
Penuturan kata dari Pamela, membuat Luis seketika terjatuh, ia duduk di lantai dengan tatapan kosong.
Selama ini Luis menganggap sakitnya Pimpinan Hanji bisa di obati hanya dengan minum obat, tapi setelah ia mengingat semua yang di katakan Pamela, dorongan motivasi dari seseorang yang dikenal sangatlah berpengaruh besar untuk menunduka kematiannya walau hanya satu hari.
Luis seolah menyadari semuanya, ia seperti mendapat asupan stamina untuk bangkit dan keluar dari gedung kosong itu.
Luis langsung masuk ke dalam mobil, ia memutuskan untuk menemui Pimpinan Hanji.
Di rumah Pimpinan Hanji.
Terlihat kursi yang sedang mengayunkan rodanya, membuat rilek tubuh Pimpinan Hanji yang sedang menikmati ayunan kursi rotan yang ia duduki.
Pimpinan menonton televisi kartus, ia mengingat Pamela mengatakan jika menonton film kartun akan mengingat kita kemasa kecil yang sangat menyenangkan, akan tumbuh rasa tertawa dan sedih saat kita mengingat masa kecil.
Ingatan itu langsung hilang, ketika Luis datang menemui Pimpinan Hanji.
"Kakek!" panggil Luis.
Pimpinan Hanji masih fokus menonton Tom and Jerry, ia pun merasa gereget dengan Tom yang bertingkah sangat bodoh.
"Astaga, dia sangat bodoh," ucap Pimpinan Hanji.
"Kau lihat aksi Tom? Sangat menjengkelkan," tanya Pimpinan Hanji, ia melirik ada Luis, membuatnya langsung berdehem.
"Ada apa kemari?" tanya Pimpinan Hanji.
"Aku hanya ingin mengajak Kakek main golf," jawab Luis.
Pimpinan Hanji langsung menoleh ke arah Luis, ia sangat terkejut dengan ajakan Luis yang sangat tiba-tiba.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Pimpinan Hanji.
"Aku ingin bermain golf, di temani Kakek, bukankah Kakek jago dalam permainan itu,"jawab Luis.
Seketika Kakek Hanji, tertawa dan langsung menatap Luis.
"Anak muda jaman sekarang tidak bisa mandiri," ucap Pimpinan Hanji
Luis hanya diam saja, ia masih tetap berdiri.
Pimpinan Hanji langsung mematikan televisinya, ia langsung duduk menatap Luis, ia memerintahkan ajudannya untuk meninggalkannya dengan Luis.
"Ada apa?" tanya Pimpinan Hanji, seolah bisa membaca pikiran Luis.
"Apa selama ini Kakek menderia karena merasa sendirian? Maafkan aku Kek, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, maafkan aku," jawab Luis.
__ADS_1
Pimpinan Hanji hanya tersenyum saat melihat Luis meminta maaf kepadanya.
"Siapa yang merasa kesepian? Apa kau tidak lihat banyak orang di rumah ini? Semuanya menjaga Kakek, Kakek tidak merasa kesepian. Hanya saja Kakek kasian kepadamu, kau bekerja keras untuk Kakek, melihatmu sukses, Kakek sudah bahagia," jelas Pimpinan Hanji.
"Kau cucu Kakek, satu-satunya. Kakek harap kau segera menikah sebelum Kakek tiada," ucap Kakek.
"Apa Kek? Menikah?" tanya Luis.
Pimpinan Hanji menganggukan kepalanya.
"Apa kau sudah memiliki calon? Kenalkan pada Kakek, atau Dokter Pamela sepertinya cocok denganmu," kata Pimpinan Hanji.
"Apa-apaan ini, aku jadi tidak kasian dengan Kakek, kenapa Kakek harus menyuruhku menikah?" tanya Luis yang mulai kesal dengan Pimpinan Hanji.
"Hey ... kenapa kau marah-marah, Kakek hanya menanyakan kapan mau akan menikah, kenapa kau malah marah, Kakek ini sudah tua, mau sampek kapan, kau seperti ini! Kau sudah cukup matang untuk menikah, apalagi yang kau tunggu," sahut Pimpinan Hanji.
"Apa tidak ada yang mau denganmu, karena kau galak?" tanya Pimpinan Hanji.
"Kakek, hentikan ucapan Kakek! Banyak yang menyukaiku, tapi memang aku belom ingin menikah," kesal Luis.
"Jika banyak kenalkan dengan Kakek, atau kau nikahi Dokter Pamela," ucap Pimpinan Hanji.
"Apa Kakek bilang?" Luis, merasa syok.
"Iya, nikahi saja Dokter Pamela, dia wanita yang berbakat, karirnya bagus, potensinya bagus, dan dia sangat misterius," jawab Pimpinan Hanji.
"Rasa suka itu akan datang dengan sendirinya, Kakek yakin, Dokter Pamela pasti akan mau denganmu, secara cucu Kakek tampan, kaya raya, tinggi, masa depan terjamin, apalagi yang mau di cari wanita, jika bukan harta dan tahta," jelas Pimpinan Hanji.
"Terserah Kakek saja, intinya aku tidak mau di jodohkan. Dalam waktu dekat ini, aku akan mengenalkan pasanganku dengan Kakek," ucap Luis, berlalu meninggalkan Pimpinan Hanji yang sedang duduk di ruangan itu.
"Aigo ... dia sangat menggemaskan jika sedang kesal," ucap Pimpinan Hanji.
Luis dengan kesalnya langsung masuk ke dalam mobil, mobil itu langsung melaju dengan kecepatan sedang.
Malam ini, Luis memutuskan untuk pergi ke club miliknya, ia sengaja mengenakan pakaian casual, agar tidak di kenal banyak orang. Sama dengan Pamela yang ada jadwal manggung di club milik Luis.
Pamela merias diri, ia sengaja mengecat instan warna rambutnya menjadi ombre, membuat penampilan Pamela sangat memukau, tak lupa Pamela mengoles lipglos di bibirnya yanh mungil.
Kety yang melihat penampilan Pamela yang sangat kece dan keren itu, membuatnya langsung mendekari Pamela karena kagum.
"Wah ... Kak Pamela! Kakak sangat cantik," kagum Kety.
"Benarkah?" tanya Pamela.
"Apa ada event, kau berdandan secantik ini?" tanya Nek Marlin.
__ADS_1
"Tidak, tapi entahlah, aku hanya ingin merias diri malam ini," jawab Pamela.
"Semoga ada pria kaya yang menyukaimu, lalu dia mengatakan menikahlah denganku," goda Nek Marlin.
"Nenek!" kesal Pamela.
Nek Marlin tertawa, melihat Pamela yang mulai kesal dengannya.
"Jangan katakan itu, aku masih ingin mengarungi dunia," ucap Pamela.
"Mau sampek umur berapa, apa kau lupa ingatan sekarang kau bukan anak remaja lagi?" tanya Nek Marlin.
Pamela langsung terdiam, lalu ia tersenyum pepsodent.
"Kak Pamela punya pacar?" tanya Kety, dengan wajah polosnya.
"Kenapa pertanyaan kalian membuatku malas untuk menjawab," jawab Pamela dengan wajah yang menahan marah.
""Dan kau Kety, jangan menanyakan hal itu lagi kepadaku, karena itu bisa menjatuhkan harga diriku," peringatan Pamela.
Kety menahan ketawa, melihat raut wajah Pamela yang sangat lucu ketika memperingatinya.
"Sudahlah aku mau berangkat saja, kalian selalu menanyakan berapa umurku, kapan menikah, mana calonnya, siapa pacarmu, pertanyaan yang aneh, memangnya kalian ini sensus penduduk yang wajib menanyakan identitas seseorang," ocehan Pamela sambil berjalan keluar rumah Nek Marlin.
Pamela langsung masuk ke dalam mobilnya, dengan perasaab yang kesal, membuat Pamela melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Apa tidak ada pertanyaan lain, selain kapan menikah, mana pacarnya, aku hampir gila memikirkan semuanya, tapi ... umurku? Kenapa dengan umurku? Aku masih muda dan energic, jadi sesuka hatiku lah, mau punya pacar atau tidak, ada yang menyukaiku atau tidak aku tidak perduli," ocehan Pamela sepanjang jalan.
Leader Night Devaju.
Club milik Luis, yang sang pemilik anak menikmati malamnya di salah satu ruang VIP yang di siapkan khusus untuknya. Ruangan itu langsung menghadap ke arah DJ nya, membuatnya merasa lebih nyaman.
Pamela sudah memasuk ruangan, ia melihat Kevin sudah menunggunya di dalam.
"Kenapa baru datang?" tanya Kevin.
"Di jalan macet, aku harus menunggu," jawab Pamela.
"Baiklah, hari ini akan ada pemilil club ini, jadi kau harus menunjukan penampilan yang memukau," ucap Kevin.
"Iya, baiklah," kata Pamela.
Pamela langsung terdiam, setelah mendengar ada pemilik club ini datang, sedangnya pemiliknya adalah Luis.
"Apa!"
__ADS_1
BERSAMBUNG....