Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Kesadaran Luis


__ADS_3

Pimpinan Hanji melihat Pamela berbisik dengan Doktee Zen, membuatnya langsung mendekatkan wajahnya.


"Apa itu benar?" tanya Pimpinan Hanji.


Pamela merasa kaget, mendengar suara Pimpinan Hanji yang begitu dekat.


"Astaga, Pak Hanji, Bapak mengagetkan saya saja," ucap Pamela.


Pimpinan Hanji pun tertawa, ia terlihat senang, dengan Pamela yang mampu menghiburnya.


Akhirnya mereka membicarakan, obrolan serius, dimana Dokter Zen mengatakan jika operasi Pimpinan akan di lakukan minggu depan.


Melihat kondisi Pimpinan yang semakin kesulitan untuk berjalan, akhirnya Dokter Zen, memutuskan segera memajukan jadwal operasi.


"Aku justru menginginkannya besok, tapi kalian pasti perlu banyak mempersiapkan segalanya," ucap Pimpinan Hanji.


"Kami perlu menyiapkan segalanya dengan mantang Pak, karena banyak komplikasi yang terjadi apabila operasi berlangsung," jelas Dokter Zen.


"Dan kami bisa langsung menangani komplikasi itu dengan cepat," sahut Pamela.


Hari sudah sore, Pamela langsung pamit untuk meninggalkan rumah Pak Hanji, Pamela langsung pulang ke rumah Nek Marlin.


Saat dirinya baru sampai dirumah, ia mendapat telpon dari Aril.


Pamela: "Hallo, ada apa?"


Aril: "Lusa kau ada waktu? Aku meminta waktu untuk kau menyapa anak muridku."


Pamela: "Apa maksudmu, aku harus menyapa bagaimana?"


Aril menjelaskan, jika klas musik yang dia ajar, mengadakan kunjungan oleh musisi yang sangat hebat, untuk merbagi ilmu dan pengalaman, tawaran itu membuat Pamela langsung mengiyakan.


Pamela: "Baiklah, nanti aku kabari jam berapanya, nanti malam kita bertemu kan, aku ada job manggung."


Sambungan telpon pun terputus, ia langsung masuk ke dalam rumah Nek Marlin.


"Nenek, aku pulang!" ucap Pamela.


"Semalem kenapa tidak pulang? Apa terjadi sesuatu?" tanya Nek Marlin.


Pamela menoleh sekitar ruangan, untuk memastikan jika tidak ada Kety.


"Aku semalem mencari mafia yang tega melakukan perdagangan anak, Nek. Aku sudah menemukan markasnya, kami sempat di serang oleh beberapa bandit dan akhirnya, kami bisa menyelamatkan diri," jawab Pamela.


"Itu sangat membahayakan dirimu, kau harus berhati-hati, mereka sangat licik dan jahat. Mereka tega membunuh dan menyiksa kita, jika kita tertangkap," pesan Nek Marlin.

__ADS_1


"Apa semua mafia sejahat itu, Nek?" tanya Pamela.


"Tidak semua, tapi rata-rata mereka kejam dan memiliki masa lalu yang sangat menyakitkan, sehingga mereka bisa membalaskan dendamnya dengan orang yang tidak bersalah," jawab Nek Marlin.


Pamela sembari memakan, tahu goreng yang sudah ditiriskan oleh Nek Marlin.


'Itu artinya Pimpinan Hanji pun orang yang kejam dong, tetapi kenapa aku tidak melihat ada kekejaman dari sorot matanya? Ini sangat aneh, apa aku belom melihat dia marah? Aku rasa harus waspada denganya,' gumam Pamela dalam hati.


Pamela terus memakan tahu goreng buatan Nek Marlin yang sangat enak, membuat Pamela merasa kenyang karena menghabiskan satu piring penuh.


Suara sendawa, membuat Nek Marlin langsung memukul bahu Pamela.


"Sopan sekali, depan Nenek sendawa dengan lantangnya," kesal Nek Marlin.


"Au sakit Nek, tahu buatan Nenek sangat enak, aku habiskan dan sekarang aku merasa sangat kenyang," ucap Pamela.


"Aku pulang!" teriak Kety, masuk ke dalam rumah, ia melihat Pamela yang duduk di meja makan.


"Kak Pamel!" panggil Kety.


"Kety, kamu sudah pulang, kemari," ucap Pamela.


"Kak, ada yang mencarimu," ucap Kety.


"Siapa?" tanya Pamela.


Pamela merasa penasaran dengan ciri-ciri pria yang di sebut oleh Kety, Pamela pun langsung keluar untuk menemui pria itu.


Pamela melihat, pria itu ternyata, Luis. Pamela sangat terkejut melihat Luis bisa menemuinya di rumah Nek Marlin.


"Kamu!" tunjuk Pamela.


Luis langsung membuka kacamatanya, ia menatap Pamela yang mulutnya belepotan karena makan tahu.


"Bisa kita bicara?" tanya Luis.


"Katakan saja di sini, ada apa " jawab Pamela.


"Ini rahasia," ucap Luis.


Pamela akhirnya mengikuti Luis, mereka berbicara di salah satu gedung kosong yang sudah lama tidak di huni.


Mereka masuk ke lantai 5, membuat Pamela sedikit waspada.


'Mau di bawa kemana aku ini, awas saja jika kamu berani mencelakaiku, akan aku butuh kau ya,' batin Pamela sudah siaga.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam ruangan yang sangat minimali, membuat Pamela menatap setiap sudut ruangan itu.


"Ku dengar, kau terlihat akrab dengan Kakeku, apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Luis.


'Aku rasa dia ini syirik denganku, melihatku dekat dengan Pimpinan saja sudah kebingungan, makanya jangan sibuk cari duit melulu,' batin Inka.


Luis merasa Pamela hanya diam saja, membuatnya sedikit meninggikan nada suaranya.


"Kenapa diam!" ucap Luis.


Pamela menatap Luis yang mulai kesal dengan Pamela.


"Memangnya kenapa? Apa kau merasa iri?" tanya Pamela.


Luis yang mendengar Pamela membuka suara, membuatnya langsung tertawa.


"Kau pikir aku akan takut. Hah! Kau salah. Aku hanya memperingatkanmu, jika niatmu tidak baik dengan Kakekku, jangan berani coba-coba, karena kau akan tahu akibatnya," kata Luis.


"Memangnya aku mau apakan Pimpinan Hanji, aku hanya memenuhi tugasku sebagai seorang Dokter pribadi untuknya," jelas Pamela.


"Apa kau tahu, kondisi yang sesungguhnya Pimpinan Hanji?" tanya Pamela.


Luis langsung menatap Pamela.


"Apa maksudmu? Dokter Zen selalu memberitahu kondisi Kakekku," jawab Luis, mulai merasa penasaran.


"Kenapa kau jarang sekali berkunjung kerumahnya? Apa itu yang di namakan perhatian? Apa kau tahu, betapa bahagianya Pimpinan saat bergosip kecil dengan kita. Itu menandakan Pimpinan Hanji membutuhkan seorang teman, untuk tahu seluruh isi hatinya, kecemasannya, kesepiannya, kekesalannya. Dia terlihat sangat menderita dengan penyakit yang dia pikul, kau harus tahu ini semua," jelas Pamela.


Luis terdiam, karena selama ini ia sangat sibuk, bahkan berbicara dengan Pimpinan Hanji pun dalam satu bulan bisa di hitung. Hal ini membuat kondisi Pimpinan semakin memburuk.


"Dan satu lagi, aku tidak sedikitpun meminta imbalan apapun, setelah aku tahu, kondisi yamg di alami Pimpinan," sambunya.


Luis masih terdiam, ia merasa bersalah atas tindakannya kepada Pamela yang mengira akan mencelakakan Kakem ya sendiri, nyatanya dugaan Luis salah besar. Justru dialah yang merasa bersalah karena telah menuduh Pamela dan jarang berkunjung ke rumah Kakeknya.


Kepalan tangan Luis yang awalnya akan memukul Pamela, kini berubah menjadi uraian tangan yanb lembut.


"Temui Pimpinan, jika kau libur ... ajak Pimpinan pergi mancing atau mau golf, pokoknya lakukan yang membuat Pimpinan Hanji bahagia," ujar Pamela.


"Jangan sia-siakan momen indah bersama Pimpinan, karena umur kita tidak akan tahu, sampai mana kita akan menghembuskan panjang napas ini, turunkan egomu, dan peluk hangat Pimpinan," sambungnya, membuat Luis semakit terpaku tak mampu berkata apapun.


Pamela langsung pergi meninggalkan Luis, ia langsung keluar dari gedung kosong yang tak berpenghuni itu.


Pamela langsung memesan taksi dan kembali ke rumah Nek Marlin. Di dalam perjalanan, ia teringat ekspresi Luis yang sangat terkejut dengan semua ucapannya, membuat Pamela hanya bisa menghembuskan napas.


"Aku salah menilainya."

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2