Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Belom sadarkan diri


__ADS_3

Operasi pun berjalan dengan lancar, semua team yang ada di dala. Ruang operasi itu langsung memindahkan Pimpinan Hanji ke dalam ruangan pulih sadar.


Dokter Boy dan Dokter Pamela pun mulai melepaskan hasmetnya, mereka saling menyapa satu sama lain.


"Dokter Boy, kau sangat hebat," ucap Perawat Weni.


"Kalian semua team yang sangat hebat," ucap Dokter Boy.


"Dan kau Dokter Pamela, kau sangat hebat, kita semua berhasil," ucap Peawat Weni.


"Kita semua hebat," sahut Dokter Pamela.


Saat Dokter Pamela, Dokter Boy dan Dokter Morgan keluar dari ruang operasi, langkah mereka terhenti saat melihat Luis sudah berdiri di depan ruang operasi.


Luis menatap Dokter Boy dengan wajah yang cukup khawatir.


"Bagaimana kondisi Kakekku?" tanya Luis.


"Pimpinan Hanji belom sadarkan diri, efek dari obat bius membuatnya belom sadar mungkin akan memakan waktu kurang lebih besok sampai dua hari kedepan," jawab Dokter Boy.


Luis kembali keruangan VIP, ia menyuruh Pak Adit untuk memantau semua kondisi bisnis milik Pimpinan Hanji, Pak Adit pun laangsung pergi meninggalkan Luis.


'Kenapa jantungku berdetak kencang saat melihat Pamela keluar dari ruang operasi,' gumam Luis di dalam hati.


Luis memegang dadanya yang tiba-tiba kembali berdetak.


Di ruang pulih sadar.


Pamela memantau kondisi pimpinan Hanji, ia melihat kondisi Pimpinan yang masih stabil.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Dokter Boy.


"Sejauh ini semua tanda-tanda vitalnya stabil Dok, apa karena faktor usia ya Pimpinan Hanji belom juga siuman," jawab Pamela.


Dokter Boy, memeriksa semua rekam medik milik Pimpinan Hanji.


"Kita tunggu dua, jika Pimpinan belom juga sadar, kita perlu melakukan pindai CT kembali," pinta Dokter Boy.


"Baiklah Dok," ucap Pamela.


Pamela kembali ke ruang UGD, ia seperti biasa melakukan pemeriksaan kepada pasien yang baru datang di temani Dokter Morgan yang memang berjaga di UGD.


"Kita bawa pasien langsung ke ruang operasi," perintah Dokter Pamela.


"Baiklah, aku yang akan mengoprasi pasien itu," ucap Dokter Pamela.


"Apa kau yakin?" tanya Dokter Morgan.


"Kau akan membantuku," jawab Dokter Pamela.


"Baiklah, aku akan menjadi asistenmu," ucap Dokter Morgan.


Dokter Feni yang merasa kesal dengan keputusan Dokter Morgan, ia pun hanya terdiam. Perawat Rere yang memperhatikan mereka semua, langsung berbisik kepada Perawat Weni.

__ADS_1


"Perawat Weni, aku rasa ada kisah cinta segitiga di UGD ini," bisik Perawat Rere.


"Siapa yang kau maksudkan?" tanya Perawat Weni.


"Siapa lagi, kalau bukan Dokter Morgan, Dokter Feni dan Dokter Pemala, aku rasa Dokter Morgan menyukai Dokter Pamela, tapi Dokter Feni menyukai Dokter Morgan. Ini kisah yang sangat menyakitkan," jawab Perawat Rere.


Dokter Dani yang melihat Perawat Rere sedang bergosip dengan Kepala Perawat Weni, membuatnya langsung mendekat.


"Kalian sedang membicarakan apa?" bisik Dokter Dani.


Perawat Rere yang sedang fokus, bercerita dengan Perawat Weni, merasa kaget dengan kedatangan Dokter Dani.


"Astagfirulloh, Dokter Dani!" panggil Perawat Rere.


"Ada apa?" tanya Dokter Dani.


"Kau mengagetkanku saja, tidak ada apa-apa," jawab Perawat Rere.


"Kenapa dengan Dokter Feni?" tanya Dokyer Dani.


"Hust ...," ucap Perawat Rere langsung mencubit tangan Dokter Dani.


"Jangan keras-keras, nanti dia mendengar ucapanmu dan bisa lebih marah," bisik Perawat Rere.


"Ups, aku lupa," ucap Dokter Dani, langsung menutup mulutnya.


Dokter Feni dengan wajah yang masih cemberut, langsung berjalan menuju ruang staf, ia melangkahkan kakinya dengan sangat cepat, membuat sebagian staf yang ada di ruang UGD, hanya bisa memandanginya.


"Terima kasih sudah mengajariku," ucap Pamela.


Dengan raut wajah yang bingung dan senang, Dokter Morgan menatap senyum manis yang tersungging di bibir Pamela.


"Kau tersenyum denganku?" tanya Dokter Morgan, menunjuk dirinya.


Seketika senyum Pamela berubah menjadi masam.


"Memangnya salah," jawab Pamela.


"Ah tidak, aku hanya sedikit gugup," ucap Dokter Morgan.


Pamela kembali kewajah dinginnya, ia berjalan meniggalkan Dokter Morgan yang berdiri disampingnya.


"Dokte Pamela! Mau kemana?" tanya Dokter Morgan.


Pamela tidak menghiraukan panggilan itu, ia kembali ke ruang staf, untuk mengganti pakaiannya.


"Kau merasa senang, mendapat ilmu dari Dokter Morgan," ucap Dokter Feni.


Langkah kaki Pamela terhenti, ia menoleh ke arah Dokter Feni yang sedang duduk di meja kerjanya.


"Apa maksudmu?" tanya Pamela.


"Kau sengaja mengambil alih pasien itu dan sengaja tidak bisa melakukan operasi, padahal kau bisa melakukannya kan," jawab Dokter Feni.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin aku membiarkan pasien yang sedang dalam kondisi kritis! Apa kau tidak lihat pasien datang dengan peritonitis, apa kau akan membiarkan dia! Hah!" ucap Pamela.


"Dimana kau saat itu? Kau sedang sibuk dengan pasien dengan kecelakaan, apa aku akan membiarkan pasien yang darurat," sambungnya.


Dokter Feni langsung terdiam, ia melihat mata Pamela yang melotot ke arahnya, membuat Dokter Feni langsung pergi meninggalkannya.


Pamela langsung menghelakan napasnya.


"Astaga, ada apa dengannya?" tanya Pamela.


Saat Pamela akan duduk, tiba-tiba suara ponselnya berdering.


Pamela: "Ada apa?"


Kevin: "Kau dimana? Ini sudah lebih dari satu minggu, apa kau tidak akan datang ke gedung Ziny Music lagi?"


Pamela: "Aku sedang sibuk, Pimpinan belum pulih sepenuhnya, aku belom bisa bermain musik, apa ada kabar yang lain?"


Kevin: "Ya sudah, jaga dirimu baik-baik, aku belom mendapatkan apapun, aku hanya mendengar jika gedung yang menyekap anak-anak itu terbakar, itu saja."


Pamela: "Baiklah, semua anak yang menjadi korban perdagangan anak telah selamat, aku harus tutup telpon ini."


Belom sempat Kevin mengatakan apapun, telponnya sudah ditutup oleh Pamela.


"Astaga, dia memang tidak sopan, mematikan telponnya begitu saja," oceh Kevin.


Pamela menoleh kekanan dan kekiri, ia merasa tidak ada siapapun yang melihatnya, membuat Pamela langsung keluar dari ruang staf.


'Dia sedang berbicara dengan siapa? Kenapa aku mendengar tentang music, aku rasa dia bukan Dokter sungguhan,' gumam Dokter Feni di dalam hati.


Melihat Pamela keluar dari ruang staf, membuat Dokter Feni langsung bersembunyi, ia menatap kepergian Dokter Pamela yang semakin menjauh.


"Lihat saja kau ya, aku akan bongkar siapa kau sebenarnya," ucap Dokter Feni.


Sudah melewati hari ke dua, Pimpinan Hanji belom juga sadarkan diri, hal ini membuat Luis semakin bertanya-tanya.


Luis segera menemui Dokter Boy, untuk menanyakan detail kondisi Kakeknya.


Melihat Dokter Boy, sedang berada di dalam ruang ICU, Luis menghentikan langkahnya dan menunggu Dokter Boy keluar dari ruangan ICU.


"Kondisi Pasien semakin menurun, aku khawatir Pimpinan mengalami kerusakan batang otaknya, karena usianya yang sudah senja, membuatnya kesulitan untuk terbangun," ucap Doktee Boy.


"Apa tidak ada cara lain selain berada di ruangan inu Dok, coba lakukan pemeriksaan yang lebih detail," tanya Luis.


Dokter Boy, menatap Luis dengan antusias.


"Kami selalu melakukan pindai CT, dan pemeriksaan MRI, tetapi tidak ada gejala apapun, kondisi jantungnya pun normal, kondisi ini sering terjadi pada pasien yang menderita CA tulang, jadi kau tidak perlu khawatir," jawab Dokter Boy.


"Sampai kapan aku akan menunggu Kakekku sadar?" tanya Luis.


Dokter Boy, menatap Luis kembali. Ia langsung mendekatkan dirinya lalu berkata.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2