Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Hari menyenangkan


__ADS_3

Terlalu larut ia tidur, akhirnya Pamela kesiangan. Ia tak menyadari jika hari ini, hari pertamanya bekerja di Rumah Sakit Radom Medika.


Nek Marlin yang baru pulang dari joging, melihat Pamela tidur di sofa, langsung menghampirinya.


"Hei bangun, sedaei tadi ponselmu terus berdering," ucap Nek Marlin.


Berkali-kali Nek Marlin membangunkan Pamela, membuatnya langsung memukul kaki Pamela.


Seketika, Pamela langsung terbangun. Ia terduduk dengan tatapan kosong.


"Kau ini susah sekali, dibangunkan! Apa kau tidak bekerja hari ini," kesal Nek Marlin.


Pamela langsung teringat, jika hari ini dia bekerja di rumah sakit. Dengan cepat Pamela langsung masuk ke kamar mandi.


"Itulah, kalo tidur latut malam," oceh Nek Marlin.


Pamela sangat terburu-buru, ia langsung memakai baju dan menguncit rambutnya.


"Nek aku berangkat!" teriak Pamela, sambil berlari.


"Hati-hati! Jangan lupa sarapan!" sahut Nek Marlin.


Kety yang melihat Pamela sangat terburu-buru, membuatnya langsung mendekati Nek Marlin.


"Kak Pamela mau kemana Nek?" tanya Kety.


"Aku rasa dia ada pekerjaan yang mendadak, maka dari itu dia terburu-buru," jawab Nek Marlin.


"Oh begitu," ucap Kety.


Pamela langsung melajukan mobilnya dengan cepat, agar segera sampai dirumah sakit.


Setelah sampai di rumah sakit, ia langsung berlari keruang UGD dengan napas yang tersengal-sengal, ia melihat Dokter Boy, sedang berbincang dengan salah satu keluarga pasien.


Matanya menatap Pamela yang baru sampai, Pamela terdiam menunggu Doktee Boy.


"Ada apa?" tanya Doktee Boy.


"Maaf Dok, saya telat," jawab Pamela.


"Dokter baru ya," sahut Dokter Feni.


Pamela hanya menundukan kepalanya, ia ditatap oleh Dokter Boy.


"Kenapa diam! Cepat ganti bajumu, akan ada pasien datang dalam waktu 10 menit," ucap Dokter Boy.


"Pasien?" ucap Perawat Weni.


"Aku barusam mendapat informasi dari paramedis, jadi cepatlah siapkan semua perlengkapannya!," perintah Dokter Boy.


Pamela langsung berlari menuju ruang ganti, ia langsung menganti bajunya dengan baju Ok dan menggunakan jubah dokter.


Saat Pamela akan keluar dari ruang ganti, ia melihat Dokter Morgan berada di ruang staf.


"Astaga! Sejak kapan kau di sini?" tanya Pamela.


"Sejak kau ganti pakaian," jawab Dokter Morgan.


"Dasar kau mesum!" seru Pamela.

__ADS_1


Pamela langsung keluar dengan perasaan kesal, ia berjalan menuju ruang UGD. Pamela menarik napasnya untuk memperkenalkan dirinya, saat berada di ruang


"Hai semuanya, saya Dokter Pamela. Senang bertemu dengan kalian," sapa Pamela.


"Semoga kau betah ya Dok," ucap Perawat Weni.


Pamela di sambut hangat oleh mereka tim UGD, tak lama pasien darurat pun datang.


"Pasien datang!"


Semua orang menoleh ke arah pintu masuk UGD, melihat paramedis membawa pasien dengan berbagai macam luka, dengan sigap dan cepat Pamela langsung menangani pasien yang berdatangan, dengan dibantu oleh beberapa perawat yang ikut bertugas.


Kecepatan Pamela dalam menangani pasien, membuat Dokter Boy tersenyum.


"Pasien A, bawa ke ruang operasi, Dokter Feni siapkan ruangan operasi. Hubungi Dokter Morgan," perintah Dokter Boy.


"Baik Dok," ucap Dokter Feni.


"Pasien B, kondisinya sangat keritis, limpahnya robet, bawa langsung keruang operasi dua. Hubungi Dokter Reza," perintah Dokter Boy.


"Baik Dok," sahut Pamela.


Mereka membawa masing-masing, pasiennya masuk ke dalam ruang operasi. Pertama kalinya Pamela masuk ke dalam ruang operasi. I terlihat cukup gugup karena harus menangani pasien dengan robekan limpah.


"Kau terlihat gugup," ucap Dokter Reza.


"Ini pertama kalinya aku masuk ke ruang operasi Dok," jawab Pamela.


"Baiklah, akan aku bimbing," ucap Dokter Reza.


Pamela merasa sangat senang, saat team operasinya mau mengajarkan semuanya.


"Kau terlihat sangat bersemangat," ucap Dokter Morgan.


"Kau ini kepo sekali. Dasar pria mesum," kata Pamela.


Dokter Feni yang melihat Pamela berkata kasar kepala Dokter Morgan, membuatnya langsung menghampirinya.


"Ada apa?" tanya Dokter Feni.


"Aku rasa dia memang anak yang kurang ajar," sambungnya.


Dokter Morgan menoleh ke aeah Feni.


"Sudah jangan di perpanjang, ini juga memang salahku," ucap Dokter Morgan, langsung masuk ke dalam ruang operasi satu.


"Astaga, kenapa dia malah membela wanita itu," gerutu Dokter Feni.


Mereka sedang melakukan operasi secara bersamaan, ruang operasi yang ada di Rumah Sakit Radom Medika berhadapan. Jadi bisa saling menatap satu sama lain.


Pamela yang terlihat sangat fokus, ia menjadi asisten Doktee Reza. Mendapat banyak ilmu dengan cepat, ia mampu menguasai semua langkah yang dilakukan Dokter Reza.


Ruang Operasi dua pun telah mematikan lampunya, itu artinya operasu sudah selesai.


"Terima kasih, kalian hebat," ucap Pamela dengan sangat senang.


"Kerja yang bagus," ucap Doktee Reza.


"Terima kasih."

__ADS_1


"Terima kasih."


Pamela melepaskan maskernya dan membuangnya dikotak sampah, ia tak sengaja melihat ruang operasi satu yang terlihat sangat menegangkan, ada perawat yang akan masuk dengan membawa kantung darah.


Pamela yang melihat perawat itu sangat terburu-buru, membuatnya tak kuasa untuk menanyakan.


"Aku rasa, kondisi pasien sangat darurat," ucap Pamela.


Pamela keluar dari ruang operasi, ia memeriksa rekam medik setiap pasien yang sedang di rawat.


Melihat ada pasien yang sangat susah di bujuk oleh Dokter Dani, membuat Pamela pensaran dan langsung mendekat.


"Ada apa?" tanya pamela.


Dokter Dani pun menoleh ke arah Pamela.


"Dia sangat susah diatur, aku menyuruhnya untuk tidur telentang, dia malah ingin duduk. Aku kesulitan untuk menjait lukanya," keluh Dokter Dani.


"Sini, biar aku yang menanganinya," ucap Pamela.


"Hay ... keliatannya lukamh cukup dalam, apa aku boleh menutupnya kembali? Jika tidak ditutup, aku sangat yakin lukamu tidak akan sembuh dan akan semakin memburuk. Kakimu akan terlihat sangat jelek," ucap Pamela.


"Apa benar begitu?" tanya Pasien.


"Tentu, coba saja liat sendiri. Luka itu cukup dalam," ucap Pamela.


"Baiklah, aku bersedia di jait olehmu, tapi ... berjanjilah denganku, luka ini akan segera sembuh," ucap Pasien.


"Aku berjanji," ucap Pamela mengulurkan jari kelingkingnya.


Akhirnya, pasien Dokter Dani, mau di jait oleh Pamela. Dokter Dani merasa sangat lega.


"Ku serahkan padamu, ya Dok," ucap Doktee Dani.


Pamela langsung menjahit luka pasien itu dengan cepat dan sangat rapih, membuat pasien itu tidak merasa kesakitan.


Selesai menjahit pasien Dokter Dani, Pamela di panggil oleh Dokter boy.


"Ada apa Dok?" tanya Dokter Pamela.


"Ikut, ke ruanganku," jawab Dokter Boy.


Pamela merasa gugup, saat Doktee Boy menyuruhnya ke ruangannya.


Saat di dalam ruangan, ia melihat tumpukan jurnal di meja Dokter Boy.


'Wah, semua jurnal itu akan di baca oleh Dokter Boy?' gumam Pamela dalam hati.


"Kau harus pelajari jurnal ini sebelum melakukan operasi Pimpinan Hanji," ucap Dokter Boy.


"Apa Dokter, tidak maeah denganku?" tanya Pamela.


"Marah? Memangnya aku harus memarahimu perihal apa," jawab Dokter Boy.


"Saya telat berangkat kerja Dok," ucap Pamela.


Dokter Boy, tersenyum.


"Jika kau ingin aku hukum, baiklah. Akan dengan senang hati."

__ADS_1


'Apa-apaan ini, menyesal aku mengatakan semua itu.'


BERSAMBUNG....


__ADS_2