
Pamela minta pihak rumah sakit Radom Medika, untuk mengizinkanya magang di rumah sakit itu, membuat Dokter Boy langsung marah.
"Aku sudah memberikan tawaran kepadamu, apa kau tidak mendengarkannya, sudah ku katakan masuk saya ke rumah sakit ini sebagai Dokter Bedah Umum, kami kekurangan staf," ucap Dokter Boy.
Pamale langsung meminta maaf kepada Dokter Boy, karena telah mengabaikan tawaran dari Dokter Boy.
"Maafkan saya Dok, saya tertalu memikirkan urusan di luar pekerjaan saya," ucap Pamela.
Dokter Boy langsung mengambil berkas milik Pamela membuatnya bingung.
"Aku sudah menyimpan berkasmu, jadi kau besol sudah bisa bekerja di rumah sakit ini," kata Dokter Boy.
Pamela yang melihat semua berkas tentangnya ada di tangan Dokter Boy, membuatnya merasa terkejut.
"Kenapa berkasku ada bersama Dokter Boy?" tanya Pamela.
Dokter Boy tertawa, ia langsung melirik Dokter Zen, membuat Pamela langsung ikut melirik Dokter Zen.
"Apa ini semua ulah Dokter Zen?" tanya Pamela.
"Aku ... aku hanya membantumu untuk mendapatkan pekerjaan yang adil, itu saja," jawab Dokter Zen dengan gugup.
Mereka semua terdiam, tak lama Pamela keluar dari ruangan Dokter Boy, ia melihat Dokter Morgan yang berdiri di dekat ruangan Dokter Boy.
"Kau, nguping ya," tuduh Pamela.
"Enak saja, aku hanya ingin menemui Dokter Boy " bela Dokter Morgan.
"Alasan saja," ucap Pamela.
Tak lama Dokter Boy, keluar dari ruangan, ia melihat Dokter Morgan.
"Ada apa?" tanya Dokter Boy.
"Ada paket untukmu, Dok," jawab Dokter Morgan.
Dokter Morgan memberikan kotak kecil yang di bungkus dengan kertas berwarna coklat, ia memberikannya kepada Dokter Boy.
"Baiklah, terimakasih," ucap Dokter Boy.
"Oiya, Dokter Morgan, besok Dokter Pamela akan mulai bekerja di rumah sakit ini, semua kalian bisa bekerja sama dengan baik," kata Dokter Boy.
Dokter Morgan melirik Pamela, dan langsumg menganngukan kepalanya menatap Doktee Boy.
Notifikasi dari group rumah sakit Radom Medika memberitahu jika besok akan ada Dokter baru.
Mereka semua memeriksa ponselnya dan saling menggunjing satu sama lain.
"Seperti apa Dokter yang baru ini."
"Aku dengar Dokter yang akan bekerja di sini, dia juga seorang Disk Jokey."
"Wah, pasti Dokter itu sangat keren dan metal."
__ADS_1
Gunjingan itu membuat Dokter Feni langsung keruang UGD.
"Dok, apa Dokter sudah tahu, akan ada Dokter baru besok?" tanya Perawat Weni.
"Iya, memangnya dia siapa?" jawab Dokter Feni.
Dari kejauhan Dokter Boy langsung menjawab pertanyaan Perawat Weni.
"Dia adalah Dokter Pamela, ia akan berjaga di UGD sebagai Dokter Bedah Umum, saya harap. Semoga kalian bisa bekerja sama dengan baik," jawab Dokter Boy.
"Namanya seperti tidak asing," ucap Dokter Feni.
"Aku rasa, kalian pernah menemuinya," sahut Dokter Boy, langsung meninggalkan ruang UGD.
Setelah Dokter Boy, menjauh dari hadapan mereka, Perawat Weni langsung mendekati Dokter Feni.
"Aku jadi penasaran, siapa dia?" tanya Perawat Weni.
"Kita lihat saja besok," jawab Dokter Feni.
Tak lama Dokter Morgan masuk ke dalam ruang UGD, ia melihat Dokter Feni sedang berdiri di dekat meja Perawat, membuatnya langsung mendekat dan memeriksa rekam medik setiap pasien.
"Kau sudah dengar berita?" tanya Dokter Feni.
Dokter Morgan langsung menatap Dokter Feni.
"Berita apa," jawab Dokter Morgan.
"Akan ada Dokter baru," ucap Perawat Weni.
"Sudah ku duga, dia akan tahu lebih awal dari kita," ucap Dokter Feni.
Dokter Morgan langsung menuju ranjang no 04, ia memeriksa pasien yang mengeluh ke sakitan, ia langsung memeriksa hasil ronsen dadanya, untungnya Dokter Morgan tidak menemukan ada keganjalan apapun, ia langsung menyuruh Perawat Bagas untuk memberikan obat anti nyeri.
"Lihatlah Dokter Morgan terlihat pria yang bekerja keras," ucap Perawat Weni.
"Kapan kau mengumumkan hubunganmu dengan Dokter Morgan, kalian itu pasangan yang sangat serasi," tanya Perawat Sisil.
"Sudah jangan bergosip," ucap Dokter Feni langsung pergi meninggalkan ruang UGD.
.
.
.
.
Pamela langsung keluar dari ruang UGD, ia langsung masuk ke dalam mobilnya, dan tak lama ia langsung melajuka mobilnya menjauh dari rumah sakit.
Pamela berniat untuk ke kota B, setelah mendapat pesan dari Kevin.
Menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Pamela behenti di dekat pabrik kosong yang jauh dari pemukiman warga.
__ADS_1
"Tempat ini terlihat sangat menyeramkan," ucap Pamela.
Pamela memegang camera kecil, ia langsung melemparkan kamera itu ke arah ruangan yang ada di dalam gedung itu. Dengan ketapel, Pamela langsung keluar dari dalam mobil.
Pamela melihat sekitaran ada pohon yang cukup aman untuknya di panjat, Pamela langsung memenjat pohon itu, ia melihat isi di dalam pabrik yang di tutup rapat oleh pagar tinggi.
"Ternyata dalamnya sangat rapih," ucap Pamela.
Pamela langsung lemparkan kamera itu agar masuk ke dalam ruangan yang dicurigainya tempat penyekapan anak-anak.
Lemparan pertama tepat sasaran, untungnya tidak ada yang melihat Pamela. Tak lama, saat Pamela akan melempar satu kamera lagi, ia tiba-tiba melihat beberapa anak yang keluar dari ruangan itu.
Membuat Pamela menghentikan niatnya untuk melempar kamera, ia melihat anak-anak itu di siksa, di pukul dan di cambut, membuat Pamela langsung menutup mulutnya, ia sangat terkejut dengan kejadian yang baru saja dilihat.
Tak lama, pria yang pernah ia temui di club malam itu, ternyata ada di dalam pabrik itu, membuat Pamela langsung mengambil ponselnya, ia langsung merekam pria itu dengan jelas.
Merasa persembunyiannya tidak aman, Pamela langsung turun dari pohon besar, sebelum para penjahat itu mengetahuinya.
Pamela langsung masuk ke dalam mobilnya, dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan pabrik itu.
Pamela terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak perduli dengan apa yang akan terjadi jika ia mengemudi terlalu kebut.
Akhirnya Pamela masuk ke dalam lokasi gedung Ziny Music, ia langsung masuk ke dalam dengan tergesa-gesa.
Pamela langsung berjalan masuk ke dalam ruangan Kevin, ia membuka pintu ruangan Kevin dan langsung duduk.
"Ada apa? Apa kamu sudah melakukan tugasmu?" tanya Kevin.
Melihat wajah Pamela yang sangat pucat, Kevin langsung memberikan air mineral kepada Pamela.
"Minumlah," ucap Kevin.
Pamela langsung mengambil minum itu dan langsung meneguknya.
"Aku pernah memberimu kartu identitas Rozak?" tanya Pamela.
Kevin langsung menganggukan kepalanya.
"Ada apa dengan kartu itu," jawab Kevin.
Belom sempat Pamela menjalaskan, Kevin langsung kembali ke mejanya, ia memeriksa kertu identitas itu dan memperlihatkan foto yang ada di dalam kartu itu.
Pamela yang melihat foto Rozak yang sebenarnya, langsung menatap tajam foto itu.
"Apa orang ini sama?" tanya Pamela.
Pamela langsung membuka ponselnya, ia menunjukan kepada Kevin, tentang video yang berhasil ia rekam, dengan teliti, Kevin memperhatikan orang yang ada di dalam video itu dengan foto yang di dapat dari kartu identitas.
"Sepertinya dia orang yang sama," ucap Kevin.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Pamela.
"Jangan gegabah, kita akan bertindak sampai kau selesai mengoprasi Pimpinan," jawab Kevin.
__ADS_1
"Tapi ...."
BERSAMBUNG....