
Mereka berdua melangkah menuju ruangan Kakek Hanji yang sedang duduk.
"Aku datang Kek," ucap Luis
Pimpinan Hanji menoleh ke arah Luis, ia melihat Pamela berdiri disampingnya.
"Bagaimana kabarmh?" tanya Pimpina Hanji.
"Kabarku baik Pak, bagaimana dengan Pimpinan sendiri? Apa ada ketidaknyamanan pasca operasi?" jawab Pamela.
"Tidak, aku merasa baikan. Hanya saja napasku terasa sangat berat. Mungkin umurku yang sudah senja, membuatku harus mengistirahatkan tubuhku," jelas Pimpinan Hanji.
"Kakek!" panggil Luis.
Pimpina Hanji tersenyum, ia melihat Luis yang sangat takut akan kehilangan dirinya.
"Kau jangan khawatir, Kakek hanya lelah saja. Kakek tidak akan mati begitu saja," ucap Pimpina Hanji.
"Bukan kah kau janji akan mengenalkan pacarmu kepada Kakek?" tanya Pimpinan Hanji.
Luis langsung meraih tangan Pamela, tangan Pamela digenggam sangat erat, membuat Pamela sangat terkejut dengan tingkah Luis.
"Dia pacarku Kek, aku akan menikahinya dalam waktu dekat," jawab Luis.
Pamela langsung menatao tajam Luis, ia ingin sekali memukul Luis. Tetapi ia tidak bisa melakukan itu semua karena tangannya digenggam erat olehnya.
'Apa aku harus sepasrah ini? Dasar semua orang pada gila, seenaknya mengatakan nikah,' gumam Pamela.
"Jadi selama ini kalian pacaran?" tanya Pimpinan Hanji.
Luis langsung merangkul Pamela dengan satu tangan, ia merapatkan tubuh Pamela agar lebih dekat dengannya.
Dengan terpaksa, Pamela bergeser lebih dekat dengan Luis.
"Iya dong Kek," jawab Luis.
"Benarkan sayang, kita memang berpacaran hanya sangat sembunyi-sembunyi," tanya Luis, mengedipkan satu mata kepada Pamela.
"Hehe, iya Pak," jawab Pamela.
'Bisa-bisanya dia berbohong dengan Pimpinan, aku muak dengan semua ini. Oh ibu peri ku mohon bawa aku kekayangan,' gumam Pamela dalam hati.
"Kapan kalian akan bertunangan?" tanya Pimpinan Hanji.
"Kurasa, kita langsung menikah saja Kek, itu lebih baik,' jawab Luis.
Seketika Pimpinan Hanji langsung tertawa dengan lantang.
"Apa kau memang sudah tidak tahan lagi?" tanya Pimpinan Hanji.
Luis hanya tersenyum kecut, ia bahkan merasa menyesal mengatak itu semua.
'Aku rasa dia berbohong, Pimpinan tidak terlihat memaksanya untuk menikah? Aku rasa dia sedang mengerjaiku,' gumam Pamela.
"Apa Pimpinan sudah makan?" tanya Pamela, mengalihkan pembahasan.
__ADS_1
"Belom, aku menunggumu. Kau berjanji akan membawakanku cilor," jawab Pimpinan Hanji.
"Saat ini, anda tidak diperbolehkan makan cilor diluar sana, karena luka jaitan Pimpinan belom sepenuhnya kering, jadi bersabarlah," jelas Pamela.
"Aku akan kalah debat, jika dengan Dokter satu ini," kata Pimpinan.
Mereka semua, berjalan menuju meja makan untuk makan siang.
Pimpinan Hanji kembali membahas tentang pernikahan.
"Kakek menyuruh Luis untuk segera menikah, karena umur Kakek sudah sangat tua. Hanya Luis yang bisa menghandle semuanya, cuman Luis yang Kakek punya, semenjak kepergian orang tua Luis. Rumah terasa sangat sepi, Kakek ingin rumah sebesar ini terdengar suara cicit atau anak kalian, sebelum Kakek pergi untuk selamanya," jelas Pimpinan Hanji.
Suasana ruang makan seketika menjadi sedih, Pamela yang mendengar curahan isi hati Pimpinan Hanji pun merasa sedih. Entah mendapat dorongan dari mana, tiba-tiba Pamela berkata.
"Iya Pak, saya akan menikah dengan Luis," ucap Pamela, membuag Luis langsung menatapnya.
"Apa kau serius dengan ucapanmu?" tanya Pimpinan Hanji.
Pamela menganggukan kepalanya.
Pimpinan Hanji langsung memanggil asistennya untuk segera mengadakan rapat untuk membahas pernikahan cucu semata wayangnya.
Perintah itu diiyakan oleh Pak Adit.
Acara makan siang pun selesai, waktunya Pimpinan minum obat dan Pamela langsung mengantarkan Pimpinan untuk beristirahat.
Saat Pamela menutup pintu kamar Pimpinan Hanji, dengan terkejut tangan Pamela langsung ditarik oleh Luis dan mereka berdua masuk ke dalam salah satu ruangan yang kedap suara.
Tarikan itu membuat Pamela menyeringai kesakitan.
Pamela menatap Luis dengan heran.
"Kau ini aneh, aku menerima semua ini karena kesepakatan kita. Bukan karena aku ingin mengejekmu dan kasian padamu, tidak ada untungnya untukku," jawab Pamela.
Luis terdiam menatap Pamela.
"Secepatnya kita akan menikah," ucap Luis.
"Oke. Aku punya permintaan," ucap Pamela.
"Apa itu?" tanya Luis.
"Kita harus tidur terpisah, jangan pernah melarangku untuk melakukan keinginanku, aku akan terus bekerja karena aku butuh banyak uang," jawab Pamela.
"Apa kau meragukan kekayaanku?" tanya Luis.
"Kita menikah bukan dasar cinta, kita menikah karena ingin membuat Pimpinan merasa senang," jawab Pamela.
"Lalu ... bagaimana dengan ucapan Kakek tentang cicit, dia sangat berharap hal itu?" tanya Luis.
Pamela menatap Luis.
"Kau terlihat sangat pasrah, bukan kah kau membenciku?" tanya balik Pamela.
Tatapan Luis, seakan penuh arti. Entah apa yang ada didalam hatinya.
__ADS_1
"Lupakan saja. Aku akan segera membuat perjanjian tentang pernikahan kita, hal apa saja yang harus dipatuhi," ucap Luis.
"Baiklah," ucap Pamela, ia langsung keluar dari ruangan itu.
"Nona Pamela!" panggil Pak Adit.
"Iya Pak, ada apa?" tanya Pamela.
Belom sempat Pak Adit menjawab, Luis keluar dari ruangan yang sama.
"Kebetulan ada Tuan Luis, mari ikut saya keruang rapat," ajak Pak Adit.
Mereka berjalan menuju ruang rapat.
"Jadi begini Tuan, Nona, ini pesan dari Pimpinan Hanji, bahwa pernikahan kalian akan diadakan bula depan di hotel bintang 5, acara akan digelar dengan sanga mewah dan meriah, semuanya sudah dipersiapkan oleh team dan tugas Tuan dan Nona hanya tetap sehat," jelas Pak Adit.
"Secepat itu pak?" tanya Pam Adit.
"Benar, Nona. Apa anda keberatan," jawab Pak Adit.
Pamela menggelengkan kepalanya.
Selesai memberitahu Luis dan Pamela, akhirnya Pak Adit meninggalkan mereka berdua.
Pamela menatap Luis.
"Bagaimana ini, kenapa cepat sekali. Ya ampun aku bahkan kesulitan bernapas," ucap Pamela.
"Kau tidak boleh kabur, karena jika kau kabur aku akan memusnakan anak ini," ancam Luis.
Luos menunjukan foto Kety dan Bagas.
"Apa kau mrngancamku?" tanya Pamela.
"Aku tidak mengancammu, hanya saja meningatkanmu setelah apa yang telah ku lakukan untukmu," jawab Luis.
Luis pergi meningglkan Pamela, ia berjalan menemui asistennya dan berbicara di ruangannya.
"Aku rasa dia bukan wanita biasa. Dia wanita yang pemberani dan cerdas. Kenapa aku selalu kalah saat berdebat dengannya, ini sangat aneh," ucap Luis.
"Apa mungkin anda mulai menyukainya Tuan," kata Jemi.
Luis seketika, menatao tajam Jemi.
"Apa maksudmu?" tanya Luis.
"Biasanya, jika seorang pria tampak melemah saat menatap wanita, itu artinya ia menyukai wanita itu," jawan Jemi.
"Mana mungkin aku menyukai wanita yang sangat berani seperti dia. Dia bukan tipeku," kesal Luis.
Luis berusaha menepis perasaanya yang saat ini mulai menyukai Pamela. Dari perdebatannya membuatnya mulai kagum dengan Pamela, sehingga membuat Luis terkadang sulit mengatakan apapun di depan Pamela.
"Ini sulit dipercaya."
Bersambung...
__ADS_1