
Melihat Dokter Morgan sibuk menangani pasien yang terus berdatangan, jika Dokter yang melekat di hati Pamela, membuatnya langsung bergabung di dalam ruang UGD tanpa ada yang yang menyadarinya, hanya beberapa perawat yang menjadi asistennya.
"Dokter, apa ada Dokter baru di rumah sakit ini?" tanya Perawat Weni.
Dokter Morgan langsung menoleh dan menggelengkan kepalanya.
"Memangnya ada apa?" tanya Dokter Morgan.
Perawat Weni menujuk ke arah Pamela yang sedang menjahit luka pasien di ranjang B.
Dokter Morgan yang sudah selesai menangani pasien, membuatnya langsung melangkah mendekati Pamela yang sedang menjahit dengan sangat trampil.
Mereka semua menyaksikan kemampuan Pamela dalam menangani pasien, Perawat yang menjadi asistennya pun memberi kode kepada Pamela. Jika dirinya di perhatikan oleh seluruh staf UGD, tetapi, Pamela tidak menggubrisnya.
Selesai menjahit, Pamela memberitahu kepada pasien tentang perawatan luka jahit (heacting), setelah selesai memberitahu dan melepaskan sarung tangan medis di atas naka, Pamela menoleh ke arah luar.
Pamela sangat terkejut melihat di hadapannya, ada Dokter dan Perawat yang memandanginya. Ia langsung tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Hai ..." sapa Pamela membuat Dokter Feni langsung angkat bicara.
"Siapa kau? Lancang sekali masuk ke dalam ruang UGD yang bahkan bukan Dokter yang bekerja di sini," tanya Dokter Feni dengan nada ketusnya.
Pamela langsung menundukan kepalanya, ia mengakui jika dirinya salah.
Dokter Boy mendengar keributan di ranjang B, membuatnya langsung mendekat ke arah mereka hang bergerumun.
"Ada apa ini ramai-ramai, kalian semua bubar! Kembali ke tugas masing-masing," ucap Dokter Boy.
Sebagian orang mulai meninggalkan ranjang B dan kembali ke tempatnya maaing-masing, hanya tersisa Dokter Feni, Morgan dan Dokter Boy.
Mereka bertiga menatap Pamela yang sedang berdiri menunduk.
"Ikut ke ruanganku," perintah Dokter Boy.
Dokter Fen pun bingung, kenapa Doktee Boy tidak menghukumnya.
"Dok!" panggil Dokter Fen.
Dokter Boy langsung mengedipkan matanya ke arah Dokter Feni, seolah memberi tahu jika tidak membuat keributan di dalam ruang UGD.
Pamela langsung di bawa ke ruangan Dokter Boy, di sana dirinya di sidang habis-habis karena melanggar peraturan rumah sakit.
"Kau tahu kesalahanmu apa?" tanya Dokter Boy.
__ADS_1
Pamela masih terdiam, ia belom mengatakan apapun, hal ini membuat Dokter Feni sangat geram dengannya.
"Apa kau tuli! Jawab pertanyaan dari Dokter Boy," geram Dokter Feni.
"Dokter Feni, beri wanita ini kesempatan untuk menjawab, mungkin dia sedang berfikir," sahut Dokter Boy.
Cukup lama terdiam, Pamela akhirnya angkat bicara.
"Maafkan saya Dok, saya lancang menyerobot ruang UGD, saya melihat banyak sekali pasien yang berdatangan, akhirnya saya membantu Dokter itu, untuk meringankan tugasnya, saya melupakan peraturan setiap rumah sakit, sekali lagi maafkan saya Dok," jelas Pemala menujuk Dokter Morgan, yang membuat Dokter Feni merasa cemburu.
Dokter Feni langsung menatap Dokter Morgan, terlihat tingkah lakunya yang cemburu dengan Pamela.
"Apa kau seorang Dokter? Siapa namamu," tanya Dokter Feni.
"Saya seoramg Dokter yang pernah bekerja di Rumah Sakit Utama Medika, tetapi sekarang sudah tidak lagi, saya di fitnah telah melakukan malpraktek di rumah sakit itu, hingga saya di pecat," jawab Pamela.
"What! Hebat sekali anda bisa masuk ke rumah sakit itu, apa kau ngarang?" ucap Dokter Feni.
"Kau tidak bersalah, kau boleh pergi, mulai besok kau bisa bekerja di rumah sakit ini," sahut Dokter Boy membuat Dokter Feni tercengang kaget.
"Dokter Boy! Apa anda tidak salah memutuskan? Reputasinya jelek di rumah sakit besar itu," ucap Dokter Feni.
Dokter Morgan hanya bisa terdiam menatap Pamela yang ternyata seorang Dokter, ia langsung mendekati Pamela.
"Iya Dok, apa aku salah jika aku membantu kalian, aku hanya tidak tega melihat para pasien harus di tangani dengan cepat, nyawa mereka bergsntung kepada kita," jawab Dokter Pamela membuat Dokter Boy langsung menoleh ke arah Pemala.
"Kau tidak salah, hanya peraturan UU kesehatan yang tidak mengijinkanmu menangani pasien di rumah sakit yang kau bukan karyawan rumah sakit itu sendiri, tapi kita tidak perlu memperumit masalah ini, jangan sampai orang dinas mengetahui semuanya," jelas Dokter Morgan.
"Kau benar sekali, ini juga bukan masalah besar, kita selesaikan sampai di sini," ucap Dokter Boy.
Pamela langsung merasa lega, ia melihat ucapan Dokter Morgan sedikit meluruskan dan membelanya.
Akhirnya masalah yang ada di UGD sudah di anggap selesai, dan Pamela mendaoat pekerjaan di rumah sakit baru, tetapi Pamela belom memberi jawaban, ia meminta waktu kepada Dokter Boy.
Pamela keluar dari ruangan Dokter Boy, dan kembali ke ruangan VIP.
Dokter Feni, merasa kesal dengan keputusan DokterBoy dan Dokter Morgan yang tidak menghukum Pamela.
Perdebatan tadi, melupakan mereka untuk menanyakan nama Pamela, mereka tidak tahu jika wanita cantik yang membantu tugas Dokter Morgan adalah Dokter Pamela Deviana.
"Lalu siapa nama wanita sok pinter itu?" tanya Dokter Feni.
Mereka saling pandang, Dokter Boy langsung melipat tangannya, ia pun lupa menanyakan siapa nama Pamela.
__ADS_1
"Aku tidak tahu," jawab Dokter Morgan dengan wajah polosnya.
Dokter Feni pun hanya bisa menghembuskan kepalanya, ia langsung berjalan meninggalkan Dokter Boy dan Dokter Morgan, yang masih berdiri di ruangannya.
.
.
.
"Bagaimana bisa kasus Dokter Pamela sudah tidak di tayangkan di televisi dan beritanya sudaj di tutup, bahkan kasusnya pun sudah tidak bisa di akses, bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" tanya Dokter Anton kepada Dokter Arif.
Dokter Anton menujukan berita Pamela yang tidak bisa akses lagi, semua akun sudah ditutup rapat-rapat, membuat Dokter Arif pun bingung.
Semua orang yang bergabung menyingkirkan Pamela merasa kaget dengan berita yang di edarkan oleh mereka, tiba-tiba hilang begitu daja bagai bak ditelan bumi.
Berita ini sampai di telinga Profesor Handoko selaku direktur rumah sakit.
Profesor Handoko terlihat bingung dengan berita malpraktek yang dilakukan Pamela kini langsung hilang begitu saja, semua akun yang menyebarkan tidak bisa di akses, membuatnya ikut bingung.
"Siapa sebenarnya gadis itu," gumam Profesor Handoko.
....
Dokter Anton langsung berjalan dengam tergesa-gesa membuat Dokter Zen yang melihatnya merasa tidak beres, ia berjalan menuju ruangan direktur.
Sampai di depan ruangan Profesor Handoko, Dokter Anton langsung mengetuk pintu ruangan itu dan masuk ke dalam.
"Pak, apa anda sudah mendengar kabar buruk?" tanya Dokter Anton.
Profesor Handoko langsung menoleh ke arah Dokter Anton.
"Apa itu tentang berita Dokter Pamela yang tidak bisa di akses?" jawab Profesor Handoko.
Dokter Anton menganggukan kepalanya, ia tidak menyangka dengan semua yang terjadi.
"Aku rasa dia memiliki koneksi yang sangat kuat," ucap Profesor Handoko.
"Mana mungkin Prof, melihat daftar riwayat hidupnya saja, dia gadis biasa yang tidak memiliki siapapun, hanya tinggal dengan wanita tua di gubuk yang sangat kecil, itu hal yang mustahil Prof," sahut Dokter Anton.
Profesor Handoko hanya terdiam mendengar penjelasan Dokter Anton, tapi dia merasa jika Pamela bukan wanita biasa pada umumnya.
"Aku di mana?"
__ADS_1
BERSAMBUNG....