Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Kebiasaan tidur.


__ADS_3

Luis terus mendekatkan dirinya, membuat gunung kembar milik Pamela mulai menempel dada bidang Luis.


Pamela berusaha memejamkan matanya, ia tak berani menatap Luis yang sedang tersenyum licik.


Dengan gerakan cepat kilatnya, Pamela berhasil menghindar dari Luis. Tanpa mengatakan apapun, membuat Pamela langsung berlari menuju kamarnya.


Luis hanya tersenyum, melihat Pamela menutup pintunya dengan keras.


Luis berjalan menuju ruang gantinya. Ia mencari pakaian santai karena ia tidak ingin pergi kemana-kemana.


Sedangkan Pamela merasa jantungnua berdetak sangat kencang, membuatnya terus memegang dadanya.


Tatapan Luis meletak di otak Pamela, membuatnya berusaha untuk menghilangkan ikatan itu.


"Astaga, kenapa wajahnya ada dipikiranku. Ada apa denganku," gumam Pamela.


Luis yang selesai menganti pakaian, ia berjalan keluar kamarnya.


Tiba-tiba, Pak Adit datang menemui Luis. Mereka berbincang dan langsung berjalan keluar dari mansion. Luis terlihat sangat serius, ketika berjalan bersama Pak Adit.


Sampai di depan halaman, mansion. Ia melihat mafia yang bernama Rozak, tersungkur dihadapannya dengan tubuh yang penuh luka.


Salah satu ajudannya, memberitahu semua tentang Rozak.


"Kami menemukannya di New York Tuan, pria ini kehabisan masa paspornya dan kami menemukannya di bandara," jelas salah satu ajudan.


Luis, menekuk kakinya, posisi setengah duduk, ia menatap tajam Rozak.


"Sejauh apapun kamu pergi, kami akan tetap menemukanmu," bisik Luis lalu tersenyum licik.


Rozak yang sangat ketakutan, memohon-mohon kepada Luis untuk dimaafkan dan dibebaskan.


"Maafkan saya, saya sangat menyesal. Ampuni saya," ucap Rozak.


Tidak ada ampun bagi Rozak, karena kejahatannya sangat meresahkan.


"Bawa dia kemarkas. Cepat!" perintah Luis.


Ajudan itu langsung membawa Rozak dengan paksa, membuat Rozak berteriak meminta tolong.

__ADS_1


Rozak terus meronta-ronta, minta untuk dibebaskan, tetapi tidak ada satu orang pun yang peduli kepadanya.


"Awasi dia, dia bisa bebas dengan cara apapun," perintah Luis.


Luis langsung masuk ke dalam mansion.


"Waktunya makan malam Tuan," ucap Pak Adit.


"Baiklah," ucap Luis.


Di meja makan, sudah ada Pamela yang menunggu Luis, mereka akhirnya makan bersama, tanpa ada suara. Hanya terdengar suara sendok yang menyentuh piring.


Setelah makan malam, Pamela berjalan menuju ruang klinik yang dibuat khusus untuk merawat Pimpinan Hanji, tapi sekarang terbengkalai, membuat Pamela merasa ingin merubah tempat itu menjadi klinik khusus semua karyawan yang masih bekerja dengan Pimpinan Hanji dengan setia.


Niatnya belom sempat dibicarakan dengan Luis, hanya baru rencana saja.


Pamela keluar dari ruangan klinik itu, ia berjalan ketaman, menghirup udara segar di malam hari.


"Kau belom tidur?" tanya Luis.


Pamela tanpa menoleh siapa yang bertanya, ia hanya tersenyum sambil menatap taman yang begitu indah.


"Ini tempat favorit Kakekku," ucap Luis.


Pamela menatap Luis yang duduk disampingnya.


"Boleh aku bertanya?" tanya Pamela dengan sangat hati-hati.


"Katakanlah," jawabnya.


"Klinik milik Pimpinan Hanji, apa boleh dibongkar untuk umum?" tanya Pamela.


Luis terlihat marah, saat mendengar klinik yang sengaja dibuat untuk Pimpinan Hanji, ini akan di operasikan untu umum.


"Apa kau sadar dalam berbicara?" tanya Luis, menahan amarah.


Pamela mengetahui jika Luis merasa tersinggung.


"Aku tidak bermaksud untuk membuatmu terluka, aku hanya ingin membuat klinik itu tidak terbengkalai seperti itu. Aku rasa Pimpinan Hanji akan menyetujuinya, dia pasti akan senang," jawab Pamela.

__ADS_1


"Aku butuh waktu, untuk memutuskan semuanya," ucap Luis, berlalu pergi meninggalkan Pamela seorang diri.


Pamela menatap Luis pergi menjauh darinya.


'Apa semua ini akan berhasil? Tapi aku akan mencobanya,' gumamnya, kembali menatap taman.


Pamela sedang menghirup udara malam, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mendapat pesan dari Kevin.


"Bagaimana kabarmu? Setelah menjadi Nyonya Luis, apa kau melupakan kami?"


Pesan itu, membuat ponsel Pamela berdering. Membuatnya langsung menoleh ke arah ponselnya.


Pamela membuka pesan dari Kevin, ia langsung membalas pesan itu.


"Akhir-akhir ini aku sedang sibuk, besok aku akan menemui kalian. Aku sangat merindukan kalian."


Pesan itu langsung terkirim.


Pamela menutup ponselnya dan kembali kekamarnya.


Pamela berjalan, ia melihat suasana mansion terasa sangat sepi.


'Rumah sebesar ini terasa horo,' batin Pamela.


Pamela masuk ke dalam kamar, ia tidak melihat Luis.


"Kenapa Luis, apa dia sedang bekerja?" gumamnya.


"Bukan urusanku, mending aku tidur," ucapnya, langsung masuk ke dalam kamar.


Pamela kembali terlelap di dalam tidurnya, ia tidak menyadari jika Luis berada di dalam kamar sedari tadi. Ia sedang fokus dengan laptopnya.


Merasa matanya mulai mengantuk, Luis pun membuka bajunya dan tidur tanpa menggunakan pakaian. Kebiasaan itu memang sudah dilakukan Luis dari kecil, membuatnya sudah terbiasa.


Tak lupa, Luis mematikan lampu kamarnya dan ia langsung tertidur dengan lelap.


"Siapa kamu!"


"Astaga, kenapa aku bisa berada di sini?"

__ADS_1


"Alasan saja!"


Bersambung...


__ADS_2