
Tak sengaja di dalam pesta anniversary, Bramasta dan Sherlin, ada seorang mafia yang selama ini dicari oleh Pamela.
Pamelq melihat mafia itu sedang duduk bersama seorang pria, ia terlihat sedang berdiskusi dan tertawa bersama.
"Aku sangat yakin, dia orangnya," gumam Pamela.
"Siapa yang kau maksudkan?" tanya Luis.
Pamela langsung terdiam, ketika mendengar suara pria yang tak asing baginya, dengan rasa penasaran. Pamela langsung menoleh, ia melihat Luis berdiri disampingnya.
Perlahan langkah menjauh dari Luis.
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Pamela dengan wajah yang sangat terkejut.
Luis menoleh dan tersenyum kepada Pamela.
"Seorang pembisnis mana yang tak mengenal Bramasta, dia adalah rekan kerjaku," jawab Luis.
Pamela langsung mengarahakan pandangannya pada mafia yang bernma Rozak.
"Baiklah, itu artinya kau mengenal pria yang menggunakan jas abu-abu itu," tunjuk Pamela.
Luis langsung melihat kemana arah jari Pamela menunjuk, matanya tertuju pada Rozak yang sedang tertawa.
"Itu Rozak, dia memiliki banyak bisnis dimana-dimana, termasuk bisnis Bramasta," ucap Luis.
"Apa kau mengenal mereka?" tanya Luis.
"Tidak, aku hanya penasaran dengan semua yang dia lakukan," jawab Pamela.
"Sepertinya kau menyukainya," ucap Luis.
Pamela langsung menatap tajam Luis, tangannya dengan sengaja mencubit lengan Luis, sehingga membuatnya meringia kesakitan.
"Beraninya kau mencubitku, au ..." ucap Luis.
"Otak pria mesum," kesal Pamela, langsung pergi meninggalkan Luis.
Luis menatap Pamela yang berjalan seperti seorang lelaki.
"Dia sangat unik," ucap Luis.
Pamela langsung menghubungi Kevin, ia mengirim pesan kepadanya.
Pamela: "Aku menemukannya."
Pesan terkirim, tak lama ponsel milik Kevin berdering.
"Kak!" panggil Citra.
Membuat Pamela menoleh, " Iya ada apa?" tanyanya.
"Kakak tadi sedang berbicara dengan siapa? Dia sangat tampan dan keren," sahut Citra.
"Kenapa? Apa kau menyukainya?" tanya Pamela.
Dengan malu-malu, Citra menganggukan kepalanya, membuat Pamela langsung sangat heran dengan tinhkah adiknya.
"Sekolah dulu yang bener, dia bukan pria baik, sudah lupakanlah," ucap Pamela.
"Apa maksud Kakak, dia tidak terlihat seperti bajingan, memangnya kalo aku masih sekolah kenapa? Tidak boleh suka sama om om ganteng seperti dia," tanya Citra.
Pamela menghembuskan napasnya dengan kasar, ia langsung menatap tajam Citra.
__ADS_1
"Lihat aku," ucap Pamela.
Citra menatap Pamela.
"Semua pria tidak baik, jadi kau harus berhati-hati, jangan melihat dia dari covernya. Kau fokus saja belajar dan kejar mimpimu," pesan Pamela.
"Kenapa Kakak jadi aneh, aku hanya mengaguminya," ucap Citra.
Pamela merasa ucapannya sangat berlebihan, membuatnya langsung pergi meninggalkan Citra seorang diri.
Citra menatap Kakaknya pergi menjauh dari hadapannya.
Luis sedang berbincang dengan banyak Kliennya yang menjadi tamu undangan, ia langsung mendekat Rozak yang sedang duduk.
"Kau cucu dari Pimpinan Hanji?" tanya Rozak.
Luis, menganggukan kepalanya, mereka saling menyapa satu sama lain.
"Aku dengar kau mau membuka club malam terbesar di asia tenggara, apa itu benar?" tanya Rozak.
"Anda benar Pak," jawab Luis.
"Kau sangat sukses dengan bisnismu, sepertinya kita perlu silahturahmi untuk membangkitkan bisnis semakin maju dan jaya," ucap Rozak.
Luis langsung menatap Rozak, terlihat dari sorot matanya, bahwa ia akan bermain api di belakang Luis. Dengan entengnya, Luis mengiyakan tawaran dari Rozak.
"Aku rasa begitu, kapan kita mengadakan pertemuan secara pribadi?" tanya Luis.
Senyum manis, tersungging di bibir Rozak.
"Besok akan saya hubungi lagi," jawab Rozak.
Mereka berdua memutuskan untuk menjalin bisnis bersama, terlihat dari niat Rozak yang tidak baik terhadap Luis, ia berfikir jika Luis tidak mengetahui niatnya.
Tangannya menyentuh telinga dan ia langsung berkata. "Aku sudah bertemu dengannya dan melakukan kerja sama."
Suara itu langsung terkoneksi dengan Pimpinan Hanji dan ia langsung tertawa.
Luis langsung menuju rumah Pimpinan Hanji, sedangkan Pamela meninggalkan pesta dan pergi menemui Kevin.
Di dalam gedung.
"Sudah ku kirim, bagaimana?" tanya Pamela.
"Kau harus telusuri, apa niatnya ikut bekerja sama dengan keluarga besarmu," jawab Kevin, langsung memutar kursinya ke arah Pamela.
Kevin sangat kagum melihat penampilan Pamela yang sangat berbeda dengan sebelumnya, membuatnya langsung memuji.
"Kau terlihat sangat berbeda, aku hampir saja lupa jika kau Pamela," ucap Kevin.
"Apa selama ini matamu minus? Bagaimana bida kau baru menyadari jika diriku ini sangat memukau," sahut Pamela dengan penuh percaya diri.
"Kau terlalu percaya diri," ucap Kevin.
Di dalam pesta.
Citra sibuk mencari Pamela, tetapi ia tidak menemuinya dan ia pun mencari keberadaan Luis, pria yang sangat ia kagumi. Tetapi ia pun tidak menemukannya.
"Kemana dia?"
"Begitu juga pria tampan itu, apa Kak Pamela berpacaran dengannya?"
Citra terlihat sangat gelisah, ia punlangsung pergi meninggalkan pesta yang belom selesai.
__ADS_1
Akhirnya, pesta anniversery Bramasta dan Sherlin, berakhirny sangat hikmat. Semua tamu undangan pergi meninggalkan pesta itu, sekarang hanya tersisa Sherlin dan Bramasta yang masih dengan senyuman melihat kepergian para tamu undangan.
"Hati-hati, terima kasih sudah datang."
"Terima kasih."
Ucapan ity tidak keluar dari bibir indah milik Sherlin.
Saat semua tamu undangan sudah menajauh dari acara pesta itu, kini Sherlin langsung terduduk dan melepaskan hellsnya.
"Ini sangat melelahkan," ucap Sherlin.
"Kau tadi, melihat Pamela?" tanya Bramasta.
"Iya, aku sempat berbincang dengannya, tapi kenapa aku tidak melihatnya lagi ya," jawab Sherlin.
"Aku rasa dia pergi meninggalkan pesta saat acara potong kue berlangsung," ucap Bramasta.
"Biarkan saja, dia memang berbeda dengan Citra," ucap Sherlin.
Tak lama, Pamela masuk ke dalam rumah. Ia melihat Bramasta dengan Sherlin sedang duduk di ruang tengah.
"Pamela!" panggil Sherlin.
Bramasta langsung menoleh ke arah Pamela saat Sherlin memanggil namanya.
"Dari mana kau?" tanya Bramasta.
"Aku keluar menghirup udara segar," jawab Pamela.
Pamela langsung berjalan mendekati Bramasta.
"Apa ayah mengenal pria ini?" tanya Pamela, langsung menunjukan foto Rozak.
Bramasta langsung menatap foto itu dengan tatapan yang sangat terkejut.
"Dari mana kau mendapatkan foto ini?" tanya Bramasta.
"Jawab aku dulu ayah," jawab Pamela.
"Apa ayah mengenal pria ini?" tanya Bramasta.
Bramasta langsung menatap tajam Pamela yang dengan serius menanyakan siapa pria itu.
"Dia Klien ayah, memangnya ada apa?" jawab Bramasta.
"Ayah harus membatalkan kerja sama dengannya," pinta Pamela.
"Ada apa? Kenapa kau mulai peduli dengan ayah dan perusahaan yang ayah bangun selama ini," tanya Bramasta.
Pamela terjdiam, ia bingung harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak, tapi jika dibiarkan Rozak akan segera menghancurkan perusahaan yang sudah di bangun oleh orang tuanya.
"Kenapa diam? Jawab ayah?" tanya Bramasta.
"Apa kau tidak ingin melihat usaha ayah semakin meningkat?" sambungnya.
Pamela masih terdiam, ia tidak mengatakan apapun.
BERSAMBUNG...
Maaf ya guys beberapa hari gak update, author lagi yang enak badan.
Mohon dukung terus karyaku, terima kasih.
__ADS_1