Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Surat Perjanjian


__ADS_3

Luis yang berusaha menepisnya, ia masih belom percaya dengan dirinya sendiri yang ternyata menyukai Pamela.


"Buatkan aku surat perjanjian pra menikah," perintah Luis.


Tanpa mengatakan alasannya, Jemi pun langsung membuatkan surat perjanjian itu.


Ketika ia mengetik isi surat itu, Jemi pun terkejut tapi ... ia tidak berani untuk bertanya lebih dalam.


Setelah selesai mengetik surat itu, Luis langsung menemui Pamela yang sedang duduk di ruang santai sambil memakan escream.


"Sudah sore, ayok ku antar pulang," ucap Luis.


Pamela yang sedang menikmati es creamnya langsung menatap Luis.


"Sekarang?" tanya Pamela.


"Tahun depan," jawa singkat Luis, berjalan menahului Pamela.


Pamela merasa bingung dengan tingkah Luis.


"Hay tunggu!" panggil Pamela, menyusul Luis.


Pamela berjalan sampai keluar rumah mewah milih Pimpinan Hanji.


"Masuk lah," perintah Luis.


Pamela masih terheran dengan sikap Luis yang berubah menjadi dingin.


"Apa dia kesurupan jintongmang? Aneh sekali tingkahnya?" gumam Pamela.


Pamela akhirnya masuk ke dalam mobil.


Di dalam perjalanan, Luis menepikan mobilnya. Ia memberikan sebuah map berisi surat perjanjian yang sudah disepakati oleh mereka berdua.


"Apa ini?" tanya Pamela.


"Buka saja, apa isinya," jawab Luis.


Pamela langsung membuka isi dari map itu, ia membaca, bahwa terdapat selembar kertas yang bertuliskan semua kesepakatan yang telah mereka buat.


"Baiklah, aku menyetujuinya. Tapi ..." ucap Pamela.


"Tapi apa?" tanya Luis.


"Jika dari kita melanggar, apa hukuman yang diberikan," tanya Pamela.

__ADS_1


"Tapi, jangan yang berat-berat," sambungnya.


"Terserah kau saja," jawab Luis.


"Baiklah, jika salah satu dari kita ternyata melanggar. Itu artinya aku atau kamu akan mendapat hukuman, membersihkan rumah tanpa bantuan asisten rumah tangga," jelas Pamela.


Luis mengerutkan dahinya.


"Hukuman yang sangat aneh," kata Luis.


"Kau jangan salah sangka, membersihkan rumah itu jauh lebih melelakan dari pada kau bekerja seharian dikantor. Apa kau mau mencobanya?" tanya Pamela.


Luis hanya terdiam, tetapi Pamela menggodanya.


"Hayolah, jawab aku. Apa perlu kita uji coba?" goda Pamela, menatap Luis dengan wajah yang sangat menggemaskan.


Luis merasa salah tingkah, ia sesekali menatap Pamela yang tingkahnya seperti anak kecil. Ia sangat berbeda saat sedang di rumah sakit dan di tempat club.


"Apa kau tidak pernah membersihkan rumahmu?" tanya Pamela.


Luis menggelengkan kepalanya.


"Pantas saja, kau hanya diam," ucap Pamela.


"Apa ini?" tanya Luis.


"Jadi kau dari tadi tidak mendengarkanku? Lalu apa yang kau dengar," jawab Pamela.


Merasa malu dengan Pamela, akhirnya Luis mengiyakan keputusan yang dibuat Pamela.


"Aku harus mengantarmu kemana?" tanya Luis.


"Kau harus mengantarku kerumah Nenekku, nanti kau masuk jalan Anggrek 2," jawab Pamela.


Luis mengantarkan Pamela kerumah Nek Marlin, saat mobil mewah itu memasuki komplek cluster, terlihat dua anak kecil sedang bermain bulu tangkis di depan rumah.


Mobil Luis, berhenti di depan rumah itu.


"Apa ini rumahmu?" tanya Luis.


"Iya, apa kau ingin masuk," tawar Pamela.


"Lain kali saja, aku sedang terburu-buru," ucap Luis.


"Baiklah, mulai besok kau bisa menjemputku disini, atau aku sendiri yang akan pergi menemuimu," kata Pamela.

__ADS_1


Luis hanya menganggukan kepalanya.


Saat Pamela keluar, mobil Luis langsung melaju, meninggalkan Pamela yang masih berdiri didepam gerbang.


"Kak Pamel!" panggil Kety.


"Apa kalian tidak sekolah?" tanya Pamela.


"Apa Kakak lupa, jika sekolahan ku hari sabtu dan minggu libur," jawab Kety.


"Astaga, Kakak lupa. Dimana Nenek?" tanya Pamela.


"Nenek ada di dalam," jawab Bagas.


Pamela langsung masuk ke dalam, ia melihat Nek Marlin sedang duduk sambil membaca majalah.


"Nenek! Tolong aku," panggil Pamela.


"Ada apa lagi? Apa ada yang menggangumu?" tanya Nek Marlin.


Pamela menganggukan kepalanya.


"Siapa dia, katakan pada Nenek, akan Nenek hajar dia," kata Nek Marlin.


"Ini berbeda Nek," ucap Pamela.


"Apa maksudmu, katakan dengan jelas. Jangan membuat Nenek semakin penasaran," desak Nek Marlin.


"Apa Nenek tahu, cucu Pimpina Hanji. Pria yamg arogan dan sombong itu, kenapa aku harus berurusan dengannya. Ini membuatku hampir gila," kata Pamela.


"Nenek tidak bisa mencerna ucapanmu. Apa yang sedang terjadi, lalu apa hubunganmu dengan cucunya?" tanya Nek Marlin.


"Dia akan menikahiku," jawab Pamela.


Pamela menatap lesu Nek Marlin seolah maalas menceritakan semuanya dari awal.


"Apa pernikahan ini rekayasa?" tanya Nek Marlin.


Pamela langsung menatap tajam Nek Marlin, dengan terpaksa, Pamela menceritakan alasan Luis akan menikahinya. Membuat Nek Marlin sempat terkejut dengan penjelasan Pamela.


"Terkadang jodoh bisa datang kapan saja, tanpa rasa cinta dan tanpa saling mengenal satu sama lain. Semua itu akan terbiasa ketika kalian saling mengenal satu sama lain. Nenek rasa Luis menyukaimu," ucap Nek Marlin.


"Entahlah, aku tidak bisa berkata apapun."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2