
Pamela menatap Pimpinan Hanji yang terlihat semakin pucat.
"Apa Pak Hanji baik-baik saja?" tanya Pamela.
"Kondisi tubuhnya semakin menurun, ini pengaruh dari kadar gula yang terlalu tinggi, kita harus menyuntikan insulin pada bagian perutnya," sahut Dokter Zen.
"Baiklah, Dok," ucap Pamela.
Mereka akhirnya makan bersama, Pamela masih menatap Pimpinan Hanji.
"Jangan menatapku seperti itu, katakan saja jika ada yang ingin kau katakan," ucap Pimpinan Hanji.
Pamela meletakan sendok dan pisaunya.
"Apa Pak Hanji kesulitan makan?" tanya Pamela.
Pamela sangat detail dalam memperhatikan Pimpinan Hanji, membuat Pimpinan Hanji pun merasa gugup karena di peehatikan dengan detail.
Pamela dengan tidak sopan mendekati Pak Hanji, dan meraih piringnya, membuat semua orang yang ada di dalam ruang makan itu merasa heran dan sangat geram dengan tingkah Pamela.
Beberapa ajudan yang mengaja Pak Hanji, akan mendekat tetapi di halangi oleh Pak Adit.
Pamela melihat tangan Pimpinan Hanji yang terus-terusan bergetar, membuatnta langsung memotong steak dengan cepat, ia menyuapkan pada Pimpinan Hanji.
"Makanlah Pak," ucap Pamela.
Pimpinan Hanji menutupi tangannya dan mau membuka mulutnya, ia merasakan suapan yang diberikan Pamela.
Pamela memperhatikan tangan Pimpinan Hanji yang terus di pegang olehnya.
'Itu Carpal Tunnel Syndrome,' gumam Pamela
Luis semakin geram melihat tingkah Pamela kepada Kakeknya, ia langsung bangkit dari tempat duduknya, diikuti asisten Jemi.
Luis langsung melajukan mobil itu menuju rumah Kakeknya.
"Semakin hari, dia semakin lancang," kesal Luis.
Jemi hanya terdiam, ia terus melajukan mobil, menuju rumah Pimpinan.
.
__ADS_1
.
.
.
Setelah kejadian, ributnya Anton dengan Pamela, akhirnya anton di panggil oleh kepala di rektur untuk mengklarifikasi kejadian tentang kematian pasien Tn.
Dokter Anton, berjalan masuk kedalam ruang direktur.
Saat Dokter Anton membuka pintu, tiba-tiba Pak Handoko menyuruhnya masuk.
"Masuk!" perintah Pak Handoko.
Dokter Anton masuk ke dalam, ia menatap Pak Handoko yang sedang sibuk dengan komputernya.
"Kau tahu apa yang sedang terjadi kemarin?" tanya Pak Handoko.
Dokter Anton, langsung menundukan kepalanya, ia merasa sangat menyesali perbuatannya.
"Pasien mengalami gagal jantung tanpa di ketahui Pak," jawab Dokter Anton.
"Itu permasalahannya, tapi yang jadi tranding topiknya adalah, kenapa ada Dokter Pamela yang sempat menolongnya. Kau tahu! Kejadian itu di lihat banyak orang, bahkan ada beberapa orang yang merekam aksi Dokter Pamela. Yang aku pertanyakan, dimana kau ini! Pasienmu sekarang kau justru tidak tahu, dasar kau bodoh!" kesal Pak Handoko.
"Apa kau tahu, sejak kejadian kemarin, saya tidak bisa lagi menutupi kelalaian kamu untuk kesekian kalinya. Kau meremehkan semuanya dan saat ini rumah sakit sedang mengalami penurunan popularitas karena video itu. Team kami sedang berusaha menonaktifkan pelaku yang menyebar luaskan video itu, jadi untuk membersihkan nama rumah sakit, kau di skor selama empat belas hari," ucap Pal Handoko.
Dokter Anton langsung mengangkat kepalanya, ia menatap Pak Handoko dengan rasa terkejut.
"Apa Pak Handoko serius dengan keputusan ini?" tanya Dokter Anton.
"Sesungguhnya, kau memang yang harus di pecat. Tetapi karena sebagian saham rumah sakit ini adalah milik ayahmu, jadi kami berusaha menutupinya, tapi ... kali ini sudah sangat diluar batas, kami tidak bisa membantu, kami harus pulihkan rumah sakit ini seperti kemarin, jadi kau renungkanlah kesalahanmu, agar tidak seceroboh kemarin," jelas Pak Handoko.
"Ini hanya masalah kecil, kenapa Pak Handoko memberiku skorsing sebanyak empat belas hari?" tanya Dokter Anton.
"Ini masalah internal yang melebar sampai ke eksternal, yang di permasalahkan adalah, keluarga pasien yang merekan asksi mu yang marah kepada Dokter Pamela, sedang kamu memakai pakaian kerja rumah sakit ini, wajahmu sangat jelas di dalam video itu, jadi saat ini saya mohon, kau harus menerima skorsing ini, untuk membersihkan namamu dan nama rumah sakit," jawab Pak Handoko.
Dokter Anton, tidak terima dengab keputusan yang di berikan oleh direktur rumah sakit. Tetapi ia tidak bisa membantah, karena ini adalah multlak kesalahannya.
Dengan rasa kecewa, Dokter Anton kembali ke dalam ruangannya, ia langsung masuk ke dalam dengan wajah yang terlihat sangat geram.
Dokter Tio yang melihatnya pun merasa ada yang aneh, ia mencoba mendekati Dokter Anton, tetapi pintu ruangannya tertutup dengan sangat keras.
__ADS_1
Membuat Dokter Tio mengurungkan niatnya, ia kembali ke ruang UGD untuk menyambut pasien yang datang.
"Sial! Awas kau ya Pamela!" geram Dokter Anton.
Dokter Anton terlihat sangat kesal, ia berkali-kali memukul tembok, kemudia ia duduk dan tak lama Dokter Anton keluar dari ruanganya, dengan menggunakan pakaian biasa.
Doker Anton langsung pergi meninggalkan rumah sakit tanpa di ketahui banyak orang, ia langsung melajukan mobilnya, menuju apartemennya.
.
.
.
.
Saat Pamela sedang menyuapi Pimpinan Hanji, tiba-tiba, Luis datang dan langsung nyelonong masuk ke dalam ruang makan, ia menarik tangan Pamela dengan sangat keras.
Pamela merasakan kesakitan, ia sangat terkejut melihat Luis ada di hadapannya.
"Lepaskan aku, apa maksudmu menarik ku dengan kasar," tanya Pamela.
Luis melirik semua pelayan dan ajudan yang sedang berdiri didekat ruang makan, dengan isyarat, merekapun pergi meninggalkan ruang makan.
Di dalam ruang makan, hanya ada Dokter Zen, Pimpinan Hanji, Pamela dan Luis.
"Apa yang kau lakukan dengan Kakek? Kau seenaknya membawa dia keluar tanpa pengawasan yang ketat, dan kau merebut piringnya saat ia makan, di mana sopan santunmu," kesal Luis dengan nada suara yang meninggi.
Melihat amarah Luis, Dokter Zen langsung membawa Pimpinan Hanji untuk meninggalkan ruang makan, tetapi Pimpinan Hanji mencegahnya, ia ingin ikuti mengklarifikasi semuanya.
Pamela mulai menghembuskan napasnya secara kasar, agar lebih tenang dalam menjelaskan semuanya.
"Kau adalah cucu yang egois! Apa kau tahu, Pimpinan Hanji merasa sangat kesepian, ada rasa sedih yang terlintas di sorot matanya, aku memang salah membawanya keluar tanpa pengawasan yang ketat, tapi aku hanya ingin mengajak Pimpinan Hanji untuk menghidup udara yang sangat segar di luar sana, karena itu mampu mengirangi tingkat stres yang di alaminya, itu yang pertama. Kemudian yang kedua, alasan aku menarik piring Pimpinan Hanji, karena aku merasa tangan Pimpinan begetar hebat, ia tak mempu memotong steak itu, apa jika kau jadi aku akan diam saja! Hah! Aku sengaja merebutnya dan memotongkan steak itu. Aku sudah menduga jika Pimpinan mengalami CTS yang artinya Carpal Tunnel Syndrome, ini akan sering terjadi dengan pasien yang sudah tua karena tekanan pada saraf, " jelas Pamela dengan detail, membuat Luis menatap Pimpinan Hanji.
"Jangan khawatirkan aku, aku hanya merasa kebas saja," sahut Pimpinan Hanji.
"Tidak Pak, kau harus segera di obati, mengenai kadar gula yang masih meningkat, kau harus menjalani terapi," ucap Pamela.
"Carpal Tunnel Syndrome, memang penyakit yang tida serius tetapi, ini akan berbahaya jika pasien terus-terusan mengalami rasa sakit dan getaran hebat di bagian tangannya, ia akan menjadi permanen dan sulit untuk di sembuhkan," jelas Dokter Zen.
Pamela langsung menatap kesal Luis.
__ADS_1
"Kau dengan itu?"
BERSAMBUNG.