
Pamela membereskan semua adminitrasi Bagas, karena ia mulai sekolah bersama Kety di kelas yang sama.
"Kakak sudah membereskan segelanya, kalian harus belajar yang rajin, jangan membuat onar di sekolahan, jika ada yang tidak suka dengan kalian, Kakak mohon tetap diam dan lapor ke Kekak," pesan Pamela.
"Baik Kak," ucap mereka berdua.
"Ya sudah, Kakak tinggal dulu. Nanti sorea kalian harus les, nanti Kakak jemput ya," ucap Pamela.
"Siap Kak, Kakak hati-hati," kata Kety.
"Terima kasih," ucap Bagas.
Membuat langkah Pamela terhenti dan menatap Bagas.
Terlihat mata Bagas yang mulai berkaca-kaca, ia tak mampu menatap Pamela. Akhirnya Bagas langsung memeluk Pamela.
"Kakak sangat baik, terima kasih sudah memperlakukanku dengan baik," ucap Bagas.
Pamela berusaha menenangkan Bagas yang terus menangis karena terharu dengan kebaikan Pamela.
"Sudah jangan menangis, Kakak cuman pengen liat kalian sukses dan hidup enak. Jadi sekarang belajarlah yang rajin, masalah biaya semuanya Kakak yang tanggung," ucap Pamela.
Merkea berdua, menganggukan kepalanya. Pamela akhirnya pergi meninggalkan Bagas dan Kety.
Saat Pamela keluar dari sekolahan Kety, ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit Goldam medica.
"Ternyata dia menyekolahan anak korban perdagangan anak itu disini," ucap Luis.
Luis masuk ke dalam sekolahan itu dan menemui kepala sekolahnya.
Mereka berbincang, tak lama Luis membahas tentang anak yang baru masuk sekolah hari ini.
Kepala sekolah itu memberitahu lima anak baru yang masuk dan memberi tahu penanggung jawabnya.
Luis melihat nama Pamela Deviana sebagai penanggung jawab murid baru yang bernama Bagas akbar.
"Pamela Devina," gumam Luis.
Di dalam perjalanan, Pamela langsung memarkirkan mobilnya masuk ke arah rumah sakit. Dengan mengenakan pakaian sangat formal, Pamela hampit tidak dikenali karena ia terlihat sangat elegan dan mahal.
"Siapa wanita itu?" tanya Perawat Rere
"Apa kamu tidak mengenalnya? Dia adalah Dokter Pamela," jawab Perawat Weni.
"Benarkah! Dia terlihat seperti seorang pejabat. Penampilannya sangat elegan dan terkesan mahal, apa dia orang kaya sungguhan?" tanya Perawat Rere.
Dokter Morgan yang melihat Perawat Rere dan Perawat Weni sedang berbincang cukup heboh, membuatnya langsung mendekat.
"Kalian sedang apa?" tanya Dokter Morgan.
__ADS_1
Perawat Rere menunjuk ke arah Pamela yang sedang berjabat tangan dengan Dokter Boy dan Doktee Zen. Mereka sedang berbincang lalu tersenyum, tak lama Mereka berjalan menuju ruang rapat.
"Bukankah dia Dokter Pamela? Apa itu benar?' tanya Dokter Morgan.
Dokter Morgan terkesimak melihat penampilan Dokter Pamela. Ia tak berhenti menatapanya.
Gambaran ilustrasi Dokter Pamela, ia sengaja menggunakan tas mahalnya.
"Kalian liat apa?" tanya Dokter Feni.
Tak ada yang menjawabnya, membuat Dokter Feni pun akhirnya menatap apa yang ditatap mereka.
'Oh, kalian sedang melihat Dokter Pamela datang,' gumam Dokter Feni.
Lamunan mereka tersadarkan saat mendengar suara telpon berdering.
"Iya hallo."
Suara itu langsung menatap Dokter Morgan dan Dokter Feni, membuatnya diam.
"Ada pasien yang tertusuk besi saat sedang menurunkan bahan bangunan, mereka sedang dalam perjalan menuju rumah sakit," kata Perawat Weni.
"Baiklah, bersiap untuk kedatangan pasien. Siapkan semua alat yang diperlukan," perintah Dokter Morgan.
Semua team sedang mempersiapkan alat sembari menunggu pasien datang. Tak lama siline ambulance berbunyi.
Para medis membawa pasien masuk ke dalam UGD, betapa terkejutnya Dokter Morgan, melihat pasien dengan tujukan besi ditulang pipinya sampai menembus ke kepala.
"Astaga, apa di sungguhan," ucap Dokter Feni.
"Bawa Pasien keruang hibrida! Segera periksa tanda vitalnya, siapkan infus dan siapkan kasa dan larutan garam!" perintah Dokter Morgan.
Pasien masih dalam keadaan diam, ia tidak pingsan dan menangis, membuat Dokter Morgan akhirnya bertanya kepada pasien langsung.
"Apa yang terjadi?" tanya Dokter Morgan.
Pasien itu tetap tidak menjawab apapun, ia tetap diam tanpa bergerak, hanya meneteskan air matanya.
Dokter Morgan seolah mengerti apa yang sedang di rasakan pasien itu.
"Bawa pasien untuk melakukan pindai CT," perinta Dokter Morgan.
Saat pasien dibawa untuk melakukan pemeriksaan pindai CT, Dokter Morgan langsung menghubungi Dokter Boy, yang saat itu sedang melakukan rapat dengan Dokter Pamela dan Dokter Zen.
Tidak mendapat jawaban dari Dokter Boy, akhirnya Dokter Morgan, berjalan menuju ruang rapat.
Dokter Morgan mengetuk pintunya dan langsung masuk.
__ADS_1
Mereka yang ada di dalam, langsung menoleh ke arah Dokter Morgan.
"Maaf, menggangu," ucap Dokter Morgan.
"Ada apa katakanlah?" tanya Dokter Boy.
"Ada pasien yang wajahnya tertuju besi bangunan hingga menembus kepala bagian belakanh Dok, saat ini pasien serang menjalani pindai CT," jawab Dokter Morgan.
Seketika rapat langsung bubar, mereka semua keluar dari ruang rapat dan berjalan menuju UGD, termasuk Pamela. Ia pun berjalan mengikuti ketiga pria itu.
Mereka melihat pasien yang baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan pindai CT, merada terkejut, kerena besi yang menusuk wajahnya itu terlihat sangat panjang.
"Astaga," ucap Pamela langsung mendekati pasien itu.
Pamela melihat sisi besi itu, melihat wajah pasien yang mulai membiru dan respon pasien hanya diam saja, membuat Pamela langsung menyuruhnya untuk melakukan operasi.
"Bawa pasien masuk ke ruang operasi! Sekarang!" perintah Dokter Pamela.
"Bagaimana dengan hasil dari pindai CT?" tanya Dokter Feni.
"Bawa dulu pasien keruang operasi, lakukan anastesi(bius), hasil pindai CT akan keluar setelah 2 menit, setelah itu 5 menit Dokter Akan memutuskan," jawab Pamela.
Dokter Feni yang merasa kesal dengan Pamel, ingin sekali berdebat denagnnya, tetapi melihat Dokter Boy langsung menganggukan kepalanya, menandakan jika pasien harus masuk ke dalam ruang operasi.
Dokter Feni, akhirnya membawa pasien ke ruang operasi.
Hasil pindai CT pun keluar, membuat semua Dokter yanv ada di dalam ruang UGD itu melihat hasilnya.
"Tindakanmu benar Dok Pamela, untunglah Pasien langsung dibawa ke ruang operasi, jika tidak akan ada saraf yang tidak berfungsi," kata Dokter Zen.
"Untunglah, besi itu hanya menusuk bagian tulang pipi, tidak mengenai saraf di dalamnya, hanya saja, ada salah satu saraf di bagian kepala belakang, letaknya ada di otak kecil, sRaf ini terhimpit antara tulang dan besi, jadi itu yang membuat pasien tidak bisa merespon apapun," jelaa Dokter Pamela.
Semua orang tercengang, melihat penjelasan Dokter Pamela yang sangat masuk akal.
"Wah, aku memang tidak pernah meragukannya," kagum Dokter Boy.
"Dokter Morgan, kau yang menjadi asistenku, dan tugas Dokter Pamela yang bertugas mengeluarkan besi itu dari tubuh pasien, dan Dokter Feni yang menjadi asistennya, ayok kita segera masuk ke dalam ruang operasi," perintah Dokter Boy.
Pamela langsung mengganti pakaiannya, ia menggunakan pakaian operasi dan langsung mencuci tangannya di depan ruang operasi.
Semua team sudah bersiap didalam ruang operasi, semua alat untuk memotong besi pun sudah siap.
Pamela masuk ke dalam, ia langsung memakai handscoon (sarung tangan medis) dan menggunakan hasmet.
Dokter Feni, menatap terkejut saat Pamela sedang memakai hasmet.
'Dia yang menjadi Dokter utama, mengoprasi pasien ini? Sial!' gumam Dokter Feni.
Dengan rasa kesalnya, Dokter Feni akhirnya menjadi asisten Dokter Pamela.
__ADS_1
Operasi dimulai.
Bersambung...