
Luis berjalan dengan gagahnya, ia masuk di sambut oleh asisten pribadi Pimpinan Hanji.
"Di mana Kakek?" tanya Luis.
"Mari ikut saya Tuan muda," jawab Pak Adit menunjukan arah Pimpinan Hanji sedang bermain dengan kucing kesayangannya.
"Kau sudah datang, apa kau membawa wanita itu?" tanya Pimpinan Hanji.
"Maksud Kakek apa?" jawab Luis dengan wajah yang bingung.
"Wanita yang sempat merawat Dewa sampai akhirnya ia menghembuskan napasnya, apa kamu hari ini sudah menemuinya?" tanya Pimpinan Hanji.
"Dari mana Kakek tahu semuanya? Apa hubungannya dengan wanita itu?" jawab Luis.
Pimpinan Hanji pun tertawa, ia langsung menatap mata Luis yang menahan kesal dengannya.
"Anak muda memang begitu, tidak bisa mencerna setiap ucapan yang kita berikan, mereka selalu saja menyimpulkan sendiri tanpa berfikir yang lebih jernih," ucap Pimpinan Hanji.
Luis langsung menggerakan tangannya, ia memberi kode kepada mereka penjaga dan asisten yang ada di ruangan itu, untuk meninggalkan mereka berdua.
"Baiklah, maafkan aku," ucap Luis.
Pimpinan Hanji yang masih sibuk dengan kucingnya, langsung memasukan kucing itu ke dalam kandang.
Pimpinan Hanji menatap wajah Luis.
"Kek, apa kau mengenal Dokte Pamela?" tanya Luis.
"Sudah aku katakan, bawakan dia padaku," jawab Pimpinan Hanji.
"Untuk apa? Kenapa Kakek begitu tertarik dengannya? Aku dengar dia di pecat di rumah sakit tempatnya bekerja," jelas Luis.
"Aku sudah tahu berita itu, sebelum beredar di dunia maya, segera pertemukan aku dengannya," ucap Pimpinan Han.
Luis sangat heran, kenapa Pimpinan Hanji sangat terobsesi dengan Pamela, bahkan ia ingin sekali berbica dengannya secara empat mata.
"Baiklah, aku akan membawa Pamela ke sini," ucap Luis, berlalu pergi meninggalkan langkahnya.
"Kau tahu Pimpinan Rumah Sakit Utama Medika?" tanya Pimpinan Hanji.
Luis langsung menghentikan langkahnya, ia kembali membalikan tubuhnya ke arah Pimpinan Hanji.
"Pimpinan Han," jawab Luis.
"Dia telah melakukan korupsi sebanyak 300 Miliar, kau harus melakukan tugasmu," ucap Pimpinan Hanji.
Luis langsung menundukan kepalanya, ia kembali meninggalakan Kakeknya yang sedang duduk menatap pemandangan yang ada di balik jendela itu.
Luis langsung keluar meninggalkan rumah mewah itu, ia terus berjalan dan masuk ke dalam mobil.
.
.
.
__ADS_1
.
Pamela perlahan membuka matanya, sayup-sayup ia melihat tempat yang sangat asing baginya, membuag Pamela langsung bangun.
"Di mana aku?" tanya Pamela.
"Kau di tempat yang aman," jawab Bramasta.
Pamela terdiam, memperhatikan suara yang tidak asing baginya.
"Ayah!" panggil Pamela.
"Kau belom bisa membuktikan kepada Ayah, jika kau berhasil karena profesimu, nyatanya kau di pecat secara tidak hormat. Tinggalkan profesimu dan ikuti jejak Ayah," jelas Bramasta.
"Tidak, aku sangat nyaman dengan kehidupanku yang sekarang, jika Ayah membawaku hanya untuk menawarkanku pekerjaan yang tidak aku sukai, maka aku akan menolaknya, aku tidak berminag jika harus menjalani bisnis seperti Ayah, permainan Ayah terlalu kotor," ucap Pamela.
"Jaga ucapanmu!" seru Bramasta dengan wajah yang penuh dengan amarah.
"Pukul saja, jika Ayah ingin memukulku," ucap Pamela.
Bramasta langsung meletakan tangannya, ia mengurungkan niatnya untuk memukuk Pamela.
Di gedung Ziny Music.
Kevin yang mendengar berita tentang Pamela, langsung menghubunginya berkali-kali tapi.tidak ada jawaban sama sekali.
Kevin terlihat sangat panik, ia sangat menghawatirkan Pamela, apalagi dia tidak ada kabar sama sekali.
"Kemana dia perginya?" ucap Pamela.
Beredar kabar tentang Pamela di televisi dan di seluruh sosial media, membuat semua rekan kerja di Ziny Music mengetahui jika Pamela adalah seorang Dokter yang mengesampingkan pekerjaanya sebagai Disk Jokey.
Perbincangan itu, terdengar di telinga Aril yang baru sampai di gedung Ziny Music.
"Siapa yang kaliam bicarakan?" tanya Aril.
"Adik kesayanganmu, tapi dia di pecat dari rumah sakit besar karen melakukan mal praktik," jawab Jesi, menunjukan berita itu di ponselnya.
Aril yang melihat berita hangat itu, langsung berlari menuju ruangan Kevin.
"Kau sudah mendengar tentang Pamela," ucap Aril.
Kevin menoleh ke arah Aril dan menganggukan kepalanya.
"Jadi kau sudah mengetahu jika dia seorang Dokter?" tanya Aril.
Kevin pun langsung mengganggukan kepalanya.
"Lalu di mana dia sekarang?" tanya Aril.
"Entahlah, aku menghubunginya berkali-kali tidak mendapat jawaban darinya," jawab Kevin.
Pamela bergegas akan meninggalkan ruangan Bramasta, tetapi di cegah olehnya.
"Adikmu sakit, dia terus memanggil namamu, apa kau tidak ingin menemuinya," ucap Bramasta.
__ADS_1
Mendengar bahwa Citra sakit, Pamela langsung bergegas meninggalkan Bramasta dan pergi ke rumah orang tuanya.
Sampailah di rumah, Pamela perlahan melangkahkan kakinya masuk, langkahnya sedikit kaku, karena sudah sangat lama Pamela tidak menginjakan kakinya kembali, mulai ada rasa canggung saat masuk ke dalam.
"Kakak!" panggil Citra.
Citra langsung berdiri dan berjalan mendekati Kakaknya.
"Kakak apa kabar? Kakak baik-baik saja kan?" tanya Citra.
Pamela melihat keadaan umum Citra, Citra terlihat kurang sehat, wajahnya yang pucat membuat Pamela terus memperhatikan kondisinya.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Pamela, menatap Citra dengan tatapan serius.
"Apa maskud Kakak, aku hanya demam biasa," jawab Citra.
"Kau berbohong, siapa Dokter yang merawatmu," tanya Pamela.
"Memangnya ada apa Kak? Aku baik-baik saja, sekarang aku sudah bisa berjalan dan tertawa, kemarin aku terus menangis karena kesakitan," jawab Citra.
"Di mana Ibu?" tanya Pamela.
"Seperti biasa, ibu sedang arisan dengan teman-temannya," jawab Citra.
Pamela langsung mengajak Citra pergi meninggalkan rumah, ia melihat kondisi Citra yang tidak stabil, membuatnya langsung membawa Citra ke rumah sakit untuk di periksakan secara keseluruhan.
Pamela berjalan mengambil konci mobil dan keluar dengan salah satu mobil yang terparkir di garasi halaman rumahnya.
"Kita mau kemana?" tanya Citra.
"Kita akan jalan-jalan," jawab Pamela.
Pamela yang mengikat rambuntnya dan menggunakan topi hitam dilengkapi masker, membuatnya tidak mudah untuk dikenali.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sampai disalah satu rumah sakit swasta yang cukup jauh jaraknya dari rumah. Hal ini sengaja di lakukan oleh Pamela karena rumah sakit terdekat akan mudah mengenali dirinya, maka dari itu Pamela berusaha mencari rumah sakit yang jauh dari manapun, bisa di bilang rumah sakit terpencil. Pamela langsung memarkirkan mobilnya, ia masuk ke dalam UGD.
"Pasien Darurat!" teriak Pamela.
Rumah sakit itu terlihat hanya ada beberapa Perawat dan satu Dokter yang berjaga.
"Bagai mana kondisinya?" tanya Dokter Morgan.
"Kesadarannya menurun, tekan darahnya 90/70 mmHg, denyut nadi 89 kali permenit, pernapasan 22 kali permenit, pasien sempat mengalami kram di bagian tangan, reflek matanya sedikit lambat," jawab Pamela.
Dokter Morgan, menatap Pamela dengan cermat, sambil memeriksa kondisi Citra.
"Apa kau walinya?" tanya Dokter Morgan.
Pamela menganggukan kepalanya.
"Silahkan daftar dulu," ucap Dokter Morgan.
Pamela langsung mendaftar di ruang pendaftatan, selesai mendaftar, ia berjalan menuju adiknya di rawat, cukup lama, ia menunggu, membuatnya bertanya kepada perawat yang berjaga.
"Maaf Sus, kenapa adik saya tidak mendapat tindakan Pindai CT?" tanya Pamela.
__ADS_1
"Sepertinya aku salah masuk rumah sakit,"
BERSAMBUNG....