
"Jika kau ingin aku menghukummu, baiklah dengan senang hati," ucap Dokter Boy.
'Sialan, harusnya aku tidak mengingatkan semuanya,' gumam Pamela dalam hati.
"Apa hukuman yang cocok untukmu ya?" gumam Dokter Boy.
"Aku hanya bisa pasrah," gerutu Pamela.
"Pergilah, nanti akan aku pikirkan. Hari ini aku harus menemui pasienku," ucap Dokter Boy.
Dokter Boy, pergi meninggalkan Pamela yang masih terdiam di ruangannya.
"Dia pergi, itu artinya hukumanku akan sangat berat, ini sangat menyedihkan," ucap Pamela, keluar dari ruangan Dokter Boy.
Pamela masuk ke dalam ruang staf, ia melihat Dokter Morgan dan Dokter Dani sedang makan mie instan, membuatnya langsung meletakan tumpukan jernal yang sangat banyak.
"Apa itu jurnal dari Dokter Boy?" tanya Dokter Dani.
"Kau benar, melihatnya aku hampir mual," jawab Pamela.
"Kau ikut dalam operasi Pimpinan?" tanya Dokter Morgan.
Pamela menoleh ke arah Dokter Morgan. "Kau benar, ku dengar kau akan ikut dalam operasi itu," jawabnya.
"Kalian terlihat dangat akrab ya," ucap Dokter Dani.
Secara kompak, Pamela dan Morgan menjawab. "Tidak!"
Seketika Dokter Dani langsung terdiam, menatap Dokter Morgan dan Pamela.
"Kenapa raut wajah kalian seperti orang yang akan memangsa," ucap Dokter Dani.
"Mana mungkin aku akan memangsamu, memangnya aku ini kanibal," ucap Pamela berpindah termpat duduk.
Pamela langsung menyalakan komputer yang ada di depan mejanya, perlahan ia mulai membuka satu persatu jurnal itu.
"Dokter Boy suka memberi teka-teki, jadi kau harus teliti dalam mencermati jurnal itu," ucap Dokter Morgan.
Pamela menoleh ke arah belakang, ia melihat Dokter Morgan membuka pintu staf dan keluar dari ruangan.
"Apa itu benar?" gumam Pamela.
Pamela tidak menghiraukan apa yang dikatakan Dokter Morgan, ia kembali fokus membaca jurnal yang ada di hadapannya.
Banyak jurnal yang sudah Pamela baca, tetpi ia tidak menemukan apapun. Hanya beberapa penatalaksanaan segala penyakit yang menurutnya ilmu baru.
Pamela kembali teringat dengan ucapan Dokter Morgan, tak lama Pamela keluar dari ruang staf dan mencari keberadaan Dokter Morgan.
Pamela mencari di setiap ruangan, tetapi tidak menemukan Dokter Morgan, akhirnya Pamela merasa putus asa. Ia kembali ke ruang UGD.
Selama Pamela kerja di rumah sakit, Pamela di sibuk dengan pasien yang terus berdatangan. Ia pun keluar masuk ruang operasi, untuk mengoprasi pasien sampai-sampai, ia melupakan kondisi fikirnya yang mulai kurang sehat. Matanya yang mulai menghitam, dan mulai kurus dan rambut terlihat kusut membuat Pamela tak memperdulikannya.
Pamela terus belajar, hingga akhirnya waktu operasi Pimpinan Hanji akan dilaksanakan besok.
__ADS_1
"Kau bekerja keras, belakangan ini," ucap Dokter Morgan, memberikan segelas susu hangat.
"Oh makasih, aku harus melakukan totalitas untuk hasil yang maksimal," kata Pamela.
"Kau sudah menemukan semua tugas yang di berikan oleh Dokter Boy?" tanya Dokter Msorgan.
"Berkat kau aku bisa memecahkan misteri ini, aku sangat lega, terimakasih," jawab Pamela.
Dokter Morgan terlihat senang saat Pamela mengatakan terima kasih, dari kejauhan Dokter Feni menatap mereka berdua merasa tidak suka.
Dokter Feni, memang menyukai Dokter Morgan tetapi, Dokter Morgan tidak menyukainya, dia hanya menganggap Dokter Feni adalah rekan kerjanya.
Melihat pemandangan di atas, membuat Dokter Feni semakin tidak menyukai kehadiran Pamela.
'Mereka terlihat sangat akrab,' batin Dokter Feni.
Saat Pamela dan Dokter Morgan sedang duduk di kursi tunggu tiba-tiba Dokter Boy datang menemui Pamela.
"Bagaimana dengan tugas yang kuberikan? Apa sudah kau kerjakan?" tanya Dokter Boy.
Pamela yang mendengar suara Dokter Boy, langsung berdiri.
"Sudah Dok, hari ini setelah makan siang, saya akan menemui Dokter Boy di ruangan," ucap Pamela.
"Baillah, aku menunggu," ucap Dokter Boy langsung pergi meninggalkan mereka.
Pamela langsung menarik napas, ia merasa sangat sesak saat Dokter Boy tiba-tiba datang dan menemuinya.
"Astaga, aku semakin gugup," ucap Pamela.
"Ini sangat sulit," ucap Pamela.
Pamela berusaha untuk tenang dalam menyikapi dirinya sendiri.
Waktunya makan siang sudah terlewatkan, Pamela dengan penuh kesiapan langsung berjalan menuju ruangan Pamela.
Pamela mengetuk pintu ruangan Dokter Boy.
"Masuk!" panggil Dokter Boy.
Pamela membuka pintu ruangan itu, perlahan ia masuk ke dalam dan langsung memberikan kopelan kepada Dokter Boy. Dokter Boy memembaca semua yang ditulis oleh Pamela, membuatnya tersenyum.
"Aku tidak salah orang untuk memberikan tugas ini," ucap Dokter Boy.
"Apa maksud Dokter Boy?" tanya Pamela.
"Kau mampu menyelesaikan semuanya dengan baik, besok Pimpinan Hanji akan datang bersama cucunya, kehadirannya sangat di rahasiakan. Karena Rumah Sakit Utama Medika sangat mengincar Pimpinan Hanji untuk di operasi di sana, apa kau mengerti," jawab Doktee Boy.
"Memangnya kenapa Dok, bukankan Rumah Aakit Utama Medika adalah rumah sakit yang snagat bergengsi, apa alasannya?" tanya Pamela semakin penasaran.
"Aku dengar mereka gagal mengoprasi pasien VIP yang melibatkanmu, sehingga kamu di pecat secara tidak hormat, kali ini mereka berusaha menarik Pimpinan Hanji untuk di operasi di sana, untung menutup kasus yang kemarin dan berusaha membuat operasi Pimpinan hanji berhasil, mereka akan selamat dari kehancuran," jelas Dokter Boy.
"Jadi ... Dokter Boy mengetahui semuanya?" tanya Pamela.
__ADS_1
"Aku pernah
merasakan apa yang kau rasakan, semua Dokter yang ada di sini merasakan hal yang sama, kami di sini untuk mengembangkan potensi, maka dari itu, kau harus menyelamatkan Pimpinan Hanji," jawab Dokter Boy.
"Aku masih belom memahaminya," ucap Pamela.
"Sudah, jangan terlalu banyak bertanya. Kau akan lupa dengan tugasmu, jika terus bertanya," kesal Dokter Boy.
"Baiklah Dok, maafkan aku," ucap Pamela, pamit untuk ke luar dari ruangan Dokter Boy.
Saat Pamela berjalan melewati koridor rumah sakit.
"Bagaimana, apa kata Dokter Boy?" tanya Dokter Morgan.
Pamela menoleh ke arah sumber suara, ia melihat Dokter Morgan berjalan mengikuti langkah kaki Pamela.
"Aku sudah bertemu dengannya, dia mengatakan besok Pimpinan Hanji akan datang bersama cucunya," jawab Pamela.
"Hanya itu? Apa dia mengatakan yang lain?" tanya Dokter Morgan.
Pamela mulai menarik napasnya dengan kasar.
"Apa kau sangat ingin tahu?" jawab Pamela.
Dokter Morgan menatap Pamela, " memangnya tidak boleh?" tanyanya.
"Tidak!" jawab Pamela.
"Kau ini pelit sekali," ucap Dokter Morgan.
Pamela langsung berlari menjauh dari hadapan Dokter Morgan.
Doktee Feni melihat kedekatan Pamela dan Dokter Morgan, merasa risih dan tidak menyukainya. Wajahnya seketika sangat kesal dengan Pamela.
Pamela, masuk keruang UGD.
"Dokter Pamela!" panggil Perawat Weni.
"Iya, ada apa?" tanya Pamela.
"Kau kan Dokter baru di sini, apa tidak ada niatan untuk kita khusus team UGD makan bersama," jawab Perawat Weni.
"Itu benar," sahut Dokter Dani.
"Kalo kita semua makan bersama, siapa yang menjaga UGD?" tanya Dokter Feni.
"Bagaimana jika, Dokter Feni saja yang menjaga UGD," sahut Perawat Rere.
"Apa!"
"Kau ini bicara apa?"
"Sudah jangan bertengkar!"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....