Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Keterkejutan Orang tua Pamela


__ADS_3

Mereka akhirnya keluar dari butik, Pamela berjalan mendahului Luis.


"Kau mau kemana?" tanya Luis.


"Bukan urusanmu," jawab Pamela.


Pamela terus berjalan sampai keluar dari area parkiran, Luis yang melihat Pamela terus berjalan, membuatnya akhirnya memegang tangan Pamela.


"Berhenti, kita harus kerumah orang tuamu," ucap Luis.


"Ya sudah ayo kesana, tapi aku tidak mau naik mobilmu," ucap Pamela.


Luis menghembuskan napasnya, ia melihat wajah Pamela yang kesal dengannya.


"Sudahlah jangan seperti anak kecil, ayo masuk kedalam," perintah Luis.


"Masuk kemana?" tanya Pamela.


"Ke dalam mobil, mau kemana lagi memangnya?" jawab Luis.


"Bukankah kau tadi menurunkan ku dipikir jalan, sekarang kau mau aku naik mobilmu, aku tidak mau," kesal Pamela.


"Karena aku tadi sangat kesal, sudah lah jangan marah lagi," ucap Luis.


Pamela merasa lelah dan lapar, ia pun menunggu taksi onlinenya tidak kunjung datang, dan akhirnya Pamela naik mobil Luis.


Luis langsung melajukan mobil, di dalam perjalanan. Pamela terdiam sambil memainkan ponselnya.


Merasa mobilnya hening seperti kuburan, Luis akhirnya menyalakan musik.


"Asekebenaya ... Asekebenaya, sony-sony heho."


Suara musik itu diputar berulang kali, membuat Pamela langsung mendengarkan musik itu. Seketika Pamela tertawa ngakak.


"Ada apa tertawa?" tanya Luis.


"Itu lagu siapa, kenapa sangat lucu," jawab Pamela.


Luis tersenyum tipis.


Mobil Luis masuk ke dalam rumah orang tua Pamela.


Pamela dan Luis keluar dari mobil, ia berjalan masuk ke dalam rumah.


Suara bel rumah berbunyi.


Citra membuka pintu, ia terkejut melihat Pamela bersama Luis.


"Kakak!" panggil Citra.


"Ayah sama ibu ada?" tanya Pamela.


"Ada, mereka mau makan malam," jawab Citra.

__ADS_1


Citra melihat Luis, salah tingkah sendiri. Ia melihat Luis adalah sosok pria idamannya.


Mereka masuk ke dalam, berjalan menuju ruang makan.


"Pamela!" panggil Sherlin.


"Kamu bawa siapa Nak?" tanya Sherlin.


"Perkenalkan tante, saya Luis Prawira cucu dari Hanji Prawira," ucap Luis.


Bramasta, menatap Luis dengan sangat terkejut. Nama Luis sangat terkenal sebagai mafia dan rajanya didunia bisnis.


"Apa aku tidak salah dengar? Apa benar kau Luis?" tanya Bramasta.


Luis menganggukan kepalanya, Bramasta dan Sherlin pun sangat terkejut, ternyata orang dihadapannya adalah orang yang sangat berpengaruh di dunia bisnis.


Sherlin dan Bramasta saling menatap satu sama lain, mereja langsung menyambut hangat Luis.


"Mari duduk dan makan malam bersama kami," ajak Bramasta.


Pamela langsung duduk di samping Luis.


Mereka berbincang kecil, terutama Bramasta meyakinkan jika di hadapannya adalah Luis sungguhan cucu dari Pimpinan Hanji.


"Kalo boleh Ibu tau? Ada tujuan apa Nak Luis datang kemari?" tanya Sherlin.


"Saya kemari ingin meminang putri Ibu yang bernama Pamela, kami sudah berpacaran dan memutuskan untuk menikah," jawab Luis.


'Sialan, pintar sekali dia berbohong ya,' gumamnya.


"Apa!"


Suara kompak itu, membuat Luis kebingungan.


Citra pun yang kecentilan dengan Luis pun merasa kaget dengan penuturan dari Luis.


'Ternyata dia pacar dari Kakaku, astaga ... mereka memang cocok, pupuslah sudah harapanku,' gumam Citra.


"Apa ibu tidak salah dengar?" tanya Sherlin.


"Kenapa Pamela tidak menceritakan kepada kami tentangmu Nak?" tanya Bramasta.


"Sebelumnya hubungan kami, sengaja dirahasiakan Pak, agar karir dan status sosial kami tidak diganggu oleh para netizen," jawab Luis.


"Baiklah, kapan rencana kalian akan menikah?" tanya Bramasta.


"Rencana minggu depan Pak," jawab Luis.


Lagi-lagi jawaban Luis membuat mereka semua yang sedang menikmati makanan langsung terdiam karena syok.


"Apa saya tidak salah dengarkan?" tanya Bramasta.


Luis tersenyum manis.

__ADS_1


"Kami memutuskan untuk menikah dalam waktu cepat, karena bulan depan saya harus pergi ke London untuk urusan bisnis," jawab Luis.


"Tapi ... kalian tidak tekdung kan?" tanya Sherlin.


"Ibu! Mana mungkin!" sahut Pamela.


"Kami pun jarang bertemu, mana mungkin aku berbuat seperti itu bersamanya," sambungnya.


"Rencana besok malam Kakek saya akan datang menemui Pak Bramasta di hotel berbintang lima untuk membahas pernikahan dan sekaligus melamar Pamela," jelas Luis.


"Baiklah, lebih cepat lebih bagus," ucap Bramasta.


Makan malampun selesai, Pamela mengantar Luis keluar menuju mobilnya.


"Pintar sekali kau ya, berbohong dengan orang tuaku," ucap Pamela.


Luis tersenyum.


"Karena tidak logika, jika aku tiba-tiba mengatakan aku akan menikahimu tanpa berpacaran," jelas Luis.


"Alasan saja," ucap Pamela.


"Sudah sana pulang, hati-hati dijalan," ucap Pamela.


"Kau kenapa tiba-tiba perhatian denganku?" tanya Luis.


"Jangan kegeeran," kata Pamela.


Luis pun masuk ke dalam mobil dan melajukan mobiknya dengan kecepatan sedang.


Pamela masuk kedalam rumah orang tuanya, di dalam, Sherlin dan Bramasta sudah duduk diruang keluarga untuk menunggu penjelasan dari Pamela.


"Bagaimana bisa kau akan menikah dengan Luis?" tanya Bramasta.


"Dimana kau bertemu dengannya dan bisa memikat hatinya?" tanya Sherlin.


Pamela menatap orang tuanya yang sangat menggebu-gebu menunggu jawaban darinya.


"Ceritanya panjang," jawab Pamela.


"Pimpinan Hanji itu adalah pasien VIPku saat aku bekerja dirumah sakit Radom Medika, dari situlah awal kami bertemu," jelas Pamela.


"Tidak sia-sia kamu menjadi seorang Dokter," ucap Sherlin.


"Sudah ya, aku capek mau istirahat," ucap Pamela.


Pamela berjalan menuju kamarnya, ia meninggalkan Bramasta dan Sherlin.


"Sayang, apa aku bermimpi? Kita akan memiliki menantu seorang Luis?" tanyanya.


"Entahlah, aku tidak bisa membayangkan jika itu benar terjadi."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2