
Perawat Rere tidak merespon apa yang dikatakan Dokter Morgan, justru ia malah menatap Dokter Pamela yang membawa sekantung plastik berisi makanan dan berjalan menuju ruang VIP.
"Aku rasa dia dijodohkan," ucap Perawat Rere.
Dokter Morgan yang mendengar perkataan Perawat Rere pun langsung terkejut.
"Apa kau bilang!" ucap Dokter Morgan.
Perawat Rere pun langsung tersadar dari lamunannya yang terus menatap Dokter Pamela.
"Apa maksudmu, Dok?" tanya Perawat Rere.
"Kau ini sedang melamun apa," jawab Dokter Morgan.
Dokter Morgan mulai frustasi dengan Perawat Rere yang tidak menyadari ucapannya.
"Sudahlah lupakan," kesal Dokter Morgan.
Dokter Morgan pergi meninggalkan Perawat Rere.
"Kau kenapa?" tanya Dokter Feni.
Langkah kaki Dokter Morgan pun terhenti.
"Tidak apa-apa, sepertinya aku butuh minuman dingin," jawab Dokter Morgan.
Dokter Feni langsung menunjukan minuman dingin yang ada di tangannya.
"Ini aku bawa untukmu," ucap Dokter Feni.
Akhirnya mereka duduk di ruang santai staf, Dokter Morgan terlihat sangat haus, ia langsung meneguk minuman dingin itu.
"Kau kelihatan sangat haus," ucap Dokter Feni, menatap Dokter Morgan dengan sangat heran.
Di ruang VIP,
Pamela masuk ke dalam ruangan Pimpinan Hanji, dengan membawa sekantung plastik berisi makanan.
"Pimpinan Hanji aku datang," ucap Pamela.
Pamela masuk ke dalam, membuat Pimpinan Hanji merasa senang.
"Apa kau sungguhan membawa makanan itu?" tanya Pimpinan Hanji.
"Tentu, ini dia. Pimpinan Hanji kau harus mencobanya," jawab Dokter Pamela.
Pamela menyuapkan cilor ke arah Pimpinan Hanji.
Saat Pimpinan Hanji mengunyah cilor itu, ia sangat terkejut dengan rasa yang menurunnya aneh.
"Bagaimana?" tanya Dokter Pamela.
__ADS_1
"Ini ...," ucap Pimpinan Hanji sambil mengunyah.
Pamela menunggu jawaban dari Pimpinan Hanji.
"Ayo katakan, apa rasanya," ucap Pamela dengan tingkah yang sangat lucu.
Pimpinan Hanji, tersenyum menatap wajah Pamela yang terlihat seperti anak perempuannya, yaitu ibu dari Luis.
"Kau seperti putriku," ucap Pimpinan Hanji.
"Benarkah, pasti dia sangat cantik," puji Pamela.
"Dia seperti mentari saat tersenyum, saat dia mendapat peringkat dikelasnya, aku tidak bisa hadir karena aku sibuk. Itu penyesalan yang selalu menghantuiku," ucap Pimpinan Hanji, membuat Pamela merasa sedih.
Tidak mau berlarut dalam kesedihannya, Pimpinan Hanji langsung mengatakan jika makanan yang di bawa Pamela sangat enak.
"Tapi makanan ini lumayan enak," ucap Pimpinan Hanji.
"Ku rasa Pimpinan Hanji berbohong denganku, ini makanan pasti tidak cocok dilidah Pimpinan benarkan," kata Pamela.
Mereka sembari bersenda gurau, terlintas tawa kecil di bibir Pimpinan Hanji.
Luis yang baru saja pulang dari kantor, ia langsung ke rumah sakit, saat ia masuk ke dalam ruangan VIP, ia melihat Pamela sedang tertawa bersama Kakeknya.
"Aku datang," ucap Luis.
Pamela menoleh ke arah sumber suara, ia melihat Luis dengan wajah kusamnya.
Pamela langsung berdiri, saat melihat Luis masuk ke dalam ruangan VIP.
"Kenapa kau datang secepat ini, apa kau tidak ada rapat," tanya Pimpinan Hanji.
"Aku ingin menemani Kakek, aku akan pantau mereka dari kejauhan," jawab Luis.
Pamela merasa mengganggu percakapan mereka.
"Kalian sedang berbincang, sebaiknya aku harus pergi, ada pasien di UGD," ucap Pamela.
"Baiklah, terima kasih atas makanannya," ucap Pimpinan Hanji.
Pamela pun keluar dari ruangan VIP, tiba-tiba ponselnya berdering, membuat Pamela langsung mrngangkatnya.
Pamela berjalan menuju ruangan Dokter Boy, ia melihat sudah ada team yang akan mengoprasi Pimpinan Hanji.
"Masuklah," ucap Dokter Boy.
Pamela masuk ke dalam ruangan Dokter Boy.
"Semua sudah kumpul, sore ini kita akan melakukan operasi, saya sudah melihat hasil pindai CT, MRI. Semua hasilnya sangat memprihatinkan, kondisi Pimpinan semakin buruk karena kanker yang sudah menjalar sebegian area rawan," jelas Dokter Boy.
"Yang perlu kita lakukan adalah, membuat sel kanker yang menyebar di bagian tulang ekor pasien, jika kanker itu sampai di area saraf tulang ekor, maka pasien tidak akan bisa berjalan lagi atau bisa dikatakan lumpuh total," sambungnya.
__ADS_1
"Dokter, apa setelah dilakukan operasi nanti akan menimbulkan gejala baru, aku melihat ada sel yang sudah rusah karena kanker itu sudah menyebar?" tanya Pamela.
Dokter Boy, melihat di layar komputer.
"Aku rasa resiko ini sangat kecil, kita perlu memotong sel ini dan menyambungnya," jawab Dokter Boy.
"Bagaimana caranya Dok?" tanya Dokter Morgan.
Dokter Boy, menjelaskan secara detail mengenai pemotongan sel dan menyambungkannya kembali. Penjelasan itu diterima dengan baik oleh Dokter Morgan dan Pamel, mereka akhirnya menutup rapat ini dan segera mempersiapkan operasi.
Pamela keluar dari ruangan Dokter Boy, dan kembali ke ruang staf untuk mengganti pakaian. Sedangkan Dokter Boy, menghampiri Pimpinan Hanji.
"Selamat sore Pak," sapa Pimpinan Hanji.
"Kau seharian tidak menjengukku, apa kau sangat sibuk?" tanya Pimpinan Hanji.
"Aku sangat sibuk mempersiapkan operasimu Pak, saat ini aku harus membawamu masuk keruang operasi," jawab Dokter Boy.
"Apa operasinya akan dilakukan sekarang?" tanya Luis.
"Anda benar Tuan, aku harus membawa Pimpinan untuk memasuki ruang operasi," jawab Dokter Boy.
"Baiklah, tapi operasi ini harus direkam," ucap Luis.
Dokter Boy menoleh ke arah Luis lalu tersenyum.
"Tentu, karena itu akan menjadi bukti jika aku melakukan kesalahan," ucap Dokter Boy.
"Kau tidak usah menghawatirkan Kakek, dia adalah Dokter handal yang sudah bersertifikat. Dia itu sangat hebat," ucap Pimpinan Hanji.
Akhirnya Pimpinan Hanji pun dibawa oleh Dokter Boy, mereka berjalan melewati ruangan rawat inap yang lainnya, sampai akhirnya masuk ke dalam ruang operasi.
Semua staf menyapa kedatangan Pimpinan Hanji.
Operasi pun dimulai, semua kamera CCTV di pasang diruang operasi.
Dokter Boy, mulai membelah bagian panggul. Sejauh ini operasi Pimpinan berjalan lancar, dengan kerja sama setiap team.
Dokter Boy terlihat sangat detail dalam mengangkat kanker yang hampir saja menyebar di bagian tulang ekor dan bagian sel yang sudah tersebar oleh kanker segera dipotong oleh Dokter Boy dan Dokter Pamela sebagai asisten pertamanya.
Mereka mampu menyelesaikan satu persatu operasi pengangkatan kanker, sampai akhirnya giliran Dokter Morgan yang menjadi asisten pertama Dokter Pimpinan Hanji.
Luis yang sedari tadi memperhatikan operasi Kakeknya, ia fokus pada Pamela yang terlihat sangat cepat saat terjadi perdarahan. Tanganya membantu Dokter Boy pun sangat lincah, membuatnya sangat kagum dengan Pamela.
"Nona Pamela sangat hebat, dia mampu menyelesaikan semuanya dengan tepat waktu," ucap Asisten Adit.
"Apa kau bilang? Pamela? Aku rasa banyak Dokter yang terampil di sini, kenapa harus dia," tanya Luis.
Asisten Adit pun tersenyum menatap Luis yang terlihat sangat kesal dengan Pamela.
"Pilihan Dokter Boy tidak pernah sala Tuan muda, mereka dipilih berdasarkan kemampuannya," jelas Asisten Adit.
__ADS_1
"Kalian hebat."
BERSAMBUNG....