
Selesai mendonorkan darah, Pamela merasa tubuhnya sangat sempoyongan, pandangannya kabur dan ia hampir pingsan, semua ini ia tahan agar tidak di ketahui siapapun.
"Sus boleh saya istirahat di sini," ucap Pamela.
"Silahkan Nona," sahut Perawat.
Pamela langsung memejamkan matanya, ia merasa sangat pusing. Matanya langsung terpejam begitu saja, membuat perawat yang berjaga, jika Pamela hanya tertidur. Ternyata dia pingsan.
Citra segera di tangani dan kini dalam kondisi stabil, setelah mendapat donor darah dari Pamela.
Bramasta dan Sherlin sednag menunggu Citta di ruang UGD, sampai Citra pindah ke ruang rawat inap yang ada di rumah sakit itu.
"Apa tindakan kita tidak keterlaluan?" tanya Sherlin.
"Aku merasa kita sangat jahat dengan mereka, melihat kegigihan Pamela menyelamatkan Citra membuatku gagal menjadi seorang ibu," sambungnya sambil menangis.
"Kau harus tenangkan dirimu, kita berusaha melakukan yang terbaik, jadi jangan khawatir," jawab Bramasta.
"Kau sudah menghentikan rumor itu?" tanya Sherlin, bangun dari pelukan suaminya.
"Aku sudah menelpon bagian IT, untuk menghentika seluruh iklan dan berita yang beredar, malam ini akan di hentikan secara serentak," jawab Bramasta.
Dokter Boy, menyuruh Perawat untuk memeindahkan Citra ke ruangan VIP, karena kondisi Citra semakin ada kemajuan, membuat perawat membawa Citra dengan brangkar.
Sherlin dan Bramasta mengikutinya dari belakang, tetapi Dokter Boy menatap Bramasta seolah ada yang di sampaikan.
"Bisa kita bicara Pak Bramasta," ucap Dokter Boy.
Bramasta menghentikan langkahnya, menyuruh Sherlin untuk mengikuti Citra yang sudah di pindahkan.
"Ada apa Dok?" tanya Bramasta.
"Terlalu sering begadang itu bisa menyebabkan kondisi tubuh tidak stabil, apa lagi jam istirahat sangat kurang, itu mampu membuat sirkulasi darah menjadi lambat dan akan mengakibatkan serangan jantung, stroke, gagal ginjal. Pasien Citra sudah mengalami hal ini cukup lama, dan ini sangat berbahaya bagi kesehatan mentalnya, saya harap setelah sembuh, Pasien Citra harus di bawa ke pasikiater untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut," jawab Dokter Boy.
Bramasta hampir saya akan marah, tetapi ia tahan, ia beranggapan jika Dokter Boy mengatakan anaknya terkena gangguan jiwa.
"Jadi Dokter pikir anak saya gila! Jaga ucapanmu!" seru Bramasta.
Dokter Boy tersenyum manis.
__ADS_1
"Siapa yang mengatakan anak Pak Bramasta, saya hanya menjelaskan, penyebab stres itu bisa mengakibatkan tekanan darah turun, dan gangguan konsetrasi, itu akan berbahaya jika dibiarkan dan terus di tekan. Tubuhnya butuh istirahat yang cukup," jelas Dokter Boy.
Bramasta terdiam, ia berusaha menurunkan egonya, karena kondisi Citra yang cukup memprihatinkan.
"Lalu saya harus bagaimana?" tanya Bramasta.
"Kau seorang ayah, sehebat apapun kau di luar sana, kau tetap seorang ayah di rumah, di depan anakmu, apresiasilah semua usahanya mesti tidak sesuai apa yang Pak Bramasta harapkan, karena itu mampu membangkitkan semangatnya, saya harap Pak Bramasta tidak tersinggung denga ucapan saya, saya sebagai seorang ayah dan dokter, saya bisa merasakannya," jawab Dokter Boy.
Bramasta seperti mendapat teguran, ia merasa pencerahan dari Dokter Boy, sangat memotivasi dirinya, ia seperti menyesali tindakannya selama ini yang sangat mengekang Citra untuk terus belajar dan masuk University favorit seperti Pamela.
Tetapi, kemampuan mereka berdua sangatlah berbeda, Pamela yang memang anak jenius dan bersosialisasi selalu memilih jalannya sendiri dari pada mengikuti kemauan orang tuanya. Sedangkan Citra ia berusaha mengikuti mauan orang tuanya, tetapi ia tidak mampu.
Dokter Boy pun pergi meninggalkan Bramsata, ia berjalan kembali ke ruang UGD.
Bramasta menatapnya sampai Dokter Boy semakin menjauh, lalu ia melangkah menuju ruangan Citra di rawat.
Selesai di ruang operasi, Dokter Morgan langsung mundur dan menyuruh asistennya untuk melajutkan penjahitan.
"Kerja yang bagus, tugasku selesai, lanjutkan penjahitan," ucap Dokter Morgan.
"Baiklah Dokter, kau memang hebat, kita semua hebat," sahut Dokter Feni.
Masih menggunakan baju OK (baju operasi), Dokter Morgan berjalan melewati ruangam donor darah, matanya tidak sengaja melihat seorang wanita yang sangat pucat, tertidur seperti orang yang pingsan.
Dengan cepat Dokter Morgan langsung memeriksa deyut nadi yang ada di leher Pamela, ia merasakan denyut itu bergitu lemah, membuat Dokter Morgan akan mengambil stetoskop.
Tetapi niatnya terhalang oleh sentuhan tangan yang tiba-tiba memegang tangannya, membuat Dokter Morgan langsung menoleh ke arah Pamela.
"Jangan lakukan apapun, aku hanya lapar," ucap lirik Pamela, membuat Dokter Morgan akhirnya membawa Pamela ke kantin untuk makan.
Mereka berdua berada di kantin, dengan posisi duduk berhadapan membuat mereka hanya saling pandang.
"Kamu yang meninggalkan adikku di UGD, pergi kemana kamu?" tanya Pamela.
"Ada operasi darurat yang harus di lakukan, jadi aku menghubungi Doktee Boy untuk menjaga UGD," jawab Dokter Morgan.
Pamela masih menatap Dokter Morgan, tak lama pesananya pun datang, betapa terkejutnya Dokter Morgan melihat telur yang di pesan Pamela sangat banyak, membuat terheran-heran.
"Porsi makanmu sangat banyak," celetuk Dokter Morgan.
__ADS_1
"Aku baru saja mendonorkan darahku, jadi kurasa aku butuh protein tinggi untuk mengembalikan semuanya," sahut Pamela.
Dokter Morgan memperhatikan Pamela yang makan dengan lahap membuatnya merasa lapar, suara perutnya berbunyi, hingga terdengar oleh Pamela.
"Makanlah, sebelum datang pasien darurat," ucap Pamela.
"Jaga ucapanmu, itu akan menjasi kutukan untuk rumah sakit ini," ucap Dokter Morgan menatap tajam mata Pamela.
Pamela merasa bingung dengan kata-kata Dokter Morgan berusan, ia belom bisa mencerna semua yang di katakan Dokter Morgan.
5 menit kemudian....
Suara alarm ambulance pun terdengar, membuat Dokter Morgan menatap Pamela, ia langsu g pergi meninggalkan Pamela yang sedang makan.
Merasa penasaran dengan Dokter Morgan yang begitu mendengar suara siline ambulance langsung berlari, membuat Pamela ikut menyusulnya.
Petugas ambulan berlari masuk ke dalam membawa pasien denga kecelakaan masal, yang memakan korban cukup banyak.
"Pasien darurat!"
Teriak petugas ambulan.
Dokter Morgan yang baru saja sampai di ruang UGD langsung menghampiri pasien yang baru datang.
Dokter Morgan langsung menangani satu persatu pasien yang terus berdatangan, ia terlihat sangat sibuk.
Pamela pun terkejut dengan ucapannya yang ternyata membawa kabar yang tidak baik. Dengan profesinya sebagai seorang Dokter Bedah Umum, Pamela langsung masuk di tengah-tengah kepanikan para perawat yang sangat kualahan menangani pasien yang berdatangan.
Jiwa seorang Dokternya kembali bangkit, ia langsung memeriksa beberapa pasien, membuat sebagian Perawat tidak menyadari jika ada Dokter asing yang masuk memeriksa pasien di UGD.
Terlalu sibuk menangani pasien, termasuk Dokter Morgan belum menyadari jika Pamela ikut menangani pasien, ia terlihat sedang menjahit luka pasien dengan sangat terampil, Perawat yang menjadi asistennya sangat kagum dengan cara kerja Pamela yang sangat rapih dan cepat.
"Aku sudah menjahit lukamu, usahakan jangan terkena air selama 3 hari, kau bisa memeriksakan jaitannya di pusat kesehatan mana saja," ucap Pamela dengan ramah.
Selesai menjahit pasien yang ada di ranjang B, Pamela tidak menyadari jika beberapa Dokter dan Perawat sedang memperhatikan kerjanya, yang sangat cepat, mereka kagum dan bertanya-tanya.
"Siapa waniat ini? Apa dia seoeang Dokter?"
BERSAMBUNG....
__ADS_1