Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Dua Planet


__ADS_3

Setelah bertemu Luis, Pamela memutuskan untuk menemui Kevin untuk memeriksa kondisinya.


Langkah kaki yang menggunakan hells, terdengae cukup keras. Pamela langsung membuka pintu ruangan Kevin.


Pamela mencium aroma yang sangat mengugah rasa laparnya.


"Hem ... wangi apa ini?" tanya Pamela.


Seketika Kevin terkejut dengan kedatangan Pamela yang tiba-tiba.


'Aduh, matilah aku. Kenapa dia datang diwaktu yang tidak tepat,' gumamnya.


"Apa kau memakan ramen?" tanya Pamela.


"Ini milik Aril. Iya ini miliknya, aku hanya memegangnya saja," jawab Kevin.


"Aril ikut denganku di club, mana mungkin dia sudah pulang duluan," ucap Pamela.


"Baiklah, aku mengaku. Aku tidak bisa berbohong denganmu, aku sangat ingin makan ramen, jadi aku memasaknya," jelas kevin.


"Kau ini belom diperbolehkan makan ramen, apa kau tahu? Kau keracunan minuman yang kemarin kau minum,"ucap Pamela.


Pamela merebut ramen yang dipegang Kevin.


Pamela memakan ramen itu dengan cepat kilat, Kevin hanya bisa memandangi ramennya saat Pamela melahapnya.


"Tidak sopan sekali kau merebut ramenku," gerutu Kevin.


"Apa katamu?" tanya Pamela.


"Tidak! Aku hanya ingin bertanya tentang racun yang ada dijus itu," jawab Kevin.


"Apa itu racun yang mematikan?" tanyanya.


"Tidak, itu hanya obat pencahar saja. Kau akan terus-terusan kekamar mandi, tapi dia tidak mematikan hanya saja akan membuat mu dehidrasi," jawab Pamela.


"Kurang ajar, aku harus memberi pelajaran kepada dia," kesal Kevin.


"Siapa maksudmu?" tanya Pamela.


"Petugas perpajakan, kemarin aku sempat berbincang sedikit, setelah ku minum jus itu tak lama perutku merasa sakit," jawab Kevin.


"Sudah jangan dibahas, yang penting kau baik-baik saja," ucap Pamela.


Merasa kenyang, Pamela pun langsung mengambil air dingin dan langsung meneguknya.


"Kenyang," ucap Pamela.


"Lalu aku makan apa?" tanya Kevin.


"Aku membawa roti untukmu, nih," jawab Pamela.


Kevin menerima roti itu dan langsung memakannya dengan terpaksa.


"Apa kau bertemu dengan Luis?" tanya Kevin.


Pamela yang sedang berleha-leha karena merasa sangat kenyang, langsung mendekati Kevin.

__ADS_1


"Aku bertemu dengannya, lalu dia sudah mengetahui, jika aku adalah Peimel," jawab Pamela.


"Lalu?" tanya Kevin, langsung menghentikan kunyahanya.


"Aku pikir dia akan marah dan menghukumku. Tapi ... dia malah mengajakku menikah karena semua ini keinginan Pimpinan Hanji," jawab Pamela.


"Apa!" seru Kevin.


Pamela yang merasa tidak semangat, langsung menatap Kevin yang terlihat sangat panik.


"Kau terlihat sangat syok," ucap Pamela.


"Lalu, kau menjawab apa?" tanya Kevin.


"Aku belom menjawabnya, ini sangat sulit. Apa kau tahu? Jika nanti aku menikah dengannya, hidup kita akan seperti sepasang suami-istri yang saling mencintai saat didepan Pimpinan Hanji, tetapi ... jika dibelakang layar, kita akan menjalani kehidupan kita masing-masing," jawab Pamela.


"Jadi, kalian menikah karena Pimpinan Hanji?" tanya Kevin.


"Entahlah, jika tahu seperti ini, aku tidak akan menerima tawaran untuk mengoprasi Pimpinan," jawab Pamela.


"Tapi, jika kau menerima tawaran itu. Hidupmu akan penuh dengan sandiwara, itu sangat melelahkan," ucap Kevin.


"Aku harus bagaimana, aku bahkan tidak menyukainya, bagaimana bisa aku harus berpura-pura menikah dan hidup bahagia dengannya. Rasanya aku ingin pindah planet saja," oceh Pamela.


"Memangnya kau mau pindah ke planet mana? Pluto? Mars?" tanya Kevin.


"Kenapa kau memberikan pilihan yang tidak tidak mengenakan," jawab Pamela.


"Lalu maumu di planet mana?" tanya Kevin.


Pamela berfikir sambil menatap atap ruangan Kevin. Ia membayangkan jika dirinya berada diplanet mars, seketika tubuhnya ikut memerah seperti warna mars.


"Astaga, kenapa semuanya sangat mengerikan," ucap Pamela.


Kevin menoleh ke arah Pamela yang merebahkan tubuhnya di sofa.


"Apa kau membayangkan tinggal di dua planet?" tanya Kevin.


Pamela menganggukan kepalanya. "Sangat menyeramkan," jawabnya.


"Sudah sana istirahat, kau bisa gila jika terus membayangkan semua itu," ucap Kevin.


Pamela melihat Kevin pergi dari ruangannya, membuat Pamela langsung memejamkan matanya. Ia terlihat sangat lelah, seketika ia langsung tertidur pulas.


Kevin yang sedang mengambil sesuatu di luar ruangannya, ia tak menyadari jika Pamela sudah tertidur pulas di dalam ruangannya.


Saat Kevin kembali kedalam ruangannya, ia hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Pamela sudah tertidur.


"Enak sekali dia, lepas makan langsung tidur," ucap Kevin.


Kevin merasa belom mengantuk, ia pun menyalakan komputernya dan memain game, membuatnya tidak tidur sampai pagi tiba.


Saat pagi tiba, Kevin mulai merasa mulai mengantuk. Ia pun memejamkan matanya diatas meja kerjanya.


Mereka tertidur di dalam ruangan Kevin. Pamela yang mempunyai kebiasaan bangun siang pun, saat ini masih memejamkan matanya sampai akhirnya Aril masuk ke dalam ruangan Kevin.


"Astaga!" seru Aril.

__ADS_1


Sayup-sayup Pamela membuka matanya, tubuhnya terasa sangat sakit.


"Ya ampun! Ada apa denganmu!" panik Aril.


Aril sangat terkejut melihat Pamela yang sudah tidur di lantai depan pintu masuk, ia terlihat tidur meringkuk menahan dingin.


"Berisik sekali," ucap Pamela dengan suara yang serak.


"Hay, Pamela! Bangun! Sana pindah ke sofa," perintah Aril.


Pamela membuka matanya dan terkejut melihat dirinyaa tidur di lantai.


"Astaga, kenapa aku ada disini?" tanya Pamela.


"Kau malah tanya dengan aku, lalu aku bertanya dengan siapa?" jawab Aril dengan wajah yang bingung.


"Jam berapa ini?" tanya Pamela.


"Jam 8 pagi, apa kau tidak bekerja?" jawab Aril.


Pamela menggelengkan kepalanya.


Di rumah Nek Marlin.


Citra merasa senang berada di rumah Nek Marlin, ia bermain dengan Kety dan Bagas.


Tiba-tiba suara ponsel Citra berdering, membuatnya harus mengangkat.


Citra: "Hallo."


Bramasta: "Dimana kamu?"


Citra: "Aku bersama dengan Kak Pamela, aku tidur disini."


Bramasta: "Apa kau tidak ingat pulang? Katakan dimana kau berada, biar supir yang menjemputmu."


Bramasta, terlihat sangat marah. Karena Citra tidak pulang.


Citra: "Aku tidak mau pulang! Biarkan nanti Kak Pamela yang mengantarku pulang, aku jenuh dirumah tidak ada siapapun, ayah, ibu pergi dan pulang larut malam. Biarkan aku disini."


Bramasta terdiam, karena ia merasa sudah melupakan keluarganya, karena sibuk bekerja.


Telpon pun langsung dimatikan begitu saja.


"Sayang, bagaimana keadaan Citra?" tanya Sherlin.


"Dia bersama Pamela," jawab Bramasta.


Bramasta langsung pergu begitu saja dengan rasa yang sangat kesal.


Sherlin hanya mampu memandangi suaminya.


Di gedung Ziny Musik.


Pamela langsung pindah ke sofa dan tak lamaa ia tertidur kembali, saat ia akan memejamkan mataanya kembali. Tiba-tiba ponselnya berdering, Pamela berusaha mengabaikan suara itu tapi ... Ponselnya terus berdering membuat Pamela merasa kesal.


Pamela langsung meraih ponsel itu tanpa melihat siapa yang menelponny.

__ADS_1


"Hallo!"


Bersambung...


__ADS_2