
Meras hari sudah sore, Pamela berpamitan dengan Pimpinan Hanji.
Terlihat wajahnya sangat lelah, ia berjalan keluar rumah.
"Kau harus ikut aku," ucap Luis.
Mendengar suara itu, Pamela langsung menghentikan langkahnya.
"Kau lagi, ada apa?" tanya Pamela.
Dengan wajah yang sangat lesu.
"Kau harus keapartemenku," jawab Luis.
"Apa tidak bisa besok saja," ucap Pamela.
"Tidak ada penolakan. Ayok!" ajak Luis.
Terpaksa Pamela menuruti keinginan Luis, ia tidak mau berdebat lagi, karena ia sudah sangat lelah.
Pamela masuk ke dalam mobil Luis.
Perjalanan menuju apartemen Luis cukup jauh, membuat Pamela tertidur dimobil Luis tanpa ia sadari.
Saat mobil sudah terparkir, Luis mulai mematikan mesin mobilnya, ia menoleh kearah Pamela. Terlihat Pamela yang tertidur dengan pulas, membuatnya tak sanggup untuk membangunkan Pamela.
Luis akhirnya menggendong Pamela yang tertidur.
Saat Luis akan menggendong Pamela, ia terpesona melihat tubuh Pamela yang sangat ramping dan tonjolan gunung kembarnya terlihat jelas, membuat Luis menelan salivanya.
Luis mencoba untuk tidak melihat pemandangan didepannya, ia langsung mengarahkan pandangannya ke arah depan.
Luis menggendong Pamela. "Astaga, dia sangat berat."
Ucapnya sambil mempercepat langkahnya, agar segera sampai diapartemennya.
Begitu sampai di apartemen Luis, ia langsung membuka pintu dan meletakan Pamela diatas sofa.
Pamela yang masih tertidur pulas, tidak menyadari jika dirinya diangkat dan pindahkan keatas sofa.
"Dia tidur atau pingsan?" gumam Luis.
Luis memastikan apakah Pamela tidur atau pingsan, saat Luis mendekatkan wajahnya kearah Pamela, disitulah Pamela terbangun, ia merasa ingin buang air kecil.
Saat mata Pamela terbuka perlahan, ia sangat terkejut melihat Luis mendekatnya wajah ke arah Pamela.
__ADS_1
Seketika, Pamela berteriak dan langsung mendorong Luis, sampai membuat Luis terpental menjauh.
Dorongan Pamela sangat kuat, membuat Luis terpental sampai ke lantai, ia meringis kesakitan.
"Apa yang kau lakukan? Kau mau coba-coba memperkosaku?" tanya Pamela.
"Siapa yang mau denganmu! Aku bahkan tidak mau!" jawab Luis dengan kesal.
Pamela menutupi sebagian tubuhnya, ia menatap Luis yang mulai beranjak kedapur.
"Dasar! Pria mesum!" marah Pamela.
Luis mengambil salep pereda nyeri, ia tidak memperdulikan ucapan Pamela. Luis langsung mengoleskan salep itu kepunggungnya.
"Aku dimana?" tanya Pamela.
"Kau memang sangat keterlaluan! Kau memabawaku kemana?" tanya Pamela.
Luis yang merasa sudah baikan, ia berjalan mendekati Pamela.
"Kau ada diapartemenku, kau tadi tertidur seperti kerbau, jadi ku pikir kau pingsan. Saat aku memastikan, apakah kau tidur sungguhan atau pingsan," jelas Luis.
"Apa kau serius?" tanya Pamela.
"Dasar kau ya, menyebalkan!" seru Pamela.
"Apanya yang menyebalkan, mana mungkin aku berbohong, kau harus bertanggung jawab! Lihatlah punggungku terasa nyeri, bagaimama jika tulangnya patah!" kesal Luis.
Pamela memperhatikan Luis yang terus memegang punggungnya.
"Apa itu sakit?" tanya Pamela.
"Kau pikir sendiri," jawab Luis.
Pamela pun terdiam, ia memperhatikan tata letak apartemen milik Luis, yang sangat rapih dan wangi, membuat Pamela berjalan melijat sekitaran apartemen itu.
"Wah ... rapih sekali," kagum Pamela.
Kekaguman Pamela didengar oleh Luis.
"Ya jelas rapih, aku kan rajin," sahut Luis.
Pamela tak menggubrisnya, ia terus berjalan sampai bertemu salah satu pintu yang ternyata itu adalah kamar Luis, karena ketidaktahuan Pamela, ia pun masuk begitu saja, melihat kasur yang sangat empuk. Pamela akhirnya merebahkan tubuhnya diatas kasur itu.
"Kasur ini sangat nyaman," ucap Pamela.
__ADS_1
Pamela perlahan memejamkan matanya, ia sangat menikmati sentuhan lembut kasur itu.
Cukup lama didalam kamar, Pamela tak kunjung kembali, membuat Luis akhirnya mencari keberadaan Pamela.
Setiap tempat sudah Luis periksa, tetapi ia tidak melihat Pamela. Matanya langsung tertuju pada pintu kamarnya, Luis langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Saat ia membuka pintu, betapa terkejutnya ia melihat Pamela tertidur pulas dikasurnya. Dengan penuh amarah, Luis menarik Pamela, sampai membuatnya terbangun.
"Beraninya kau tidur dikamarku!" geram Luis.
Luis menarik tanhan Pamela, membuatnya langsung terbangun.
"Apa-apaan ini?" tanya Pamela.
"Kau pikir ini apa? Kamar hotel! Beraninya kau masuk kedalam kamarku!" jawab Luis.
Pamela yang kaget, merasa bingung. Nyawa belom sepenuhnya terkumpul, membuatnya ngang ngong seperti orang bodoh.
"Apa ini kamarmu?" tanya Pamela.
"Maafkan aku, aku lancang memasuki kamarmu. Soalnya aku sangat ngantuk dan aku melihat kasurmu aku tergoda dan merebahkan tubuhku kekasur ini," sambungnya.
Luis hanya terdiam, ia langsung keluar dari kamarnya, meninggalkan Pamela. Membuat Pamela langsung menyusulnya.
"Tunggu!" seru Pamela.
Luis tidak menggubrisnya, ia berjalan menuju dapur.
"Kenapa kau masih marah? Aku sudah meminta maaf denganmu, sebentar lagi kita akan menikah, jadi jangan bersikap seperti anak kecil," ucap Pamela.
"Kenapa kau mengatakan seperti itu?" tanya Luis.
"Kau sendiri yang mengatakan jangan sepertu anak kecil, apa salahnya jika aku mengikuti kata-katamu," jawab Pamela.
"Sialan!" pekik Luis.
Luis terlihat sangat garang, membuat Pamela merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan Luis.
Tanpa basa-basi, Luis langsung mengejar Pamela untuk mencubitnya. Untunglah Pamela dengan cepat langsung menghindarinya.
"Berhenti!" teriak Luis.
"Ampun!" seru Pamela.
Bersambung...
__ADS_1