
Penekanan Luis, membuat Dokter Boy langsung mendekatinya.
"Kita butuh waktu satu minggu lagi, aku rasa Pimpinan akan sadarkan diri," ucap Dokter Boy.
"Ingat. Jika terjadi sesuatu dengan Kakekku, kalian semua yang masuk ke dalam ruang operasi akan mendapat surat peringatan," ancam Luis.
Dokter Boy hanya terdiam, ia tak mampu mengatakan apapun. Melihat Luis pergi meninggalkannya.
"Dok!" panggil Pamela.
"Aku rasa, Pimpinan Hanji mengalami mati batang otak," ucap Pamela.
"Jika dia mengalami itu, ada salah satu tanda vitalnya tidak normal, tetapi semua hasil pemeriksaan mengatakan dia baik-baik saja. Aku rasa memang usianya rentan untuk melakukan operasi besar," jelas Dokter Boy.
Lalu apa yang harus kita lakukan Dok?" tanya Pamela.
"Kau harus terus memberi rangsangan kepada Pimpinan Hanji, rangsangan taktil dapat membantu pergerakan organ tubuh pasien," pinta Dokter Boy.
"Baiklah Dok, akan saya lakukan," ucap Pamela.
Pamela pun akhirnya pergi menemui Bagas, ia melihat Bagas sedang duduk terdiam menatap taman.
Pamela merogoh coklat dikantongnya, ia memerikan kenapa Baga, Bagas yang melihat coklat langsung menoleh ke arah Pamela.
"Ternyata kau," ucap Bagas.
"Dewasa sekali bicaramu, apa kau mau coklat?" tanya Pamela.
"Aku tidak terlalu suka coklat, tapi jika kau memaksa akan aku terima," jawab Bagas.
Pamela tersenyum melihat tingkah Bagas yang sangat lucu.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Pamela.
"Aku baik-baik saja, aku bahkan makan dan tidur dengan baik, sekarang aku sudah sehat. Aku akan menagih janji yang sudah kau berikan padaku," jawab Bagas.
"Baiklah, jika kau sudah sembuh, aku akan mengajakmu menemui teman yang kau rindukan," ucap Pamela.
Pamela langsung menelpon Nek Marlin, ia menanyakan keberadaan kety.
Pamela: "Hallo Nek, bagaimana kabarmu?"
Nek Marlin: "Kau ini cucu yang tidak tahu diri, bagaimana bisa kau tidak memberi kabar pada Nenek, apa kau sudah melupakan Nenek!"
Niat Pamela ingin menanyakan keberadaan Kety, malah justru dia yang mendapat ocehan dari Nek Marlin. Pamela langsung menjauhkan ponselnya karena ocehan Nek Marlin membuat telinganya hampir pecah.
Bagas yang melihat itu semua hanya terdiam.
"Baiklah Nek, maafkan aku. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk, sampai lupa memberi tahu Nenek. Oiya Nek dimana Kety?" tanya Pamela.
"Kety sedang makan, lihatlah dia sekarang badannya mulai berisi dan dia terlihat sangat gemuk," ucap Nek Marlin.
"Benarkah, bisakan Nenek pindah ke Video Call?" tanya Pamela.
Nek Marlin akhirnya menerima nelpon Video Call dari Pamela, saat telpo itu diterima. camera itu mengarah ke arah Kety yang sedang makan sambil menonton kartun.
__ADS_1
"Hay Kety, apa kau kenal dengan anak di sampingku?" tanya Pamela kepada Kety.
Kety langsung menoleh ke arah ponsel Nek Marlin, ia melihat Bagas yang melambaikan tangannya ke arah camera. Membuatnya langsung melebarkan matanya.
"Bagas!" panggil Pamela.
"Kety, apa kau benar Kety?" tanya Bagas.
"Iya aku Kety, bagaimana bisa Kakakku menemukanmu?" jawab Kety dengan tatapan yang sangat terkejut.
"Ceritanya panjang, kita harus bertemu. Kau harus menemuiku di rumah sakit tempat Kakakmu bekerja," ucap Bagas.
"Baiklah, aku akan datang kesana bersama Nenek," ucap Kety.
Video Call pun terputus, Kety langsung meminta kepada Nek Marlin untuk kerumah sakit.
"Nek mau kah, Nenek mengantarku ke rumah sakit Radom?" tanya Kety.
"Baiklah, siapkan dirimu. Ayom kita berangkat," ajak Nek Marlin.
Mereka pun akhirnya memesan taksi online, agar lebih cepat sampai di rumah sakit.
Pamela yang masih duduk di kursi tunggu pasien langsung meletakan ponselnya di sakunya.
"Apa kau percaya denganku?" tanya Pamela.
"Apa kau benar Kakaknya Kety?" tanya Bagas.
"Tentu, aku mempunyai banyak adik, Kety salah satunya," jawab Pamela.
Mendengar ucapan Bagas, seketika Pamela langsung terdiam dan mulai tersenyum melihat Bagas yang dengan wajah memelasnya.
"Apa kau ingin menjadi adikku? Bukankah aku sangat menyebalkan bagimu," ucap Pamela.
"Kau memang sedikit menyebalkan, tapi hatimu baik, aku sangat tersentuh," kata Bagas.
"Hu ... kau memang dewasa sebelum waktunya. Apa kau tahu? Ucapanmu dari kemarin seperti orang yang sudah dewasa," ucap Pamela.
Pamela dan Bagas sedang asik berbincang, tak lama Kety dan Nek Marlin sampai dirumah sakit dan ia langsung masuk ke dalam.
Dari kejauhan, ia melihat Bagas yang masih menggunakan pakaian rumah sakit, mendapat teriakan dari Kety, membuatnya langsung menoleh.
"Bagas!" panggil Kety.
Bagas pun menoleh ke arah sumber suara.
Kety perlari dan langsung memeluk Bagas.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Kety.
Tanpa disadari Kety meneteskan air matanya, ia sempat tak menyangka jika Bagas selamat saat mereka melarikan diri.
"Nenek, bagaimana kabarmu?" tanya Pamela.
"Kabarku baik, aku sedih melihat kerinduan yang terlintas di mata Kety, ia sangat merindukan sosok Bagas," jawab Nek Marlin.
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa menemukan mereka?" tanya Nek Marlin.
"Ceritanya sangat panjang Nek, sebaiknya kita berbicara di kantin saja, di sana cukuo sepi," jawab Pamela.
Akhirnya mereka duduk di kantin, dan Pamela pun bercerita tentang semuanya.
Pamela bercerita saat meminta bantuan Pimpinan Hanji, tentang kasus perdagangan anak. Tak lama ia mendapat kabar jika gedung itu mengalami kebakaran dan semua anak yang menjadi korban perdagangan anak, akhirnya selamat.
Semua Pamela ceritakan sampai membuat Kety menyimak dengan sangat serius.
"Apa mungkin semua ini karena Pimpinan Hanji?" tanya Nek Marlin.
"Iya Nek, aku sempat bertemu cucunya," jawab Pamela.
"Dimana dia sekarang, aku ingin berterima kasih kepada Pimpinan," sahut Kety.
"Kalian doakan Pimpinan agar segera siuman, dia sedang mengalami kritis setelah operasi, tanda vitalnya normal tapi dia belom juga sadar," jelas Pamela.
"Baiklah, mari kita berdoa," ucap Kety.
"Aku rasa berdoa harus ditempat yang bersih," ucap Bagas.
"Kau benar juga," kata Kety.
"Makan yang banyak, biar kau cepat pulih. Ngomong-ngomong siapa namamu?" tanya Nek Marlin.
"Namaku Bagas Nek," jawab Bagas.
"Kau kelak akan menjadi pria yang tampan, lihatlah alis mu sangat lebat," ucap Nek Marlin.
"Apa Nenek menggodanya?" tanya Pamela.
"Tidak. Dia hanya keliatan seperti manatan pacar Nenek," jawab Nek Marlin.
Semua terdiam dan saling pandang satu sama lain, Pamela yang sudah tidak bisa menahan tawanya, akhirinya tawa itu terlepaskan begitu saja. Membuat tawa itu langsung menular, dan mereka tertawa bersama.
"Aku rasa Nenek dulunya sangat genit."
"Ku rasa begutu."
"Diamlah, kalian harus habiskan makananya."
Senda gurau mereka di pantau oleh Dokter Feni yang dari awal memang tidak menyukai kedatangan Pamela, ia melihat Pamela tertawa pun merasa kesal dan ingin mengusirnya.
'Apa dia semua adalah keluarganya?' gumam Dokter Feni dalam hati.
"Dokter Feni! Kau sedang apa?" tanya Dokter Morgan.
Jantung Dokter Feni berdetak sangat cepat, saat ada yang memanggilnya. Ia perlahan menoleh ke arah sumber suara.
Dokter Feni terkejut melihat Dokter Morgan ada di belakangnya.
"Astaga, aku pikir kau siapa."
BERSMBUNG..
__ADS_1