Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Pergosipan


__ADS_3

Suasan di ruang UGD terlihat tidak kondusif banyaknya orang tua korban yang datang menemui anaknya.


Mereka saling bergumam mencari siapa pelakunya, membuat Dokter Boy akhirnya menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.


"Baiklah semuanya, untuk keluarga korban harap tenang, kami sudah menghubungi pihak yang berwajib, jadi tugas ibu-ibu dan bapak-bapak fokus pada kesembuhan anak kalian saja," jelas Dokter Boy.


"Rasanya aku ingin menginjak penjahat itu, beranunya dia menculik anak kami," ucap salah satu orang tua korban.


"Kami tahu perasaan kalian, tapi ini ruang UGD. Semua pasien butuh istirahat, jadi saya harap kalian semua bisa bekerja sama dengan baik," jelas Dokter Boy.


Semua akses pintu keluar dan masuk rumah sakit sudah di jaga ketat oleh polisi dan petugas keamanan rumah sakit, membuat semua preman tidak bisa keluar.


"Sialan, kita dalam bahaya," ucap Preman.


"Bagaimana cara kita keluar?" tanya Preman satu.


"Kita keluar lewat ruang jenazah," jawab Preman dua.


Mereka keluar dengan cara diam-diam, mengendap-ngendap sampai akhirnya sampai diruang jenazah, saat mereka akan masuk ke dalam tiba-tiba aksi mereka di ketahui oleh Dokter Dani yang baru saja keluar dari ruang rawat inap VIP.


Dokter Dani mendekati preman itu, karena mereka terlihat sangat mencurigai.


"Kalian sedang cari apa?" tanya Dokter Dani.


Preman itu langsung menghentikan langkahnya, mereka merasa deg-degan karena aksinya di ketahui orang lain.


"Apa kalian dengar aku?" tanya Dokter Dani.


Dengan terpaksa, salah satu preman itu menoleh ke arah Dokter Dani, dengan senyuman ia menjawab.


"Aku ingin melihat adikku yang katanya berada di ruang jenazah, jadi aku penasaran ingin melihat jasadnya," jawab preman satu.


"Oh, begitu rupanya, tapi ...," ucap Dokter Dani, seketika teringat jika hari ini belom ada korban jiwa yang masuk ke dalam ruang jenazah.


"Siapa namanya, biarku bantu carikan," ucap Dokter Dani.


Preman itu merasa bingung, ia saling pandang untuk mendapatkan alasan yang tepat. Saat Dokter Dani dan preman itu sedang bercakap, tak di sengaja, Pamela melintasi ruang jenazah dan melihat Dokter Dani.


Pamela merasa penasaran dengan apa yang di lakukan Dokter Dani, membuatnya langsung mendekati Dokter Dani.


"Sedang apa Dok," tanya Pamela.


"Orang ini sedang mencari sodaranya yang sudah meninggal dunia, jadi aku berusaha membantunya," jawab Dokter Dani.


"Kau!" seru Pamela.


Pamela langsung memegang tangan preman itu, yang berusaha kabur.


Pamela dengan lantang memanggil petugas keamanan dan langsung melaporkan bahwa preman itu terlihat sangat mencurigakan dan akhirnya mereka di tangkap.


"Sial! Lepaskan aku, bukan aku penjahatnya, rnak saja kalian ini menangkapku," kesal Preman itu.


Saat mereka di borgol oleh petugas keamanan,dan langsung di amankan, membuat Dokter Dani merasa syok, ia menatap Pamela yang terlihat sangat keren, saat mengetahui preman itu akan kabur.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Pamela.


"Kau terlihat sangat keren, aku mengagumi Dokter Pamela," jawab Dokter Dani.


"Kau ini bicara apa," ucap Pamela, langsung pergi meminggalkan Dokter Dani.


"Dokter Pamela kau sangat keren!" seru Doktee Dani.


Pamela yang mendengar teriakan Dokter Dani, hanya melambaikan tangannya.


Akhirnya kasus yang selama ini akan di pecahkan oleh Pamela, sudah selesai juga. Semua korban sudah bertemu dengan kekuarganya masing-masing, hanya satu anak yang terlihat sangat murung, membuat Pamela langsunh mendekatinya.


"Apa yang membuatmu sedih?" tanya Pamela.


"Aku sedang memikirkan seseorang, dia adalah temanku," jawab Anak itu.


"Kalo boleh tahu, siapa namamu?" tanya Pamela.


"Namaku Bagas," jawab Bagas.


"Siapa yang kamu pikirkan, kenapa keluargamu tidak datang?" tanya Pamela.


Pamela menoleh ke arah kana dan kiri, ia tidak melihat satu keluargapun yang menjenguk Bagas.


"Aku tidak punya keluarga, aku hanya punya satu teman dan dia sudah pergi meninggalkanku," jawab Bagas.


Pamela langsung menatap Bagas, ia seketika teringat cerita Kety yang pernah kehilangan temannya yang tertangkap oleh preman itu.


Bagas menceritakan semua yang ia alami, cerita itu sangat mirip dengan cerita yang pernah diceritakan oleh Kety.


"Kalo boleh aku tahu, siapa nama temanmu?" sambungnya.


"Dia bernama Kety, aku sangat ingin menemuinya. Aku ingin mengatakan jika aku selamat dari bahaya waktu itu," jawab Bagas.


Pamela memeluk Bagas, ia merasa sangat sedih saat mendengar cerita Bagas yang berusaha untuk bertaham hidup demi ingin menemui sahabatnya yang bernama Kety.


"Kamu jangan Khawatir, nanti aku akan membantumu bertemu dengan temanmu, bagaimana? Apa kamu mau?" tanya Pamela.


"Apa kamu yakin bisa membantuku, dunia ini sangat luas, apa bisa menemukan Kety?" jawab Bagas.


"Aku punya kantong doraemon, jadi kamu tidak perlu khawatir," ucap Pamela.


"Kau pandai menghibur anak kecil," ucap Bagas.


Pamela tersenyum kecil, ia sangat gemas melihat Bagas dengan gaya bicaranya yang seperti orang dewasa.


Pamela mengusap kepala Bagas. "Apa kau suka permen?" tanya Pamela.


"Aku tidak suka permen, aku menyukai bakso daging sapi," jawab Bagas.


"Benarkah, kalo begitu akan aku belikan," ucap Pamela.


"Tidak perlu, kau hanya mengantuk," ucap Bagas.

__ADS_1


"Kau ini seperti orang dewasa saja," ucap Pamela.


"Aku ini sudah besar, hanya saja butuh waktu untuk di akui jika aku sudah dewasa," kata Bagas.


"Baiklah, kalo begitu. Aku harus bekerja," ucap Pamela meninggalkan Bagas.


Bagas yang merasa sudah lega, ia akan bertemu dengan sahabatnya secepat mungkin.


Pamela kembali ke meja perawat, ia memerika rekam medik setiap pasien, dan memeriksanya satu persatu. Merasa semuanya aman, Pamela kembali ke meja perawat.


"Apa kau sudah makan?" tanya Dokter Morgan.


"Ada apa? Apa kau ingin meneraktirku," jawab Pamela.


"Kalau kau mau, ayok kita makan ke kantin," ajak Dokter Morgan.


Pamela mencari lawan untuk menemaninya, melihat ada Dokter Dani dan Perawat Rere dari ruang hibrida, membuat Pamela langsung melambaikan tangannya.


"Hei, Dokter Dani dan Perawat Rere kemari lah!" seru Pamela.


Mereka yang merasa terpanggil, langsung mendekat.


"Ada apa Dok?" tanya Dokter Dani.


"Kalian harus ikut denganku, Dokter Morgan sedang berbaik hati akan meneraktir kita, jangan lewatkan kesempatan ini," jawab Pamela.


Dokter Morgan yang merasa ingin pergi berdua bersama Pamela, merasa gagal. Tetapi ia tidak memperlihatkan kekecewaanya.


"Ayok lah," ucap Perawat Rere.


Akhirnya mereka berempat, berjalan menuju kantin untuk makan bersama. Sampai di kantin dengan girang Dokter Dani pun langsung duduk dan mengetuk meja dengan girang.


Mereka semua terdiam, saling pandang satu sama lain. Sampai akhirnya Pamela memulai percakapan.


"Kenapa terasa sangat canggung, ayolah pesan makanan dan tertawa bersama, jika saling diam aku lebih baik pergi saja," ucap Pamela.


"Bukan begitu Dok, aku hanya tidak enak hati jika harus memulainya dahulu," ucap Perawat Rere.


"Kau benar, kalo begitu aku tidak akan menolak jika disuruh memesan sesuatu," sahut Dokter Dani.


Mereka pesan makanan yang cukup membuat semua mata yang ngantuk jadi melek seketika.


Pergosipan dimulai.


"Apa kalian tahu?" ucap Dokter Dani.


Ucapan Dokter Dani yang terlihat sangat serius, membuat Dokter Morgan, Pamela dan Perawat Rere, langsung mendekat. Mereka terlihat penasaran dengan apa yang diucapkan Dokter Dani.


"Apa kau benar?"


"Aku rasa tidak seperti itu."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2