
Setelah menatap kepergian Luis yang sudah menjauh, akhirnya Pamela berjalan masuk ke dalam rumah.
Disana Bramasta dan Sherlin sudah menunggu Pamela.
"Bagaimana bisa kau bertemu dengannya?" tanya Bramasta.
"Dimana kau bisa bertemu dengannya? Dan bisa memikat hatinya?" tanya Sherlin.
Semua pertanyaan itu membuat Pamela menatap kedua orang tuanya.
"Kenapa kalin sangat menggebu-gebu sekali," ucap Pamela.
"Ini serasa seperti mimpi, jika Ibu akan memiliki menantu seorang Luis," ucap Sherlin.
"Katakan, darimana kamu bertemu dengannya?" tanya Bramasta.
Pamela menghembuskan napasnya.
"Ceritanya panjang," jawab Pamela.
"Bagaimana ceritanya?" tanya Sherlin.
Sherlin dan Bramasta terlihat sangat menggebu-gebu menunggu jawaban dari Pamela.
Pamela menatap kedua orang tuanya sambil mengedipkan matanya berulang kali.
'Astaga, aku seprti buronan yang akan diintrogasi,' gumamnya.
"Pimpinan Hanji itu Pasien VIPku, dari situ awal kami bertemu dan memutuskan untuk menikah," jawab Pamela.
"Ternyata tidak sia-sia kau menjadi Dokter," ucap Sherlin.
"Sudahlah, aku lelah. Aku ingin beristirahat," ucap Pamela, berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Sayang. Apa aku sedang bermimpi?" tanya Sherlin.
"Entahlah, aku pun masih belom percaya bisa bertemu dengan calon menantu," jawab Bramasta.
Malam ditelan kesunyian yang sangat mencekram, hilir angin bertiup syahdu membawa mimpi, mimpi yang sangat indah membuat tidur semakin nyenyak.
Pagi hari.
Sherlin sibuk membuatkan sarapan, ia membangunkan Pamela yang masih tertidur pulas.
Untunglah pintu itu tidak dikunci oleh Pamela, Sherlin masuk begitu saja.
"Good morning!" sapa Sherlin, langsung membuka tirai jendela.
Seketika Pamela merasa silau, ia pun mengeliak lalu kembali tidur dengan menarik selimut.
"Bagun sayang, sekarang sudah pagi," ucap Sherlin.
"Ini terlalu pagi untukku bangun," ucap Pamela.
"Benarkah? Apa kau bangun selalu siang?" tanya Sherlin.
__ADS_1
Pamela yang masih terpejam, ia memenganggukan kepalanya.
"Tapi, sebentar lagi kau akan menikah. Jadi harus terbiasa bangun pagi," ucap Sherlin.
"Memangnya dia siapa menyuruhku bangun pagi?" tanya Pamela.
Pamela langsung sadar dengan ucapannya, yang hampir saja membuat ibunya curiga.
Pamela langsung membuka matanya dan terbangun.
"Aku harus bangun," ucap Pamela, berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Sherlin terdiam mematung.
"Bagaimana jika nanti dia menikah, apa Luis akan memakluminya?" guman Sherlin.
"Cepat mandi dan bersiaplah untuk sarapan!" ucap Sherlin.
"Baiklah!" sahut Pamela dari kamar mandi.
Pamela masih terduduk diatas toilet, tak lama ia mengintip ke arah kamarnya, melihat ibunya sudah tidak ada lagi, membuatnya langsung keluar dan kembali untuk tidur.
"Enak saja, dia menyuruhku mandi dan sarapan. Mumpung aku sedang off aku harus tidur lagi," gerutu Pamela.
Saat ia akan menarik selimut, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Astaga," ucap Pamela.
Pamela meraih ponselnya, ia mendepat telpon dari Pak Adit.
Dengan terburu-buru Pamela berlari kesana kemari, sampai memakain pakaian pun ia sambil merias wajahnya.
Pamela keluar dari kamarnya dan langsung berjalan dengan cepat mengambil kunci mobil dan segera pergi.
Sherlin dan Bramasta yang melihat Pamela terburu-buru pun merasa kaget.
"Mau kemana?" tanya Bramasta.
"Aku harus pergi menemui Pimpinan," jawab Pamela.
"Aku pamit pergi, dadah," pamit Pamela.
Pamela berlari kecil, langsung melajukan mobil yang sudah dipanaskan oleh pak awan.
"Mari Pak, ucap Pamela.
"Iya Non, hati-hati," sahut Pak Awan.
Pamela melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia terlihat sangat panik saat mendengar Pimpinan tidak sadarkan diri.
Luis yang tidak mengetahui kondisi Kakeknya, ia masih melakukan aktivitasnya seperti biasa. Setiap pagi Luis langsung berangkat ke kantor dan menghabiskan waktunya dikantor dan berkeliling bersama para rekan bisnisnya.
Pamela sampai dirumah Pimpinan Hanji, ia keluar dari dalam mobil langsung masuk.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya Pamela.
__ADS_1
"Dimana Pimpinan?" sambungnya.
"Pimpinan berada dikamarnya, biasanya dia bangun pagi, tapi sekarang tak kunjung bangun," jawab Pak Adit.
Pamela dengan alat stetoskop yang sudah melingkar di lehernya.
Pamela memeriksa Pimpinan Hanji, ia langsung meminta Pak Adit untuk membawamya keruang klinik pribadi.
"Pimpinan pingsan, kita harus bawa ke ruang medis," perintah Pamela.
Pimpinan dibawa keruang medis, saat masuk kedalam sudah ada perawat yang bertugas untuk menjaga ruangan itu.
"Beri larutan infus ringer lactat ," perintah Pamela.
Pamela memasangkan alat oksigen dan memasang alat oxymeter dijari Pimpinan. Setelah alat terpasang, Pamela langsung menghubungi Doktee Boy.
Pamela menceritakan semua kejadian yang menimpa Pimpinan Hanji.
Selesai menelpon dengan Dokter Boy.
Pamela menatap Pak Adit.
"Boleh aku tahu? Semalam Pimpinan makan dengan menu apa ya?" tanya Pamela.
"Jadwal makan malam Pimpinan, ini Nona," jawab Pak Adit.
Pamela melihat daftar menu yang boleh dikonsumsi oleh Pimpinan Hanji, tapi ada yang janggal membuat Pamela langsung keluar dari ruang medis dan masuk kearea dapur, untuk bertemu dengan sang koki.
"Anda dilarang masuk ke dapur Nona," cegah Pelayan.
"Jika aku tidak boleh masuk, panggilkan aku koki dapur ini," perintah Pamela.
Pelayan itu langsung masuk ke dalam. Tak lama koki itu keluar.
"Ada apa Nona?" tanya Sang Koki.
"Tolong jawab dengan jujur," jawab Pamela.
"Semalam kau memberikan Pimpinan hanji minuman apa?" tanya Pamela.
Koki itu terdiam, ia menceritakan kepada Pamela tentang apa yang sudah terjadi kepada Pimpinan Hanji.
Pamela menyimak dengan baik dan akhirnya ia menemukan jawabannya.
"Baik Pak, terima kasih atas informasinya," ucap Pamela berlalu pergi meninggalkan sang koki.
Pamela kembali ke ruang medis.
"Pimpinan hanya terpengaruh minuman beralkohol, karena semua tenda vitalnya normal. Terdapat bau alkohol dari mulut Pimpinan, membuatku langsung bertanya dengan koki di dapur," jelas Pamela.
"Syukurlah," ucap Pak Adit.
"Apa Bapak memberi tahu Luis?" tanya Pamela.
Bersambung...
__ADS_1