Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Pasien VIP


__ADS_3

Mereka semua terlihat sangat penasaran dengan gosip yang akan diucapkan oleh Dokter Dani. Mereka semua menunggu satu kata yang keluar dari mulut Dokter Dani.


Suasana terlihat sangat menegangkan, seolah berita yang akan di bicarakan oleh Dokter Dani, sangatlah serius, sehingga membuat Perawat Rere terlihat sangat menggebu-gebu.


"Ayolah Dok, jangan buat kami penasaran?" tanya Perawat Rere.


"Jadi begini ...," jawab Dokter Dani.


Mata mereka menatap Dokter Dani.


"Kau tau cucu Pimpinan Hanji? Dia telah mengencani seorang DJ yang manggung di club miliknya," jelas Dokter Dani.


Mereka yang mengerubungi Dokter Dani, seketika langsung menyebar, menjauh dari hadapan Dokter Dani. Pamela yang merasa dirinya menjadi tersangka atas gosip yang akan dimulai itu, langsung menyingkir dan merasa gugup dan canggung.


"Dari mana kau tahu?" tanya Perawat Rere.


"Aku pikir gosip apaan," ucap Pamela.


"Ku rasa tidak ada hubungannya dengan kita," sahut Dokter Mogan, sambil makan makanan yang ia pesan.


"Tunggu dulu, berita ini sudah mulai bocor. Ada salah satu orang yang telah menyebarkan berita ini, jika berita ini benar. Aku merasa sangat beruntung wanita itu telah menaklukan hati sangat mafia," jelas Dokter Dani.


"Sudah biarkan saja mereka mau berbuat apapun itu, bukan urusan kita," ucap Pamela langsung pergi meninggalkan kantin.


Kepergian Pamela di ikuti Dokter Morgan yang sudah selesai makan.


"Yaelah, kalian kenapa tidak mempercayaiku," ucap Dokter Dani.


"Bener sih kata Dokter Pamela, siapa itu cucung pemilik rumah sakit ini, karena kita tidak kenal jadi bukan urusan kita, ayolah Dok. Cari gosip yang masih hangat saat ini," sahut Perawat Rere.


"Itu masih hangat, coba kau liat di twiter," ucap Dokter Dani, menunjukan ponselnya.


Perawat Rere, menatap berita yang ditunjukan Dokter Dani.


"Astaga, wanita itu sangat cantik. Tapi ... wajahnya tidak terlihat," ucap Perawat Rere.


"Sepertinya Dokter Pamela harus tau," sambungnya.


"Memangnya, apa hubungannya dengan Dokter Pamela?" tanya Dokter Dani.


Perawat Rere pun bingung, langsung menatap Dokter Dani.


"Aku pun tidaj tahu Dok, aku hanya ingin memberitahunya saja," jawab Perawat Rere.


"Ya sudan terserah kau saja," ucap Dokter Dani.


Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan kantin. Dari kejauhan ada yang mengawasi mereka semua.


"Apa yang mereka bicarakan, kenapa Dokter Pamela terlihat marah," gumum Dokter Feni.


Dokter Fani pun pergi, meninggalkan tempat persembunyiaanya. Ia langsung kembali ke ruang UGD.


"Dokter Feni, kau dari mana saja, tadi Dokter Boy, mencarimu," ucap Perawat Weni.

__ADS_1


"Ada apa Dokter Boy mencariku?" tanya.


"Entahlah Dok, tapi sepertinya tidak terlalu mendesak. Oh ... itu Dokter Boy," jawab Perawat Weni, membuat Dokter menoleh ke arah yang di tunjuk Perawat Rere.


"Kau di sini rupanya," ucap Dokter Boy.


"Ada apa Dok?" tanya.


"Apa kau yang merawat pasien yang berada di ruang hibrida?" tanya Dokter Boy.


Dokter Feni menganggukan kepalanya dengan wajah yang bingung.


"Apa terjadi sesuatu dengan pasien itu Dok," jawab Dokter Feni dengan begitu panik.


Saat Dokter Feni akan menghampiri ruang hibrida, niatnya langsung di cegah oleh Dokter Boy dengan senyuman.


"Jangan tergesa-gesa, semua pasien yang kau rawat baik-baik saja," ucap Dokter Boy.


"Tapi aku harus melihat kondisi mereka Dok," ucap Dokter Feni.


Dokter Feni, berjalan ke ruang hibrida. Ia melihat pasien yang di rawatnya sudah dadarkan diri dan mereka sedang bersama keluarganya. Saat Dokter Feni akan menghampiri mereka, tiba-tiba suara Dokter Boy membuatnya menghentikan langkahnya.


"Kau hebat, mampu mengendalikan amarahmu saat merawat pasien yang kritis," ucap Dokter Boy.


Dokter Feni merasa senang, saat Dokter Boy mengatakan hebat di telinganya langsung, membuatnya langsung menoleh sambil tersenyum.


"Semua ini berkat Dokter Boy," sahut Dokter Feni.


"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya memberitahumu jika harus profesional saat bekerja, nikmati alurnya kau akan menemukan titip emosi yang bisa kau kendalikan, itu saja," jelas Dokter Boy.


Salah satu pasien melihat Dokter Feni yang sedang berdiri, di dekat meja perawat.


"Apa kau bernama Dokter Feni?" tanya salah satu keluarga pasien.


Dokter Feni, menganggukan kepalanya. Ia sangat terkejut karena keluarga pasien itu meraih tangannya.


"Terima kasih Dok, kau menyelamatkan ayahku, sekali lagi terima kasih," ucap keluarga pasien.


"Jangan berlebihan, itu memang sudah menjadi tugas ku," ucap Dokter Feni.


"Baiklah, jika Dokter kurang nyaman. Tapi sekali lagi saya sangat berterima kasih," ucap keluarga pasien.


Dokter Feni pun tersenyum dan menyentuk bahu keluarga pasien.


"Terima kasih juga, telah mempercayakanku untuk merawat ayahmu," ucap Dokter Feni.


Keluarga pasien itu terlihat sangat berterima kasih karena Dokter Feni menyelamatkan nyawa ayahnya.


Di ruang UGD.


Tiba-tiba Pimpinan Hanji datang bersama cucungnya. Membuat Pamela yang sedang berdiri memeriksa rekam medis pasien. Tidak menyadari jika Pimpinan Hanji sedang berada tepat di hadapannya.


Pimpinan Hanji menyuruh Luis untuk berhenti mendorong kursi rodanya, ia menatap Pamela yang sangat serius dengan layar leptop yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Saat Pamela menanyakan pasien yang ada di ranjang nomor 09, ia sangat kaget melihat Pimpinan Hanji beserta jajarannya berada di ruang UGD.


"Astaga, ada Pimpinan Hanji," gumam Pamela.


Pamela langsung keluar dari meja perawat, langsung menghampiri Pimpinan Hanji dan menundukan kepalanya.


"Selamat datang Pak, maaf saya tidak menyadari jika Pimpinan sudah datang," ucap Pamela menunduka kepalanya.


Pimpinan Hanji tersenyum manis, melihat keluguan Pamela.


"Sudan jangan lakukan itu, aku datang kemari sebagai pasien," ucap Pimpinan Hanji.


"Tetap saja, Pimpinan Hanji membuatku gugup," ucap Pamela.


Tak lama Dokter Boy pun masuk ke dalam ruanga UGD, ia melihat Pimpinan Hanji sedang berbicara dengan Dokter Pamela, membuatnya langsung mendekat.


"Selamat datang Pak, bagaimama kabar anda," sapa Dokter Boy.


Dokter Feni melihat Pimpinan Hanji datang pun langsung menundukan kepalanya, memberi hormat kepada Pimilik rumah sakit.


Semua staf yang berada di ruang UGD menyambut Pimpinan Hanji dengan hangat, mereka semua memberi hormat atas kedatangan Pimpinan Hanji.


"Kabar ku saat ini sedang tidak baik, aku bosan berada di rumah," kata Pimpinan Hanji.


Pamela yang merasa, pernah meminta tolong dengan Pimpinan mengenai mafia yang menjadi tersangka perdagangan anak. Membuat Pamela langsung mendekati Pimpinan Hanji.


"Maafkan saya Pak, mungkin karena saya pernah merepotkan Pimpinan," sahut Pamela.


"Apa maksudmu?" tanya Pimpinan Hanji.


Pamela masih terdiam, tak lama Pimpinan Hanji memahami apa yang dikatakan Pamela.


"Bukan itu, semuanya sudah diatur oleh cucu kedayanganku, kau harus berterima kasih dengannya," jawab Pimpinan Hanji dengan santai.


Pamela yang masih menundukan kepalanya, seketika ia menatap ke arah Luis, dengan tatapan yang tak percaya.


"Apa!" seru Pamela secara sepontan membuat semua orang yang ada di hadapannya menatap dengan tatapan yang kaget.


Dokter Boy yang merasa, suasana ruang UGD mulai menegangkan, membuatnya langsung menyuruh Pimpinan Hanji untuk segera ke kamarnya.


"Hari sudah mulai malam, waktunya Pimpinan Hanji harus beristirahat, besok kita akan melakukan serangkaian pemeriksaan, sebelum dilakuka operasi," jelas Dokter Boy.


Dokter Boy memberi jalan untuk Pimpinan Hanji masuk ke dalam ruang VIP yang sudah di siapkan.


Pamela baru menyadari, saat tangannya di sentuh oleh Perawat Weni.


"Apa kau baik-baik saja," tanya Perawat Weni.


"Memangnya aku kenapa, aku baik," jawab Pamela dengan wajah yang bingung.


"Jantungku hampir copot, saat kau mengatakan hal seperti itu. Untunglah Pimpinan tidak marah," jelas Perawat Weni.


Pamela yang merasa bingung pun akhirnya, memilih untuk melanjukan aktivitasnya memeriksa rekam medis pasien.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2