
Tak di duga, seorang Dokter muda yang mampu menaklukan mafia klas kakap yang sangat di takuti oleh seluruh dunia. Ternyata hatinya sangat hangat, ia mampu tertawa dan tersenyum saat bersama Pamela, berbeda ketika bertemu dengan Luis.
Salah satu ajudannya, melaporkan kegiatan Pamela bersama Pimpinan Hanji yang membuat Luis sangat kaget.
"Apa!"
"Apa aku tidak salah dengar?"
Tanya Luis yang menatap ke arah ajudannya.
"Ini benar adanya Tuan, Pimpinan sangat menikmati waktunya bersama Dokter Pamela," ucap Ajudan itu, menunjukan rekaman CCTV yang ada di setiap tempat.
Luis melihat keceriaan Pimpinan ketika beliau sedang di periksa Pamela dan makan dengan Pamela, ada rasa penasaran di dalam hati Luis tentang siapa Pamela.
'Hebat sekali dia, jurus apa yang dia gunakan untuk menaklukan Pimpinan?' gumam Luis.
"Baiklah, kau boleh pergi," ucap Luis.
Di dalam kantor, Luis malah memikirkan Pamela yang bisa masuk ke dalam ruangan pribadi kakeknya bahkan mereka, makan siang bersama, ini sangat jarang terjadi, karena Luis pun tidak pernah makan bersama kakeknya. Ia selalu menjenguk sesekali saja, membuat Pimpinan Hanji merasa sudah terbiasa.
Tak terasa waktu menunjukan sore hari, waktunya Pamela meminta ijin untuk undur diri.
"Pak Hanji, saya izin pulang. Terima kasih atas jamuannya, dan saya sudah memberikan list makanan yang beleh di makan oleh Pak Hanji, mungkin besok atau lusa saya akan berkunjung, hubungi saya jika terjadi sesuatu dengan Pak Hanji," pamit Pamela.
"Baiklah, kau harus stay ponselmu. Karena sewaktu aku akan menghubungimu," ucap Pimpinan Hanji.
Pamela tersenyum dan langsung pergi meninggalkan Pimpinan Hanji yang sedang duduk di ruang keluarga.
Langkah Pamela terhenti, saat melihat Luis berdiri dihadapannya.
"Astaga!" seru Pamela merasa sangat kaget dengan pria berbadan kekar dan tinggi seperti vampir sedang berdiri menatap Pamela.
"Tuan Luis!" panggil Pamela.
"Kau mengagetkanku saja," sambungnya.
"Jangan halangi dia, biarkan dia pulang," ucap Pimpinan Hanji.
Luis menatap Pamela dan akhirnya ia menggeserkan langkahnya, membiarkan Pamela pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Pamela dengan rasa lega, akhirnya keluar dari rumah milik mafia itu, ia langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya.
"Antarkan aku ke kantor Tuan Luis," ucap Pamela.
Supir itu mengiyakan permntaan Pamela, mereka berjalan menelusuri jalan yang mulai ramai di padati pengendara sepeda motor dan roda empat. Banyak orang yang sore pada berbaris di pinggir halte, menunggu bus datang.
Pamela belom bisa bernapas lega, ia sangat berhati-hati dalam bersikap dan berkata. Ia merasa sedang di pantau oleh Pimpinan Hanji, membuatnya kesulitan untuk bergerak.
Setelah sampai di kantor Luis, Pamela langsung turun dari dalam mobil begitu saja, ia berjalan menghampiri mobilnya.
Saat di dalam mobil, Pamela langsung menghembuskan napasnya dengan kasar, seolah bisa merasakan lega.
"Aku hampir gila, harus berpura-pura melebarkan senyuman dan harus sok asik dengan Pimpinan, semoga saja dia masih nurut denganku," ucap Pamela.
Pamela langsung menyalakan mobilnya dan meninggalkan kantor Luis, ia kembali ke rumah sakit tempat Citra di rawat.
"Tumben kau tidak pulang larut malam," ucap Sherlin.
"Urusanku sudah selesa, jadi aku bisa pulang lebih awal," ujar Pamela.
"Di mana Citra?" tanya Pamela.
Seketika wajah Pamela langsung berubah menjadi senang, mendengar sang adit sedang berduaan dengan my super hironya. Sosok yang sangat di rindukan Citra yaitu bisa mengobrol dengan ayahnya, layaknya teman.
Saat ini Citra merasakan semuanya, ia terlihat sangat bahagia, dan Bramasta pun menanggapi semua yang di katakan Citra.
Dari kejauhan Pamela menatap Citra dan Ayah, merasa haru, ia sangat merindukan keluarga yang penuh dengan kehangatan yang tak pernah di dapati Pamela dan Citra, mereka terlalu sibuk mencari uang dan kekayaan.
Kejadian Citra sakit ini, perlahan Bramasta mulai menurunkan egonya dan lebih banyak mendekatkan diri bersama Citra. Ia meluangkan waktunya untuk mendengar semua cerita yang dulu sempat terpendam, kini bisa di ceritakan sesuka hati.
"Citra terlihat sangat bahagia," ucap Sherlin yang ikut berdiri di samping Pamela yang sedang memandangi Citra.
Pamela tersenyum.
"Dia terlihat sangat ceria, obat yang sesungguhnya bukanlah pil atau sirup, melainkan perhatian yang tulus, karena itu semua mampu membangkitkan semangat hidup," sahut Pamela.
Merasa kondisi Citra semakin membaik, akhirnya Citra dinyatakan sembuh dan boleh pulang, ia terlihat sangat senang.
"Tes kognitif sangat berpengaruh dalam mengembalikan ingatan dan mampu membangkitkan gairah hidup, sekarang Nona Citra sudah sembuh dan boleh pulang. Tapi selama proses pemulihan di harapakan tidak boleh banyak pikiran dan begadang karena kambuhnya akan lebih parah," jelas Dokter Boy.
__ADS_1
"Perlu konsultasi ke psikiater, Dok?" tanya Pamela.
"Tidak Perlu," jawab Dokter Boy.
Citra pulang bersama kedua orang tuanya, masuk ke dalam satu mobil, tidak dengan Pamela yang membawa mobil sendiri.
Pamela mengendarai mobilnya di belakang mobil orang tuanya. Sama bahagia terlihat di wajah Citra yang begitu ceria,mereka terlihat seperti keluarga yang penuh dengan kehangatan.
"Mama! Aku sudah bisa masuk sekolah kan?" tanya Citra.
"Kamu harus memulihkan tubuhmu terlebih dahulu, nanti kalo sudah sembuh total baru boleh beraktifitas lagi," jawab Sherlin.
"Baiklah, aku akan giat belajar agar bisa seperti Kakak Pamela, dia terlalu keren. Apa Mama tau dia sangat pandai memainkan musik, berkelahi dan berdebat dengan teman kampusnya," ucap Citra.
"Dari mana kamu tahu, jika Pamela pandai berkelahi dan berdebat saat belajar?" tanya Sherlin.
"Aku melihatnya dari sosial media, waktu itu sempat di liput oleh temanku, saat Kak Pamela ikut lomba, dan akhirnya dia menang. Dia sangat keren," jawab Pamela.
Sherlin dan Bramasta saling padang, dan tersenyum. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
Pamela yang mengukuti dari belakang, ia merasa ponselnya berdering membuatnya langsung mengangkat telpon itu.
Mendengar seseorang dari kejauhan sana, mata Pamela seketika langsung melebar, ia terlihat sangat terdekut dengen berita yang sangat berukan.
Tanpa memberitahu orang tuanya, Pamela langsung memutar mobilnya berlawanan arah, hampir saja menabrak salah satu trek yang melintas, dengan perasaan yang panik, Pamela langsung menaikan kecepatan mobil.
Mobil itu melaju sangat cepat, membuat Pamela hampir saja tertabrak mobil lainnya, suara klakson itu terdengar nyarin di telinga Pamela, ia tidak memperdulikan semua itu.
Tujuan Pamela hanya segera sampai ke tempat kosannya, ia langsung turun dari dalam mobil. Dengan tubuh yang gemetar, Pamela menuju rumah gubuk tua yang tidak asing baginya.
Salah satu tetangganya menunggu Pamela datang, dan Pamela memeriksa kondisinya, kemudian langsung membawa ke rumah sakit dengan cepat.
Mobil itu melaju menuju Rumah Sakit Utama Medika, rumah sakit yang penuh dengan duka dan kekecewaan yang di alami Pamela, tetapi demi menyelamatkan orang tersayangnya, ia terpaksa membawanya ke rumah sakit itu.
Siapakah dia, ayooo tebak.
Tulia di kolom komentar ya
BERSAMBUNG...
__ADS_1