Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Keputusan sepihak


__ADS_3

Pemale dan Adil adalah teman saat kuliah, mereka bertemu kembali di rumah sakit tempat Pamela bekerja. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat romantis, nyatanya persahabatan mereka lah yang membuat momen-momen romantis itu tumbuh.


Mereka bersenda guarau sampai akhirnya Pamela bertanya kepada Adil.


"Ada urusan apa kau datang kemari?" tanya Pamela.


"Kau tau pasien Zamudin? Dia adalah adik dari ayahku, jadi aku ingin menyaksikan operasinya," jawab Adil.


Pamela langsung terdiam, menatap Adil dengan wajah serius.


"Apa kau serius?" tanya Pamela.


Adil menganggukan kepalanya, membuat Pamela langsung membuang napasnya secara kasar.


"Apa kau mengenal Dokter Sintia?" tanya Pamela.


"Aku mengenalnya? Memangnya ada apa?" jawab Adil.


"Baiklah, tidak apa-apa," ucap Pamela.


"Tunggu, apa kau tau siapa saja daftar dokter yang akan ikut serta dalam operasi pasien VIP?" tanya Pamela.


Adil langsung menunjukan daftar dokter yang akan terlibat di dalam operasi, ketika Pamela melihat ponsel Adil. Betapa terkejudnya ia saat melihat daftar itu tidak ada namanya, hatinya terasa sangat sakit, ia yang berjuang memeriksa pasien VIP, ia juga yang selalu mengunjungi pasien. Tapi kehadirannya tidak dianggap.


Adil yang melihat, Pamela setelah melihat ponselnya, langsung murung dan terdiam, membuatnya bingung dengan sikapnya yang berubah drastis.


"Ada apa?" tanya Adil.


Pamela langsung tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Aku baik-baik saja," jawab Pamela.


"Baiklah, habiskan makanamu, aku harus segera kembali ke ruang UGD," ucap Pamela.


Adil segera menghabiskan makananya, dan Pamela pun pergi keruang UGD.


"Pasien datang!"

__ADS_1


Petugas ambulan pun datang membawa pasien dengan luka bakar yang cukup parah.


Pamela langsung menanyakan kondisi pasien saat ini.


"Bagaimana tanda-tanda vitalnya?" tanya Pamela.


"Tekanan darah 90/70mmhg, denyut nadi 87 kali permenit, pernapasan 20 kali permenit. Pasien sempat mengalami sesak napas, kita gunakan Oksigen," jelas petugas ambulance.


Pasien langsung mendapat perawatan insentif oleh Pamela dan Dokter lainnya, karena keparahan yang di alami pasien, mau tidak mau pasien harus di rujuk ke rumah sakit yang ada di singapure.


Dengan cepat Pamela langsung menghubungi rumah sakit X, untuk mengonfirmasi jika ada pasien dengan luka bakar yang serius.


Sejauh ini pasien dengan luka bakar masih dalam keadaan stabil, tindakan Pamela yang sangat kilat menangangi pasien. Membuat Dokter Zen tersenyum bangga, dengan keahlian yang di miliki Pamela.


Terlalu sibuk di UGD, ia tidak mengingat jika pasien VIP melakukan operasi pertamanya, ia tidak melihat jam sama sekali, pasien di UGD yang terus berdatangan.


Pamela baru bisa meluruskan kakinya pukul 9 malam, ia duduk termenung sambil mengatur napasnya. Dokter Zen memberikan minuman dingin untuk melepaskan dahaga yang di rasakan Pamela.


"Terimakasih Dok," ucap Pamela.


"Aku dengar operasi pasien VIP telah berlangsung," ucap Dokter Zen, membuat Pamela langsung menatap tajam Dokter Zen karena terkejut.


Pamela langsung bangkit dari tempat duduknya, ia berlari menuju ruang Operasi 1 untuk menyaksikan operasi yang sedang berlangsung, ada cameramen di dalam ruang operasi, untuk merekam tindakan operasi.


Pamela terdiam melihat seorang wanita yang sangat mirip dengannya, berada di dalam ruang operasi.


'Apa dia Dokter Sintia? Lalu kenapa Dokte Arif melibatkanku untuk mengikuti operasi ini, nyatanya posisiku di gantikan secara sepihak olehnya, permainan apa ini? Siapa Dokter Sintia itu?' Batin Pamela.


Ada rasa sedih dan kecewa yang terlintas di dalam hatinya, ia langsung kembalin ke ruang staf, untuk mencari tahu siapa Dokter Sintia itu.


Terlihat begitu serius, ketika Pamela akan mengakses data riwayat hidup Dokter Sintia, ia merasa sangat kesulitan. Akhirnya ia menggunakan trik untuk bisa mengakses secara ilegal, hal ini bisa di pelajari Pamela saat dulu ia masih privat music DJ bersama Kevin. Kevinlah yang mengajarkannya segala hal, sampai akhirnya Pamela menguasai semuanya.


Data tersebut, akhirnya berhasil di akses oleh Pamela, ternyata Dokter Sintia pernah mendapat kasus mal praktek karena mengoprasi pasien dengan riwayat kanker hati, dan kali ini ia pun terlibat mengikuti operasi pasien VIP.


"Bagaimana mungkin dia bisa masuk ke dalam ruang operasi? Sedangkan dia pernah melakukan mal praktek satu tahun yang lalu, ada yang tidak beres dengan peraturan di rumah sakit ini," gumam Pamela.


Pamela langsung mengakses semua data riwayat hidup Dokter Sintia, lalu ia mencetak semuanya dan mengumpulkan data mengenai Dokter Sintia secara rinci. Setelah mendapat semuanya, Pamela kembali ke ruang UGD, untuk menemui Dokter Zen.

__ADS_1


"Dokter, bisa saya meminta waktunya sebentar," ucap Pamela.


Dokter Zen menatap Pamela yang berdiri membawa lembaran kertas yang cukup tebal.


Mereka berdua berjalan menuju ruangan Dokter Zen.


"Ada apa?" tanya Dokter Zen.


"Aku berhasil mengakses data riwayat Dokter Sintia, bagaimana mungkin Dokter yang melakukan mal praktek setahun lalu, bisa beroprasi kembali, dan saat ini berada di ruang operasi bersama Dokter Arif dan lainnya?" tanya Pamela.


Dokter Zen melihat kekesalan Pamela, ia menerima lembaran kertas yang berisikan semua tentang Dokter Sintia secara detail.


"Dari mana kau dapat mengakses semua ini, tidak semua orang dapat mengaksesnya, bahkan orang IT sekalipun akan kesulitan untuk mengakses data seperti ini," sahut Dokter Zen.


Pamela langsung terdiam, benar yang di katakan Dokter Zen, membuatnya bingung harus menjawab apa, karena, ia tidak akan memberitahu siapapun tentang keahliannya.


"Jawab aku Pamela!" seru Dokter Zen.


Tatapannya terlihat sangat serius membuat Pamela hanya terdiam.


"Maafkan saya Dok, saya hanya asal-asalan mengakses data itu, ternyata busa di unduh dan langsung saya cetak," jelas Pamela.


"Baiklah, data ini amsaya terima, tapi saya harap kamu bisa menjaga sikap saat bertemu dengan Dokter Arif dan team lainnya," pesan Dokter Zen.


"Kenapa Dok? Ada apa? Saya hanya ingin menemui Doktee Arif untuk memberi alasan yang sebenernya, kenapa saya di diskualifikasi secara sepihak," ujar Pamela.


"Ini akan membahayakan karir kamu di rumah sakit ini, percayalah denganku," ucap Dokter Zen.


Karena masih terbawa suasana emosi, akhirnya Pamela meninggalkan ruangan Dokter Zen dan kembali berjalan menuju ruang operasi Satu untuk menunggu operasi pasien VIP selesai.


Cukup lama ia menunggu dan akhirnya Dokter Arif pun keluar dari ruang operasi, operasi pertama berjalan dengan lancar, tetapi mereka belum sepenuhnya berhasil mengangkat semua kanker.


Ternyata mereka tidak melakukan transplantasi hati, mereka hanya mengoprasi pengangkatan kanker saja.


Pamela yang menunggu Dokter Arif, kini beliau sudah keluar dari ruang operasinya. Membuat Pamela langsung mendekati Dokter Arif.


"Dokter, kenapa Dokter tidak memberitahu saya jika Dokter menggantikan saya dengan Dokter lain, secara sepihak, apa maksud dari semua ini Dok?" tanya Dokter Pamela.

__ADS_1


Dokter Arif terdiam, ia langsung menatap tajam Dokter Pamela yang bersikap tidak sopan dengannya.


BERSAMBUNg...


__ADS_2