Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Mati lampu


__ADS_3

Pamela, mencari keberadaan pintu itu, tetapi tak kunjung menemukannya, membuatnya merasa kesal dan putus aja.


Pamela melirik tajam ke arah Luis. "Aku rasa, dia sedang mengerjaiku. Awas kau ya," gumamnya dalam hati.


"Dimana pintunya! Aku tidak melihat apapun disini," ucap Pamela.


Luis yang sedang menikmati keheningan malam, merasa terganggu dengan suara Pamela. Membuatnya langsung terbangun dan menatap tajam Pamela.


Pamela yang merasa ditatap tajam oleh Luis, langsung menatap balik Luis.


Luis langsung bangkit dari rebahannya dan berjalan mendekati Pamela.


Luis mendorong tembok samping televisi itu.


Pamela yang melihat langsung terbengong, ia mengira itu adalah tembok, ternyata itu pintu yang sengaja diukir mirip tembok.


Setelah membuka pintu kamar pribadinya, ia kembali ke sofa dan merebahkan tubuhnya.


Pamela masih terkagum dengan suasana kamar yang sanga unik.


"Wah, kamar yang keren. Pintunya pun keren, aku hampir saja tidak memperhatikan pintu ini, ku pikir pintu ini adalah tembok," kagum Pamela.


Pamela masuk kedalam kamar itu, ia melihat ranjang yang tidak terlalu besar, tapi telihat sangat empuk, membuatnya langsung merebahkan tubuhnya.


"Astaga, ini nyaman sekali," ucap Pamela.


Pamela sangat menikmati kasur yang begitu empuk, membuatnya terpejam dengan cepat.


Manstion milik Bramasta.


"Pamela harus segera hamil, agar seluruh harga keluarga Hanji akan segera jatuh ketangan anak kita," ucap Bramasta.


"Aku harap begitu, agar keluarga kita tidak akan terkalahkan, aku bisa memberitahu semua temanku, jika Pamela menjadi Nyonya Luis, pengusaha terkaya di nusantara," sahut Sherlin.


Mereka berbincang sambil menyantap makan siang, semua percakapan Bramasta dan sang istri, didengar oleh Citra, membuatnya langsung tidak berselera makan.


'Sejahat, ini kah. Orang tuaku? Mereka semua terlalu mementingkan harta, harta yang tidak akan dibawa mati,' gumam Citra.


Citra langsung meletakan sendoknya dan segera minum sebanyak mungkin. Tingkah Citra terlihat sangat aneh, membuat Sherlin terheran.


"Ada apa?" tanyanya, membuat Citra menoleh kearah sumber suara.


"Citra sudah kenyang ma, Citra lupa jika ada pekerjaan sekolahan, yang akan dikumpul besok," jawab Citra, berlalu pergi meninggalkan meja makan.

__ADS_1


Citra berjalan dengan cepat, menuju kamarnya. Ia segera menutup pintu kamar dan langsung melemparkan ponselnya dengan kasar, di atas ranjang tempat tidurnya.


"Orang tua yang jahat, bukannya mentingin kebahagiaan anaknya, ini justru malah menyuruh Kak Pamela untuk segera hamil. Orang tua yang aneh," geram Citra.


Meresa jenuh, menatap ponselnya. Ia tiba-tiba teringat dengan adik angkatnya yang tidak dengan Nek Marlin.


Dengan cepat Citra, langsung meraih ponsel itu dan menghubungi Nek Marlin, melalui Video Call.


Dirumah Sakit.


Kabar tentang berdukanya pemilik resmi Rumah Sakit Radom Medika, masih sangat terasa. Suasana rumah sakit pun tampak berubah menjadi tidam bersemangat, hawa dingin mengundang kesedihan yang sangat menyayat hati.


Semua staf rumah sakit, masih merasakan pilu yang mendalam, tetapi banyaknya pasien yang berdatangan, membuatnya harus tersenyum dengan ramah. Menunjukan wajah topengnya, untuk membuat orang bahagia.


"Hay Dokter Boy."


"Permisi Dokter Boy."


"Dokter Boy."


"Kau sudah siap Dok."


Sapaan semua staf, membuat staf lainnya dan Dokter Boy kembalu bersemangat.


Semangat, yang membara ini. Suatu bukti bahwa, meninggalnya pemilik rumah sakit, bukan alasan untuk menutup rumah sakit, tetapi membuat rumah sakit semakin berkembang lebih pesat dari segi manapun.


"Pasien diranjabg No. 09 Dok," ucap Perawat Rere.


"Bawa pasien ranjang 07, kerumah operasi segera!" perintah Dokter Morgan.


"Ambilkan perban dan cutgat (benang jait)," perintah Dokter Dani.


"Bawa pasien ke ranjang No. 10," perintah Dokter Feni.


Semua staf, terlihat sangat sibuk dengan adanya pasien yang tak hentinya berdatangan. Membuat mereka semua melupakan rasa sedih yang masih mendalam, terutama kesedihan yang dialami oleh Dokter Boy.


Seketika, aktivitas rumah sakit membuatnya fokus untuk merawat pasien.


.


.


.

__ADS_1


Hari sudah mulai petang, terasa gelap dikamar Luis, begitu juga kamar Pamela. Mereka tertidur dikamar yang sama, dengan ruangan yang berbeda.


Pelayan, yang biasanya melayani Luis pun tak berani mengetuk pintu Tuan muda, karena takut mengganggunya.


Makan malam pun sudah dihidangkan oleh chef, tetapi seperti sia-sia, karena tidak ada yang menghampiri makanan itu untuk memakannya.


Pamela mengeliak, ia terlalu nyaman dengan kasur yang sangat empuk itu, sampai akhirnya saat ia mengganti posisinya, tiba-tiba tubuhnya terjatuh kelantai. Membuatnya langsung terbangun.


"Au ... astaga, kenapa gelap sekali? Apa aku sedang berada di beda alam?" tanyaku dengan kebingungan.


Pamela langsung mencari, keberadaan ponselnya. Tapi, ia tak kunjung menemukannya.


"Dimana sih, ponselku?"


Pamela terus meraba, sampai akhirnya ia menemukan benda kecik yang sangat pas saat digenggang. Ternyata itu adalah ponselnya.


Pamela langsung menyalakan cahaya dari ponsel itu, membuatnya mencari letak tombol untuk menghidupkan lampu.


Pamela kebingungan, mencari keberadaan tombol itu, sampai akhirnya. Ia keluar dari kamar, melihat kamar Luis pun ikut gelap, membuatnya mengira jika mati lampu.


"Ternyata mati lampu," ucaalnya.


Pamela terus melangkah, mencari tombol untuk menghidupkan lampu dikamar Luis, tetapi tak kunjung menemukannya. Membuat Pamela akhirnya mencari keberadaan Luis.


Pamela terus mengarahkan ponselnya di arah depan, ia melihat Luis tertidur di sofa, membuatnya langsung mendekatinya.


Sebelum membangunkan Luis, Pamela memastikan apakah itu Luis atau bukan. Ia menelusuri tubuh Luis dari ujung kaki sampai ujung kepala, ternyata dia Luis sungguhan.


Mendapat menerangan dari ponsel Pamela, Luis pun mulai membuka matanya, membuat Pamela kebingungan harus bagaimana.


Pamela langsung kebingungan, seperti orang yang ketauan maling. Kerena bingung, akhirnya ia mengarahkan cahaya ponselnya ke wajahnya sendiri.


Luis yang membuka matanya sayup-sayup merasa sangat kaget, melihat ada manusia bercahaya di hadapannya.


Seketika Luis langsung teriak sekencang mungkin.


"Hantu!"


"Beraninya kau masuk ke kamarku!"


Teriakan itu, membuat Pamela panik bukan main.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2