
Semua team yang terlibat dalam operasi Pimpinan Hanji telah berkumpul di depan ruang ICU, mereka semua melihat Dokter Boy telah berbicara dengan Pimpinan Hanji.
"Hallo Pak, apa kau mendengar suaraku?" tanya Dokter Boy.
Berulang Kali, Dokter Boy memanggil nama Pimpinan tetap tidak mendapatkan respon apapun, tetapi tagan Pimpinan terus bergerak.
Dokter Boy, terhs berusaha memanggil nama Pimpinan, sampai akhirnya Pimpinan Hanji menyautinya.
"Kau ini berisik sekali, mengganggu tidurku saja," jawab Pimpinan Hanji.
Seketika Dokter Boy, tersenyum pepsodent. Ia terlihat sangat lega karena Pimpinan Hanji telah sadar dari komanya.
"Pak, anda hampir membuat karir saya hancur, untunglah Bapak segera sadarkan diri," ucap Dokter Boy.
"Aku sedang bermimpi, membangun rumah sakit ini menjadi rumah sakit berbasis internasional, tapi kau merusak mimpiku," kata Pimpinan Hanji dengan suara yang serak.
"Astaga, jadi aku merusak mimpi anda?" tanya Dokter Boy sambil tertawa.
Luis yang melihat sang Kakek sudah bisa tertawa, membuatnya langsung memakai hasmet dan masuk ke dalam ruang ICU.
"Kakek!" panggil Luis.
"Kau, ada apa denganmu? Apa kau khawatir? Tenanglah, Kakek ini super hero jadi Kakek kuat," ucap Pimpinan Hanji.
"Kakel ...," ucap Luis.
Mereka yang ada di dalam ruang ICU, akhirnya tertawa bersama.
Membuat semua team yang menunggu di luar ruang ICU ikut merasa lega.
"Akhirnya Pimpinan sadar juga, mari kita beri selamat," ucap Dokter Morgan.
"Aku rasa nanti saja Dok, lebih baik biarkan Pimpinan Hanji dipindahkan terlebih dahulu," ucap Perawat Weni.
"Kau benar juga," kata Dokter Morgan.
Pimpinan Hanji akhirnya di pindahkan ke ruangannya, semua team yang terlibat dalam operasinya, mulai menyapanya.
Suasana ruang VIP, terlihat ramai yang di penuhi sebagian staf rumah sakit.
"Kami sangat lega, Pimpinan telah melewati masa kritisnya," kata Perawat Weni.
"Jika Pimpinan ingin sesuatu katakan saja, kami siap melakukan yang terbaik untuk Pimpinan agar merasa nyaman," ucap Perawat Ken.
"Aku baik-baik saja, jadi kalian lah yang harus jaga diri baik-baik, aku sempat merasakan kalian bekerja dengan sangat keras, banyak pasien yang kalian selamatkan, jadi ... jagalah diri kalian baik-baik," ucap Pimpinan Hanji.
"Ternyata Pimpinan Hanji sangat so sweet, aku pikir Pimpinan sangat galak, ternyata dugaanku salah," ucap Perawat Rere.
Semua orang terdiam, mereka sangat takut dengan ucapan Perawat Rere. Tak Lama Pimpinan pun terbawa, membuat semua staf merasa bersyukur. Mereka pikir Perawat Rere akan di marahi karena lancang.
"Aku ini baik, tapi banyak orang takut denganku, akupun tak tahu," ucap Pimpinan Hanji.
__ADS_1
"Baiklah, kalo begitu kami pamit dulu, semoga Pimpinan lekas sembuh," ucap Perawat Weni.
Pimpinan Hanji sangat senang, mendapatkan doa dari semua staf yang memenuhi kamarnya.
Mereka pun pergi meninggalkan ruangan VIP, hanya tersisa Pamela dan Dokter Boy.
"Aku sepertinya lapar," ucap Pimpinan Hanji.
Pamela dan Dokter Boy saling menatap satu sama lain, sampai akhirnya Dokter Boy langsung menyauti ucapan Pimpinan Hanji.
"Bagaimana anda tidak lapar Pak, hampir 10 hari anda tidak sadarkan diri," sahut Dokter Boy.
"Kau benar juga, aku rasa sebelum aku operasi ada yang memberiku cilo, atau apa itu makanan yang dibalut telur?" tanya Pimpinan.
Pamela langsung mengingat, ia memberikan cilor yang sangat enak kepada Pimpinan sebelum ia menjalani operasi.
"Mungkin yang anda maksud adalah cilor Pak," jawab Pamela.
"Iya benar itu, apa tadi namanya?" tanya Pimpinan Hanji.
"Cilor Pak, C i l o r," jawab Pamela.
"Cilor ya, sekarang mana cilor itu?" tanya Pimpinan Hanji.
"Mungkin sudah dibuang oleh petugas kebersihan Pak, nanti akan saya belikan jika anda mau," jawab Pamela.
"Kurang ajar memang petugas kebersihan itu, bisanya membuang makananku," kesal Pimpinan Hanji.
"Sekarang kita fokus dengan kesembuhan dulu Pak, nanti anda akan diteraktir oleh Dokter Pamela," ucap Dokter Boy.
"Kenapa aku yang meneraktir Pimpinan Dok, dia sudah kaya," lirih Pamela, membuat Dokter Boy menahan tawanya.
"Baiklah, aku harus segera sembuh dan kau Dokter Pamela ku harap kau mau mengajakku makan, makanan yang tidak pernah ku makan. Apa kau mau?" tanya Pimpinan Hanji.
'Astaga dia sungguhan ingin jajan denganku, berapa dolar yang harus aku keluarkan?' batin Pamela.
"Baiklah, nanti akan aku bawa Pimpinan ke penjual kaki lima di dekat taman kota," jawab Pamela.
"Kau akan membawa Kakekku makan di tempat yang tidak higenis?" tanya Luis.
"Anda salah Tuan, Pimpinan akan saya bawa ke taman kota, disana banyak makanan enak yang rasanya tidak kalah dengan makanan dihotel berbintang, tempatnya pun bersih," jawab Pamela.
"Baiklah, tapi aku harus ikut untuk mengawasimu," ucap Luis.
"Astaga, aku seperti buronan saja," lirih Pamela, membuat Luis langsung menyautinya.
"Apa katamu?" tanya Luis.
"Aku tidak mengatakan apapun, hanya sedang memikirkan. Makanan apa yang akan saya kenalkan pada Pimpinan itu saja," jawab Pamela.
"Kalian sedang membahas masalah pribadi, kalau begitu saya keluar duluan," pamit Dokter Boy.
__ADS_1
"Saya juga harus pergi memeriksa pasienku di UGD, permisi Tuan, Pak," pamit Pamela.
"Tunggu! Enak saja kau mau pergi begitu saja," cegah Luis.
"Ada apa lagi Tuan?" tanya Pamela.
"Kau mempunyai hutang padaku," jawab Luis.
Pamela merasa bingung, ia tidak merasa memiliki hutang dengan Luis.
"Hutang! Hutang apa Tuan? Aku tidak memiliki hutang kepada anda?" tanya Pamela dengan wajah yang bingung.
"Aku sudah membereskan semua yang diperintahkan Kakek, dan sekarang aku meminta hakku padamu," jawab Luis.
Mendengar perdebatan Luis dan Pamela, Pimpinan merasa seperti di dongengi, ia tertidur lelap sampai suara dengkuran itu terdengar keras.
Pamela dan Luis menatap Pimpinan yang sudah tertidur lelap, membuat mereka saling pandang.
"Kita tidak sedang mendongenginya," ucap Pamela.
"Masalah Kakekku biarkan saja, sekarang kau yang harus memberikan aku imbalan, dunia tidak ada yang gratis," ucap Luis.
"Apa sebenarnya yang kau mau? Katakan saja, tapi dari awal saya meminta bantuan Pimpinan tidak ada imbalan apapun, kanapa kau melakukan semua ini?" tanya Pamela.
"Karena yang membereskan semuanya itu aku bukan Kakek, jadi wajar aku meminta imbalan," jawab Luis.
"Rasanya ingin sekali aku menelan hidup-hidup pria ini," guman Pamela.
"Apa katamu?" tanya Luis.
"Aku tidak mengatakan apapun," jawab Pamela.
Pamela mulai kesal dengan Luis yang tiba-tiba meminta imbalan karena ia sudah membebaskan semua tawanan yang menjadi korban perdagangan manusia.
"Katakan saja apa maumu, tapi saat ini saya harus kembali ke UGD," ucap Pamela.
Saat Pamela akan pergi meninggalkan ruang VIP, tiba-tiba tangannya di pegang oleh Luis. Membuat Pamela langsung terdiam seperti patung.
"Berikan nomor ponselmu," ucap Luis.
"Kau sangat takut aku akan kabur kan?" tanya Pamela.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu saja, jika kau punya hutang denganku," jawab Luis dengan entengnya.
Pamela yang merasa jantungnya akan copot karena tanganya tiba-tiba di pegang oleh Luis, seketika langsung berubah mood.
"Mana ponselmu?" tanya Pamela.
Luis memberikan ponselnya, membuat Pamela langsung mengetik nomor ponselnya dan memberi nama Pamela cantik.
Sambil senyum-senyum, Pamela langsung memberikan ponsel itu kepemiliknya.
__ADS_1
'Nomornya berbeda, aku rasa bukan dia orangnya.'
BERSAMBUNG....