
"Bagaimana jika Dokter Feni saja yang menjaga UGD, kita yang bersenang-senang," goda Perawat Rere.
"Apa!" seru Dokter Feni.
"Kalian sedang bahas apa?" tanya Dokter Boy.
"Kita ingin merayakan kehadiran Dokter baru kita, sudah lama kita tidak makan bersama," jawab Perawat Weni.
"Rasanya aku ingin makan sushi yang terbuat dari ubi jalar," sahut Dokter Dani.
"Sushi ubi?"
"Memangnya, ada yang jual?" tanya Pamela dengan heran.
"Tentu ada, itu dicafe Capcup," jawab Dokter Dani.
"Kudengar menu di sana unik-unik," sahut Perawat Rere.
"Setelah operasi Pimpinan Hanji selesai, kalian boleh merayakannya, "ucap Dokter Boy.
"Itu artinya, kita harus bekerja lebih giat lagi, ayo semangat," ucap Perawat Weni.
Mereka semua berbincang hangat, membuat Pamela merasa sangat nyaman berada di rumah sakit ini. Mereka tertawa bersama terlihat sangat bahagia.
Malam hari.
Pamela seminggu ini menghabiskan waktunya dirumah sakit tempatnya bekerja untuk melatih dirinya dalam mengasah kemampuannya dalam melakukan operasi.
Terlihat Pamela sedang memikirkan sesuatu, ia merasa hatinya gelisah, membuatnya langsung keluar dari ruang staf dan membuat kopi untuk menghangatkan tubuhnya.
"Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Dokter Boy.
"Aku hanya memandangi lampu yang ada di luar sana, terlihat sangat indah," jawab Pamela.
"Kau tahu apa itu artinya? Mereka terlihat bagus karena menyatuh dengan sempurna, tapi ... jika kau pandangi dari dekat, mereka terlihat masing-masing menyinari dirinya," ucap Dokter Boy.
Pamela seketika langsung menatap Dokter Boy.
"Apa yang Dokter maksudkan, aku tidak mengerti," tanya Pamela.
"Suatu saat kau akan mengerti apa yang aku katakan. Sekarang persiapkan dirimu untuk menyambut Pimpinan Hanji besok, dia akan datang sore hari," jawab Dokter Boy.
Pamela hanya menganggukan kepalanya, ia menatap kepergian Dokter Boy yang mulai menjauh dari hadapannya.
Pamela pun akan kembali ke ruang staf, namun dia sangat terkejut saat melihat di samping nya ada Dokter Morgan yang berdiri tepat di sampingnya.
"Astaga, kau mengagetkanku saja," kesal Pamela.
__ADS_1
"Kau sendiri, kenapa melamun," ucap Dokter Morgan.
Tidak mau berdebat dengan Dokter Morgan, Pamela pun langsung pergi meninggalkan Dokter Morgan. Ia langsung masuk ke dalam ruang staf dan duduk di sofa.
"Aneh sekali dia itu," ucap Dokter Morgan.
Malam pun terlewatkan dengan keheningan, semua staf rumah sakit bisa beristitahat dengan damai, sampai akhirnya mentari pagi kembali menyinari bumi.
Suara alarm berusaha membangunkan Pamela yang tertidur di sofa, membuatnya tak kunjung bangun. Sehingga tak di sadari Dokter Morgan masuk ke dalam ruang staf untuk membersihkam wajahnya agar lebih segar.
Melihat suara yang sangat nyaring di telinga, membuatnya langsung mendekati suara itu. Ternyata suara itu berasal dari ponsel milik Pamela.
Dokter Morgan melihat Pamela yang tertidur membuka mulutnya, membuatnya langsung tertawa, ia merasa Pamela sangat lucu dan menggemaskan.
Saat Dokter Morgan ingin mematikan suara alarm itu, tiba-tiba Pamela membuka matanya dan langsung melotot ke arah Dokter Morgan.
"A! ... mau apa kau!" seru Pamela.
Dokter Morgan langsung menjauh dari hadapan Pamela, ia sangat terkejut dengan teriakan Pamela yang sangat nyaring di telinga.
"Kurang ajar! Kau mau macam-macam denganku!" teriak Pamela.
"Enak saja, aku hanya ingin mematikan alarm yang ada di ponselmu, itu sangat berisik," bela Dokter Morgan.
"Alasan saja," ucap Pamela.
Pamela meraih ponselnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Ia menatap cermin sambil mengumpat.
Pamela langsung membersihkan wajahnya dan langsung mengganti bajunya, saat ia keluar dari kamar mandi, Pamela melihat staf rumah sakit, mendapatkan notifikasi melalui ponselnya, membuat mereka pada keluar dari ruang staf.
"Ada apa?" tanya Pamela dengan wajah bingung.
"Ada pasien darurat," jawab Dokter Dani.
Pamela langsung memeriksa ponselnya, ia pun mendapat notifikasi dari group dan langsung keluar dari ruang staf.
Pamela berjalan menuju ruang UGD, ia melihat beberapa staf sudah kumpul.
"Akan ada pasien luka bakar, ada kebakaran gedung di kota B, jadi semua pasien di larikan kerumah sakit ini, siapkan semua alat yang kita butuhkan. Saya sudah menghubungi rumah sakit pusat rujukan khusus menangani kasus luka bakar," jelas Dokter Boy.
'Apa! Kota B, bukankah itu tempat penyekapan anak di bawah umur,' gumam Pamela dalam hati.
"Maaf Dok, kota B itu. Gedung apa yang mengalami kebakaran?" tanya Pamela.
"Informasi pastinya, gedung bekas pabrik jagung," jawab Dokter Boy.
Mata Pamela seketika langsung melalak selebar mata panda, ia langsung memegang ponselnya dan segera menghubungi Kevin melalui pesan singkat.
__ADS_1
"Cepat cari informasi tentang kota B yang mengalami kebakaran, aku dengar gedung yang mengalami kebaran. Gedung bekas pabrik jagung."
Pesan siang itu terkirim.
Tak lama ponsel Kevin pun langsung berdering, ia memeriksa pesan dari Pamela dan langsung melacak kamera CCTV yang sempat di pasang di gudang itu.
Kevin langsung menyimpan semua rekaman yang masih bisa di selamatkan.
"Mereka terluka parah," ucap Kevin.
Kevin menelpon Pamela. Ponsel Pamela berdering, membuatnya langsung menjauh dari ruang UGD.
Pamela: "Bagaimana? Apa semuanya baik-baik?"
Kevin: "Ada lima anak-anak yang mengalami luka cukup berat dan aku melihat ada satu anak laki-laki kesulitan bernapas. Tapi rekaman CCTV ini merekan sekitar 15 menit yang lalu, mungkin saat ini korban luka kabar langsung di larikan kerumah sakit."
Pamela: "Semua korban di larikan di rumah sakit tampatku bekerja sekarang, jadi aku akan mengambil sampel untuk barang bukti."
Kevin: "Baiklah, kau harus hati-hati."
Telpon pun terputus. Pamela kembali ke ruang UGD, tak lama korban kebaran pun berdatangan. Membuat Pamela langsung menghampiri para korban.
"Korbannya anak-anak," ucap Pamela.
"Kau benar, ayo kita letakan ke rancang sebelah kiri," pinta Dokter Boy.
Beberap preman yang menjaga 11 anak yang mengalami luka yang cukup serius itu, hanya luka-luka ringan.
Dokter Boy langsung menangani salah satu anak yang umurknya sekitar 10 tahun, ia mengalami gagal napas dan harus di lakukan intubasi dan RJP.
Dengan cepat, Dokter Boy menangani anak itu sampai akhirnya, napaanya kembali normal. Tetapi kondisinya sangat kritis.
Sedangkan Pamela menangani pasien anak yang mengalami luka cukup berat di bagian kaki dan harus di larikan ke ruang operasi.
"Dokter Boy, pasien ini umur 9 tahun dia mengalami patah tulang dibagian kaki kirinya, setelah melakukan ronsen. Pasien anak mengalami robekan legamen di bagian selaput kakinya," jelas Pamela.
"Hubungi Dokter Anak dan Anastesi, segera bawa pasien ke ruang operasi," pinta Doktee Boy.
Pamela langsung membawa pasien anak itu akan memasuki ruang operasi, tetapi di cegah oleh preman yang di rawat di UGD itu.
"Hentikan, biarkan saja dia mati. Kami tidak memiliki uang untuk menanggung semua biaya anak-anak sialan itu," ucap Preman.
"Kami akan segera menghubungi orang tuanya, jadi kau tidak perlu khawatir untuk menanggung semuanya. Ini adalah bencana alam, jadi kau tidak dirugikan di sini," jelas Pamela.
"Aduh, bagaimana ini," ucap Preman.
Preman itu langsung menghubungi bosnya tetapi tidak mendapat jawaban, membuat preman itu semakin frustasi.
__ADS_1
"Tolong kami, kami di culik dan di jual ke luar negri."
BERSAMBUNG....