Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Pemecatan secara tidak hormat


__ADS_3

Stasiun televisi sedang hangat-hangatnya, memperbincangkan tentang mal praktek yang di lakukan oleh Dokter yang bernama Pemala Deviana bekerja di Rumah Sakit Utama Medika.


Berita ini sudah menyebar diseluruh dunia maya dengan sangat cepat. Semua rumah sakit telah mengetahui kasus yang telah beredar, mereka semua siap untuk memblacklis Dokter muda yang bernama Pamela deviana.


Pamela keluar dari ruang staf, ia akan melangkah ke ruang UGD, tetapi langkahnya terhenti saat melihat direktur rumah sakit berdiri tepat di hadapannya.


"Pak Handoko," panggil Pamela.


"Kau sudah mendengar berita di televisi?" tanya Handoko.


Pamela dengan wajah yang bingung, ia menggelengkan kepalanya.


Tiba-tiba Pak Handoko memberikan surat kepada Pamela, tanpa mengatakan apapun. Dengan wajah bingung, Pamela menerima surat itu.


Pamela melihat kepergian Pak Handoko begitu saja, membuatnya sangat heran.


"Ada apa dengan Pak Handoko?" ucap Pamela.


Tidak mau berpikir yang aneh-aneh, Pamela langsung berjalan menuju ruang UGD, ia melihat semua perawat dan dokter yang sedang berjaga, berkerumun seperti orang yang sedang bergosip.


Pamela sangat bingung dengan tingkah semua orang hari ini.


"Ada apa? Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Pamela dengan wajah yang bingung.


Perawat Isni langsung berlari mendekati Pamela, dia langsung menunjukan berita yang sedang beredar disosial media.


Pamela langsung melebarkan matanya, ia menatap perawat Isni dengan wajah terkejut. Pamela langsung mengeluarkan surat yang ada di sakunya.


Pamela membolak-balikan surat itu, dan membukanya langsung, setelah membaca isi surat itu, ia langsung pergi meninggalkan Perawat Isni dan yang lainya.


"Kenapa dia pergi, setelah membaca surat itu?" tanya Perawat Amel.


"Apa kai tidak melihat berita itu, Dokter Pamela kan memang tidak ikut mengoperasi pasien VIP, dia malam itu sedang berjaga di UGD, ia merawat pasien dengan riwayat PTPS dan pasien itu meninggal dunia, kenapa malah beritanya jadi begini," jelas Perawat Isni.


"Kau benar juga, tapi mana mungkin kita melawan atasan, kita tidak bisa berbuat apa-apa," sahut Perawat Ken.


Pamela berlari menuju ruang direktur, ia terlihat sangat tergesa-gesa, sampai akhirnya ia masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu.


Cekrek!


Suara pintu terbuka, membuat Pak Handoko dan jajarannya langsung menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


"Maaf mengganggu," ucap Pamela menundukan kepalanya.


"Apa maksud Pak Handoko, memecat saya?" tanya Pamela.


Semua orang yang ada di dalam ruangan Handoko menatap Pamela.


"Kau lalai dalam menjalankam tugasmu, kau membiarkan pasienmu di operasi oleh dokter lain, apa itu tidak melanggar etika!" seru Pak Handoko.


"Dokter Arif sendiri yang tidak mengizinkan saya untuk bertemu pasien VIP, tapi kenapa saya di pecat dengan alasan mal praktek, bahkan saya tidak mengetahui operasi kedua berlangsung, kenapa aea nama saya di dalam list operasi itu, kenapa pak!" ucap Pamela dengan nada marah.


"Kau seharusnya menjaga pasienmu dengan baik, itu sangat fatal," sahut Pak Handoko.


"Saya tidak terima dengan pemecatan yang secara sepihak, ini tidak adil, kalian semua sangat jahat!" marah Pamela.


"Kalian jahat! Bisa-bisanga memfitnahku seperti ini!" seru Pamela.


Pamela marah-marah di dalam ruang Pak Handoko, membuat Handoko langsung menelpon satpam untuk mrngamankan ruangannya.


Satpam pun datang, langsung membawa Pamela pergi meninggalkan ruangan direktur, tetapi tenaga Pamela yang kuat mampu mengalahkan satpam itu.


Semua orang yang ada di dalam ruangan direktur langsung berdiri, menyaksikan kekuatan Pamela menepis tangan satpam itu.


Handoko yang melihat Pamela mampu membuat satpam itu terjaduh langsung menemukan alasan kenapa ia memecatnya secara tidak hormat.


"Para Dokter, kalian liat sendiri tingjah laku Dokter Pamela yang tidam bisa di jadikan contoh yang baik, sebagai Dokter. Saya harap ini keputusan yang tepat," ucap Pak Handoko, membaut Pamela semakin geram.


"Kalian semua, penjilat! Kalian tega menyingkirkan orang yang tidak bersalah, demi kepentingan pribadi," geram Pamela.


"Jaga ucapanmu, Dokter Pamela! Kau pantas di pecat karena kecerobohanmu! Aku pastikan kau tidak akan mendapatkan pekerjaan di rumah sakit lagi, karena semua rumah sakit telah memblacklis namamu," kesal Handoko.


"Dasar kau kurang ajar!" seru Pamela, melemparkam surat pemecatan di wajah Handoko, membuat Handoko langsung menatap tajam Pamela.


Pamela langsung keluar dari ruang direktur dengan cepat, ia langsung berlari menuju ruang staf.


Hatinya terlihat sangat kacau, membuatnya tidak mampu lagi untuk menahan emosi, air matanya tidak bisa di bendung lagi.


Saat Pamela akan keluar dari rumah sakit, ia melihat pintu UGD di tutup karena banyak sekali wartawan yang ingin mewawancarai Pamela.


Pamela menatap pintu itu dengan wajah yang sangat sedih, membuatnya langsung keluar melewati pintu belakang, ia berjalan cepat sampai bertemu lorong kamar jenazah.


Saat Pamela berhasil keluar, tiba-tiba ada yang menutup mulutnya dengan kain yang sudah di beri obat bius, sehingga Pamela pun langsung tidak sadarkan diri, pria itu langsung membawa Pamela pergi meninggalkan rumah sakit tanpa di ketahui oleh wartawan.

__ADS_1


Wartawan yang masih menunggu di depan UGD, mereka masing-masing sedang menyiarkan berita dari berbagai stasiun televisi.


Di dalam ruangan.


"Tragedi yang sangat mengejutkan, menjadi bumerang besar untuk Rumah Sakit Utama Medika yang gagal dalam menjalani operasi transplantasi hati," ucap Dokter Arif.


"Saya harap, kejadian ini tidak akan terulang lagi. Ini bisa membuat rumah sakit kita lalai dalam memilih Dokter yang kompeten," ucap Pimpinan Han.


"Baik Pak," ucap Dokter Arif, melirik tajam ke arah Dokter Anton sebagai pelaku yang sesungguhnya.


Dokter Anton hanya terdiam, tidak berani berkata apapun.


"Apa keluarga pasien bisa terima semua ini?" tanya Pimpinam Han.


"Saya sudah menjelaskan semua yang terjadi, mereka menerima semuanya, mereka tidak akan menuntut pihak rumah sakit," jawab Dokter Arif.


Suasana pagi hari yang sangat kacau, berbeda dengan Luis yang sedang menghadiri pemakaman tawanannya, ia pun langsung mendapat informasi mengenai kabar Dokter Pamela yang di pecat secara tidak hormat.


Jemi membisikan berita tentang Pamela, membuat Luis langsung menoleh ke arahnya, dan berbalik arah kembali ke mobil.


"Apa maksudmu?" tanya Luis.


Jemi menunjukan tayangan yang masih berlangsung tentang mal praktek yang di lakulan Dokter Pamela.


Luis langsung menganggukan kepalanya, dan masuk ke dalam mobil.


"Hubungi Kevin segera," perintah Luis.


Mobil yang di naiki Luis, langsung pergi meninggalkan pemakaman. Mobil itu berjalan menuju rumah mewah yang di jaga oleh banyak ajudan.


Luis ke luar dari dalam mobil dengan kaca mata hitam, ketika ia berjalan masuk ke dalam rumah itu, semua pelayan dan penjaga rumah itu langsung menundukan kepalanya ketika Luis berjalan melewatinya.


Pak Adit yang bekerja sebagai asisten pribadinya Pimpinan Hanji, keluar menemui Luis.


"Di mana Kakek?" tanya Luis.


"Ada di dalam Tuan muda," jawab Pak Adit berjalan menujukan Pimpinan Hanji yang sedang memggendong kucing kesayangannya.


"Kau sudah menemui Dokter itu?" tanya Pimpinan Hanji.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2