajah sang istri, ia menganggukan kepalanya dan mereka akhirnya kembali ke kamarnya.
Di lantai atas, perdebatan antara Pamela dengan Bramasta, di dengar jelas oleh Citra. Citra menatap lantai dasar yang sudah sangat sunyi.
'Tidak biasanya Kak Pamela mengatakan semua itu, aku rasa ada yang tidak beres,' gumam Citra dalam hati.
Citra kembali ke dalam kamarnya, ia langsung memeriksa komputer mencari identitas pria yang bernama Rozak.
__ADS_1
Saat Citra mengetik nama Rozak, langsung muncul foto Rozak dengan gagahnya, tertulis dibawah foto.
Rozak, seorang pengusaha tersukses yang hampir mengalahkan penjuru dunia, dengan keahliannya dalam berbisnis membuat banyak orang iri dengannya.
Tertulis riwayat pendidikan Rozak yang lulusan dari universitas bergengsi di dunia, membuat semua orang sangat kagum dengan keahliannya.
Citra yang mrmbaca semua riwayat hidup milik Rozak merasa sangat kagum, ia merasa kehidupan Rozak sangatlah sempurna.
"Ini orang hebat sekali," ucap Citra.
Tetapi ada yang membuat Citra merasa aneh, ia langsung memperhatikan jam tangan milik Rozak.
"Astaga, jam tangan ini pernah di pakai artis bollywood, dab sekarang pria ini memakainya, ini sangat keren," kagum Citra.
"Tapi ... kenapa Kak Pamela melarang Ayah untuk bekerja sama dengannya, padahal dia sangatlah keren, aku tidak melihat adanya kecurigaan di dalam dirinya," sambungnya.
Citra mencari sisi yang mencurigakan dari pria yang bernama Rozak, tetapi ia tidak sedikitpun menemukannya. Membuat Citra memilih untuk membersihkan riasanya dan tidur.
Di rumah Pimpinan Hanji.
"Kerja yang bagus, usahakan dia memasuki perangkap kita," pinta Pimpinan Hanji.
"Baiklah Kek," ucap Luis.
Pimpinan Hanji dengan kursi rodanya kembali ke kamar untuk istirahat.
Pimpinan Hanji menghentikan kursu rodanya, ia lalu tersenyum di hadapan Luis.
"Dia wanita yang istimewa, sudah Kakek katakan. Kau akan jatuh hati dengannya," jawab Pimpinan Hanji, setengah menggodanya.
"Apa yang Kakek bicarakan? Dalam waktu dekat aku akan membawa calonku, memenui Kakek," kata Luis.
"Baguslah, jadi Kakek tidak akan menjodohkanmu dengan Pamela," ucap Pimpinan Hanji.
Pimpinan Hanji terus memandangi Luis yang terus berjalan meninggalkan rumahnya.
"Dia sangat menggemaskan, aku senang jika ada yang menyukainya. Tapi aku lebih senang jika wanita itu adalah Pamela," ucap Pimpinan Hanji.
Asisten pribadinya hanya bisa terdiam, saat mendengar impian kecil Pimpinan Hanji.
Pimpinan Hanji langsung menuju kamarnya untuk istirahat, sedangkan Luis. Ia masuk ke dalam mobil dengan perasaan kesal karena Kakeknya menanyakan tentang calonnya.
Luis memeriksa ponselnya, ia lupa menanyakan nomor ponsel wanita yang bernama peimel. Membuatnya semakin kesal, dengan sengaja ia melempas ponselnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
'Sial!"
Batinnya, sambil menyandarkan tubuhnya di kursi belakang.
__ADS_1
Mobil yang membawa Luis langsung melaju meninggalkan rumah Pimpinan Hanji, menuju mansionnya.
Sampai di mansion.
Luis langsung mandi, ia merasa tubuhnya sangat lengket membuatnya langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Luis masih teringat pertemuannya dengan Peimel waktu itu, ia langsung menghubungi manager yang mengatur jadwal manggungnya para DJ.
Suara telpon pun berdering, membuat Kevin langsung memeriksa siapa tengah malam yang menelponnya.
Luis: "Apa Peimel manggung malam ini?"
Kevin langsung terdiam, ia sangat gugup saat mendengar suara Luis, menanyakan Pamela. Tanpa diberitahu Pamela, Kevin berpura-pura tahu tentang mereka.
Kevin: "Dia tidak manggung Tuan, untuk seminggu ini karena ada urusan mendadak, memangnya ada apa Tuan?"
Luis: "Baiklah, bisakah aku meminta nomor ponselnya?"
Kevin merasa bimbang, dengan permintaan Luis, tak ingin membuat Luis curiga. Akhirnya ia memberikan nomor ponsel milik Pamela. Untungnya Pamela memiliki dua nomor ponsel yang semuanya aktif.
Setelah Kevin memberi nomor ponsel milik Pamela, telpon pun terputus.
Kevin yang merasa khawatir, ia langsung menghubungi Pamela, tetapi nomornya tidak aktif membuat Kevin semakin khawatir.
"Aduh, kemana si bocah tengil ini?"
Tanya Kevin terlihat sangat khawatir.
Kevin berkali-kali menghubungi Pamela, akhirnya Pamela mengangkat.
Kevin langsung mengatakan semuanya, dan membuat Pamela langsung mengiyakan semuanya.
Sabdiwara mulai di mulai.
Luis yang sudah mendapat nomor ponsel Peimel, ia tidak langsung menelponnya, melainkan hanya memandangi nomor itu di ponselnya.
Luis langsung meletakan ponseknya dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Tak lama ia langsung terlelap dalam tidurnya, berbeda dengan Pamela yang sudah siap menunggu chat atau telpon dari Luis, tapi ia tidak kunjung mendapatkan notifikasi di ponselnya, membuat Pamela akhirnya ketiduran.
Malam yang terlihat sangat menegangkan, penuh dramatika yang membuat semua orang terlibat didalam peran yang sangat melelahkan, kadang mereka memilih malam untuk melakukan aktivitasnya, tetapi ... tubuh terkadang meminta haknya untuk beristirahat, ada yang bisa memahami dirinya sendiri ada pula yang tidak bisa memahaminya.
Pagi itu, Pamela seperti biasa, ia kesiangan untuk berangkat kerja di Rumah Sakit Radom Medika.
"Dokter baru kok telat!"
BERSAMBUBG.
__ADS_1