Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Ingatan Citra


__ADS_3

"Tunggu!" seru Pamela, membuat langkah Luis terhenti.


Luis langsung menoleh ke arah Pamela yang masih berdiri.


"Ada apa?" tanya Luis.


"Apa kau sudah mendengar berita tentangku, ijin praktekku di cabut, aku tidak bisa menemui Pimpinan Hanji sebagai seorang Dokter," jawab Pamela.


Luis menatap Pamela.


"Kalo gitu, temui dia sebagai dirimu sendiri," ucap Luis, membuat Pamela semakin bingung.


"Apa maksudmu?" tanya Pamela, tidak di jawab oleh Luis, ia langsung berjalan terus meninggalkan Pamela seornag diri.


"Tidak sopan sekali dia meninggalkan begitu saja, tanpa menjawab pertanyaanku, dasar pria aneh," gerutu Pamela.


Luis sudah menjauh dari hadapan Pamela, ia terus berjalan melewati Kevin yang masih duduk di depan gedung Ziny Music.


"Loh, kenapa hanya sebentar?" tanya Kevin, tidak membuat Luis menoleh atau menghentikan langhkahnya.


Luis jalan begitu saja dan masuk ke dalam mobil bersama asistennya Jemi.


Kevin langsung masuk ke dalam untuk menanyakan kepada Pamela, apa yang sebenarnya terjadi.


Kevin melihat Pamela yang masih berdiri di ruangannya, membuat Kevin langsung menghampirinya.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Kevin dengan begitu panik.


"Kenapa wajahmu begitu? Tidak ada yang perlu di khawatirkan, dia hanya memintaku untuk menemui Pimpinan Hanji sebagai seorang Dokter, lalu ku katakan jika ijin praktekku di cabut," jawab Pamela.


"Lalu dia jawab apa?" tany Kevin.


"Jika begitu, datanglah sebagai dirimu sendiri," jawab Pamela.


"Memangnya siapa Pimpinan Hanji itu? Aku sangat penasaran?" tanya Pamela.


"Aku juga tidak tahu, kita cari tahu dulu. Siapa dia?" jawab Kevin bangkit dari dudukny langsung menuju meja kerjanya.


Kevin langsung mencari tahu semua tentang Pimpinan Hanji, saat nama itu di klik. Kevun sangat terkejut, ia melebarkan matanya dan menutup mulutnya.


Pamela pun terlihat sangat penasaran dengan ekspresi Kevin, membuatnya langsung mendekatinya.


"Ada apa? Apa dia penjahat?" tanya Pamela ikut menatap layar komputer.


Pamela melebarkan matanya, merek saling memandang satu sama lain dengan ekspresi yang sangat menggemaskan.


"Dia seorang mafia klas kakap, ini sangat menakutkan," ucap Kevin.

__ADS_1


"Tapi kalo dipikir-pikir tidak ada hubungannya denganku, aku hanya di suruh menemuinya sebagai seorang Dokter, tapi ... karena ijin praktekku di cabut, itu artinya aku menemuinya sebagai Dokter ilegal, hem ... ini terdengar seperti lelucon," jelas Pamela.


"Aku pun bingung," ucap Kevin.


"Kamu bingung kenapa?" tanya Pamela.


Kevin menoleh ke arah Pamela dan langsung tersenyum pepsodent.


"Ya bingung aja, harus berkata apa," jawab Kevin.


"Aku pulang dulu ya," ucap Pemela.


"Kenapa pulang?" tanya Kevin.


"Adikku sakit, dan aku harus merawatnya," jawab Pamela.


"Baiklah, kau harus berhati-hati," ucap Kevin.


Pamela pergi meninggalkan gedung Ziny Music, ia mengendari mobil mewah miliknya, di ujung jalan Dokter Anton memperhatikan mobil yang di bawa oleh Pamela, ia langsung memotretnya.


"Siapa dia sebenarnya?" gumam Dokter Anton.


Pamela melaju dengan kecepatan sedang, ia merasa perutnya panas karena memakan ramen dengan cabai yang begitu banyak, membuat perutnya sakit.


Pamela berhenti di toko swalayan, ia memberi minuman berisotonik untuk menetralkan perutnya yang panas, akibat makanan yang pedas.


Pamela langsung meminum air isotonik itu, saat tegukan pertama ia melihat melihat teman lamanya Doker Adil.


Mereka mengobrol di salah satu cafe dekay swalayan itu, merasa saling menatap satu sama lain.


"Bukan aku yang menyebabkan saudaramu meninggal," ucap Pamela.


"Apa kau yakin tidak mengoprasi pamanku, tapi daftar nama operasi itu ada namamu, kau sebagai Dokter yang memaksa pasien VIP melakukan operasi cito (operasi dadakan), apa bukan kau?" tanya Dokter Adil.


Pamela menghembuskan napasnya dengan kasar, ia mencari tenaga untuk menjelaskan kepada Adil.


"Sebelumnya aku turut berduka cita atas mrninggalkan pasien VIP yang bernama Zamudin, pada hari kedua operasi almarhum, aku sedabg berjaga di ruabg UGD, aku mendapati pasien yang saat itu sangat kritis, tetapi nyatanya tidak tertolong, aku pun bingung kenapa waktu pagi hari, berita sudah bermunculan, jika aku telah melakulan malpraktek, hal ini membuatku sangat bingung," jelas Pamela.


"Aku menjalani sidang dengan organisasi karena kelalaianku, tapi aku merasa tidak melakukan itu, mereka semua mencecarku habis-habisan, tidak ada yang membelaku, hal ini membuatku akhirnya mendapakan surat peringatan tapi anehnya lagi surat ijin praktek ku di cabut begitu saja," sambungnya.


Dokter Adil mendengarkan semua cerita Pamela yang terlihat sangat jujur dan tidak mengada-ada, tetapi cerita itu sangat berbeda dengan apa yang di jelaskan oleh Dokter Arif, hal ini membuat Dokter Adil sempat bingung.


"keputusan ada di tanganmu, jika memang kaluargamu akan menuntut, silahkan. Tapi jangan hanya tuntut aku, tapi tuntut juga semua dokter yang terlibat di dalam ruang operasi, tuntut rumah sakitnya juga, karena tidak bisa menjaga kenyamanan pasien dan keluaega pasien," jelas Pamela.


"Kau memang benar, aku tidak tahu harus berpihak kepada siapa? Mendengar ucapanmu sangat berbeda dengan ucapan yang di berikan kepada Dokter Arif, tapi keluarga kami tidak menuntut, entah apa yang membuat bibiku begitu ikhlas," sahut Adil.


"Entahlah, aku bingung dengan keadaa di sana," ucap Pamela.

__ADS_1


"Lalu, sekarang kau bekerja di mana?" tanya Adil.


"Aku bekerja di Ziny Music, sebagai seorang DJ," jawab Pamela.


Adil sangat terkejut, tatapannya membuat Pamela pun bingung.


"Ada apa?" tanya Pamela.


"Kau memang sangat keren, jadi sekarang profesimu Dokter atau Disk Jokey?" jawab Adil.


"Menurutmu kau mau aku yang seperti apa?" tanya Pamela.


"Jika kau bisa dua-duannya, kenapa harus memilih," jawab Adil.


Pamela tersenyum manis.


Selesai berbincang dan menjelaskan smeua kegundahan di hati tentang kematian pasien VIP, Pamela pamit pergi, dan meninggalkan Adil.


Pamela melajukan mobil mewahnya menjauh daei Adil, ia berjalan menuju rumah sakit tempat Citra di rawat.


Sampai di rumah sakit, Pamela langsung berjalan menuju kamar Citra.


Pintu terbuka, membuag Sherlin langsung menoleh.


"Dari mana kau?" tanya Sherlin.


"Aku dari luar bertemu temanku, bagaimana kondisi Citra, apa dia sudah bisa mengingat semuanya?" jawab Pamela.


Sherlin menatap Pamela dengan tatapan yang sendu.


Terlihat wajah Pamela yang tak terawat, kurus dan terlihat pucat, menbuat Sherlin langsung memeluknya.


Sherlin menangis, membuat Pamela bingung.


"Ada apa?" tanya Pamela, bangkit dari duduknya tapi di cegah oleh Sherlin.


"Adikmu baik-baik saja, dia baru saja bercerita dengan mama, yang bisa dia ingat hanya namamu, semua tentangmu, dia ceritakan," jawab Sherlin.


"Pamela, maafkan mama ya," ucap Sherlin.


"Maaf untuk apa?" tanya Pamela dengan wajah yang bingung.


"Berapa tahun kamu meninggal rumah, dan mama tidak sedetikmu menengokmu atau mencari keberadaanmu, mama terlalu ego mengurusi bisnis mama, lihatlah kau terlihat sangat kurus dan wajahmu tampak pucat, kau terlihat begitu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri, mama terlalu jahat, maafin mama," jawab Sherlin membuat Pamela hanya berdiam diri.


"Sudahlah jangan di bahas, sekarang aku di sini akan terus menjaga Citra, dia adikku satu-satunya yang sangat aku sayangi," ucap Pamela.


Malam itu terasa sangat sunyi, keheningannya mampu mengundang tangis yang begitu dalam, Sherlin menatap Pamela dengan derai air matanya, ia sangat menyesali perbuatannya.

__ADS_1


"Saya Pamela Pak.


BERSAMBUNG...


__ADS_2