Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Kehebatan Pamela


__ADS_3

Di dalam ruang operasi.


Pamela menatap Dokter Anastesi, melihat respon Dokter Anastesi, membuat Pamela langsung memulai operasi.


Dengan keahlian dan kelincahan Pamela, Dokter Feni pun terkagum-kagum melihat cara cepat Pamela mengeklem beberapa pembulu darah saat besi akan digergaji.


"Saat pelepasan besi ini, akan ada perdarahan hebat di bagian area otak kecil, siapkan suction (alat penyedot)," perintah Pamela.


"Siap Dok," ucap Perawat Ken.


Saat Perawat Ken, mulai menyalakan mesin geraji untuk memotong besi, sampai akhirnya besi itu terlepas dan darah langsung keluar dengan cepat, seperti air mancur.


Pamela dengan santai, langsung membendung lubang bekas besi itu, sampai akhirnya Pamela menemukan pembuluh darah, yang membuat darah terus-terusan keluar.


Pamela langsung mengeklem menggunakan gunting klem arteri.


"Tugasku sudah selesai, Dokter. Bagaimana kondisi pasien?" tanya Dokter Pamela.


"Kondisi pasien saat ini aman Dok," jawab Dokter Anastesi.


Pamela dan Dokter Feni bertukar posisi dengan Dokter Boy dan Dokter Morgan.


Pamela langsung keluar dan membuka maskernya.


"Dokter Pamela. Bisa kita bicara?" tanya Dokter Feni.


Pamela menatap Dokter Feni dan menganggukan kepalanya.


Mereka berbicara diruang staf.


"Ada apa?" tanya Pamela.


"Dari mana kau belajar melakukan operasi secepat itu?" tanya Dokter Feni.


Pamela tersenyum.


"Aku pikir kau mau bertanya apa, ternyata hanya masalah operasi tadi," jawab Pamela.


"Aku membaca buku ini," ucap Pamela.


Dokter Feni, merasa terkejut saat Pamela memiliki buku yang sangat fenomemal di kalang dunia kedokteran. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki buku itu.


Dengan buku itu, semua masalah kedokteran yang tidak pernah kita duga, ada di dalam buku itu.


"Dari mana kau mendapatkan buku itu?" tanya Dokter Feni.


"Aku mendapat semua itu dari dosenku, dia seorang profesor yang pernah bekerja di rumah sakit America, jadi dia memberiku buku itu," jawab Pamela.


"Jika kau ingin membacanya, silahkan. Aku akan berbaik hati meminjamkan untukmu," sambungnya.


"Terima kasih," ucap Dokter Feni.


Pamela akhirnya keluar dari ruang staf.


"Apa kau menyukai Dokter Morgan?" tanya Dokter Feni.


Pamela menoleh ke arah Dokter Feni.


"Apa maksudmu?" tanya Pamela.

__ADS_1


"Aku hanya bertanya, apa kau menyukai Dokter Morgan. Ku lihat kalian cukup dekat," jawab Dokter Feni.


Pamela seketika mengerti, jika Dokter Feni merasa cemburu atas kedekatannya dengan Dokter Morgan.


Pamela tiba-tiba tertawa, membuat Dokter Feni merasa bingung.


"Jadi kau merasa cemburu? Apa kau menyukainya?" tanya Pamela.


"Apa maksudmu, aku hanya bertanya saja," jawab Dokter Feni.


"Sudahlah, jujur saja. Aku tidak ada hubungan apapun dengan Dokter Morgan, jadi tidak usah mengkhawatirkanku," ucap Pamela.


Merasa malu, Dokter Feni langsung pergi begitu saja. Membuat Pamela berhenti tertawa dan menatap kepergiannya.


"Ada-ada saja," ucap Pamela.


Masih menggunakan baju medis, Pamela berjalan menuju ruang UGD.


"Apa operasinya sudah selesai?" tanya Dokter Zen.


Pamela menoleh ke arah sumber suara.


"Dokter Zen? Apa anda libur hari ini?" tanya Pamela.


Dokter Zen mendekat ke arah Pamela dengan senyuman.


"Operasi pengangkatan besi itu butuh waktu cukup lama, hampir 5 sampai 6 jam, tapi kau hanya melakukan 4 jam, itu sangat cepat. Apa ada kendala?" tanya Dokter Zen.


Sambil berjalan, menuju taman rumah sakit.


"Operasi kali ini, cukup rumit, tapi team kami bisa melakukannya dengan cepat tanpa membuat pasien syok," jawab Pamela.


"Kalian bekerja sangat keras," ucap Dokter Zen.


"Apa kau tidak ingin kembali ke rumah sakit utama?" tanya Dokter Zen.


Pamela terdiam.


"Aku rasa bukan tempatku di sana Dok, aku hanya seperpihan yang selalu dikambing hitamkan oleh para petinggi untuk menutupi semua kebusukan mereka," jawab Pamela.


Dokter Zen terdiam.


"Maafkan aku tidak bisa membantumu kala itu, aku benar-benar menyesali semuanya," ucap Dokter Zen.


"Kejadian itu sudah lama Dok, aku sudah melupakannya. Sistem rumah sakit tidak akan berubah jika mereka yang jahat masih berada di dalam," kata Pamela.


Pamela mendapat notification dari Perawat Ken, membuatnya harus meninggalkan Dokyer Zen.


"Aku harus pergi, maafkan aku Dok," pamit Pamela.


Pamela langsung berlari menuju ruang ICU.


"Ada apa Dok?" tanya Pamela.


"Operasi sudah berjalan lancar dan pasien pun sudah masuk ke dalam ruangan pulih sadar. Terima kasih kaliam bekerja keras hari ini," ucap Dokter Boy.


"Tidak biasa Dokter mengatakan seperti ini? ada apa ini?" tanya Pamela.


"Aku sangat ingin kau kembali bekerja di rumah sakit ini, kami membutuhkan Dokter sepertimu. Setelah pernikahan cucu Pimpinan Hanji, dia akan membangun rumah sakit ini menjadi rumah sakit pusat, bukan lagi rumah sakit utama," jawab Dokter Boy.

__ADS_1


Mata Pamela seketika melebar, saat ia mendengar kata pernikahan cucu Pimpinan.


"Apa Dokter tau, dengan siapa cucu Pimpinan Hanji akan menikah?" tanya Pamela.


"Pimpinan belom memberi tahuku, dia hanya mengatakan dakat waktu dekat akan menggelar acara resepsi secara besar-besaran," jawab Dokter Boy.


Pamela langsung menepuk jedatnya.


"Ada apa?" tanya Dokter Boy.


"Tidak Dok, aku harus pergi," jawab Pamela.


Melihat jam sudah menunjukan pukul 7 malam, Pamela teringat jika dia harus memjemput dua adiknya di sekolah.


Kepanikannya membuatnya langsung berlari meninggalkan Dokter Boy begitu saja.


Pamela langsung melajukan mobilnya, tanpa mengganti pakaianya. Ia sudah tidak ingat lagi harus mengganti pakaiannya.


Mobil Pamela melaju dengan kecepatan tinggi, akhirnya ia sampai disekolah tempat Kety.


Melihat suasana sekolahan sangat sepi, tiba-tiba seorang satpam datang menghampiri Pamela.


"Maaf Nona, anda mencari siapa?" tanya Satpam.


"Saya mencari kedua adik saya pak, namanya Kety dan Bagas. Apa Bapak melihatnya," jawab Pamela dengan sangat panik.


"Tadi pukul 5 sore ada yang menjemput kedua anak laki-laki dan perempuam masuk ke dalam mobil mewah, kami pikir dia adalah Oomnya, karena tampilan lelaki itu cukup dewasa dan berjas," jelas Satpam.


Pamela berfikir sejenak, pikirannya langsung tertuju pada Luis.


Pamela meraih ponselnya dan memperlihatkan foto Luis kepada Pak Satpam.


Pak Satpam itu, mengangukan kepalanya.


"Baiklah, terima kasih atas informasinya pak. Saya pamit pulang," pamit Pamela.


Pamela langsung melajukan mobilnya, untuk pulang kerumah Nenek Marlin.


Sampai di rumah Nek Marlin.


Pamela melihat Mobil Luis terparkir di depan rumahnya, Pamela langsung masuk ke dalam. Ia melihat Luis sedang berbincang dengan Nek Marlin.


"Dimana Kety dan Bagas?" tanya Pamela dengan panik.


"Kety dan Bagas ada di dalam, tadi sore Nak Luis yang menjemputnya, kau dihubungi tidak bisa, apa pasien dirumah sakit samgat ramai?" tanya Nek Marlin.


"Maafkan aku tidak bisa menjemputnya, aku hampir melupakan kewajibanku," jawab Pamela.


Luis yang melihat Pamela memakai baju medis berwarna biru terlihat sangat seksi, membuatnya tersenyum.


"Mandilah, kau pulang membawa bakteri dari rumah sakit," ucap Luis.


Pamela menatap kesal Luis.


"Beraninya kau menyuruhku, biarin aku tularin kau ya," kesal Pamela.


Pamela berusaha mendekati Luis, tetapi Luis sudah bersiap-siap untuk menghindari Pamela.


Mereka akhirnya kejar-kejaran sampai membuat Nek Marlin merasa pusing.

__ADS_1


"Aku kesal denganmu!"


Bersambung.


__ADS_2