
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Pamela.
Kevin langsung menatap Pamela.
"Jangan gegabah, kau fokus pada operasi Pimpinan Hanji terlebih dahulu, kita masih pinya waktu satu minggu untuk menyusun rencana," jawab Kevin.
"Baiklah, aku saat ini harus fokus pada Pimpinan," ucap Pamela.
Pamela langsung teringat untuk membuatkan identitas tentang nama Peimel, nama panggungnya.
"Oiya, bisa kau buat identitas nama atas nama Peimel ana?" tanya Pamela.
"Untuk apa nama itu," jawab Kevin.
"Aku sedang mengerjai seseorang, nanti akan aku ceritakan setelah operasi Pimpinan selesai," pinta Pamela.
"Penuh misteri, kenapa harus menunggu operasi Pimpinan, kenapa tidak sekarang saja. Apa bedanya," gerutu Kevin.
"Kenapa memangnya, kamu gak mau membantuku?" tanya Pamela dengan nada yang kesal.
"Bukan begitu, aku hanya penasaran saja," jawab Kevin.
Pamela langsung pergi meninggalkannya.
"Dia yang marah, harusnya itu aku," gerutu Kevin.
.
.
.
Di dalam kantor, Luis masih memikirkan Peimel yang menurutnya sama misterius seperti Pamela.
"Apa mereka saling berkaitan? Tapi tidak mungkin, wajahnya sangat femiliar," ucap Luis.
Luis langsung mengusap wajahnya berulang kali, berharap ia mengingat sesuatu tentang Pamela dan Peimel.
Luis tidak menyadari jika sekretarisnya memanggilmya berulang kali, sampai akhirnya sekretaris itu mengetuk meja Luis.
"Kenapa tidak mengetuk pintu dulu?" tanya Luis.
"Maaf Tuan, saya berulang kali mengetuk pintu ruangan Tuan, tapi tidak mendapat tanggapan dari Tuan, akhirnya saya terpaksa masuk kedalam, karena anda harus mendatangi berkas ini, karena akan di adakan rapat jam 3 sore," jawab Sekretaris.
Luis langsung menandatangani berkas yang dibawah sekretarisnya.
__ADS_1
"Nanti biarkan Jemi yang memantau rapat hari ini, saya ada urusan," ucap Luis.
"Baik Tuan," ucap Sekretaris Luis.
Luis langsung menghembuskan napasnya, ia langsung melihat layar leptopnya, dan mencari tahu tentang identitas Peimel.
Ternyata nama itu langsung muncul besarta daftar riwayat hidupnya, Luis langsung menatap layar leptopnya, ia membaca setiap kalimat tentang Peimel.
"Ternyata nama itu memang ada, aku pikir dia adalah Pamela, ternyata beda orang, okay kalo begitu," ucap Luis.
Luis langsung keluar dari ruangannya, menuju ruangan Jemi.
"Pantau rapat hari ini, aku harus pergi menemui Doktee Boy di rumah sakit Radom," perintah Luis.
Luis langsung pergi meninggalkan kantornya, ia langsung belajukan mobiknya menuju rumah sakit milik Kakeknya.
Rumah Sakit Radom Medika.
Luis memasuk area parkirakan, ia langsung keluar dari dalam mobil. Luis berjalan masuk ke dalam di sambut oleh kepala bagian administrasi yang akan mengantarnya menemui Doktee Boy.
"Akan saya antar Tuan muda," ucap Pak Bayu.
Luis berjalan menuju ruangan Doktee Boy, setelah di periksa, ruangan itu kosong. Pak Bayu tidak melihat Dokter Boy di dalam.
"Mungkin Dokter Boy sedang ada pasien, mohon tunggu sebentar di dalam Tuan, saya akan segera menemui Doktee Boy," jawab Pak Bayu.
Luis pun akhirnya menunggu Dokter Boy di dalam, ia melihat-lihat isi ruangan Doktee Boy, yang tatanannya seperti ruangan zaman tahun 90an, ia terlihat menyukai barang-barang antik.
Pak Bayu terlihat panik, mencari setiap ruangan tidak menemukan Dokter Boy, ia langsung masuk ke dalam UGD, akhirnya melihat Dokter Boy sedang berbicara dengan keluarga pasien.
Setelah selesai menjelaskan penyakit yang di derita pasien, membuat Doktee Boy langsung menoleh ke arah Pak Bayu.
"Ada apa?" tanya Dokter Boy.
"Dok, ada Tuan muda, ia sekarang menunggumu di dalam ruangan," jawab Pak Bayu.
"Tuan muda Luis, yang kau maksud? Biarkan saja dia menunggu, aku akan menjahit luka paisen yang ada di ranjang no5," ucap Dokter Boy.
"Bagaimana ini, dia akan menunggumu lebih lama, apa sebaiknya tidak mengalihkan ke dokter yang lainnya, dan Dokter Boy segeran menemui Tuan muda," kata Pak Bayu.
"Pasien lebih utama, kita menemu pasien atau tidaknya, sesuatu dengan kegawatdaruratnya, jadi ... biarkan dia menunggu," jelas Dokter Boy.
Pak Bayu terlihat sangat takut, mendengar keputusan Doktee Boy, ia pun tidak bisa mengelak, karena pasien lah yang diutamakan. kegelisahannya membuat Luis menghampiri ruangan UGD.
"Lanjutkan lah tugasmu, aku akan menunggu," ucap Luis, membuat Dokter Boy dan Pak Bayu langsung menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
Dokter Boy tersenyum, dan ia langsung menjahit luka pasien yang mengalami kecelakaan.
Sementara itu Luis melihat-lihat setiap sudut rumah sakit itu, ia melihat beberapa alat yang sudah lama dan tidak layak untuk di pakai, membuat Pak Bayu langsung menghampirinya dan menjelaskan setiap barang dan ruangan yang kosong.
"Beginilah kondisi rumah sakit kita Tuan, ada banyak sekali ruangan kosong, tetapi untungnya banyak pasien yang selalu berdatangan, membuat rumah sakit ini masih bisa beroprasi," jelas Pak Bayu.
Pak Bayu menemani Luis melihat-lihat rumah sakit milik Kakeknya.
"Kita perlu mengganti semua barang yang sudah rusak, aku akan mendonorkan dana ke rumah sakit ini," ucap Luis.
"Sungguh Tuan? Ini adalah suatu kehormatan untuk kami," kata Pak Bayu.
"Bagaimana dengan gaji kalian? Apa cukup setiap bulannya untuk menggaji semua staf dan karyawan yang ada di rumah sakit ini?" tanya Luis.
"Gaji kamu sedikit lebih rendah dari UMR kota ini, tapi karena kegigihan para staf medis yang memberikan pelayanan terbaiknya, kami mampu untuk bertahan dengan gaji yang tidak banyak," jawab Pak Bayu.
"Kita harus perbaiki rumah sakit ini, aku akan segera bicara kepada Pimpinan," ucap Luis.
"Pimpinan sudah membahasnya denganku Tuan muda, jadi anda tidak perlu khawatir," sahut Dokter Boy.
Luis langsung menoleh ke arah sumber suara. Doktee Boy mendekati Luis.
"Pak Bayu, anda bisa tinggalkan kami berdua, ada sesuatu yang harus ku bahas dengan Tuan muda Luis," pinta Dokter Boy.
"Baiklah Dok," ucap Pak Bayu, ia langsung meninggalkan mereka berdua.
Dokter Boy langsung mengajak Luis ke ruang rapat, ia menunjukan pendapatan rumah sakit dan kekurangan alat-alat medis.
"Anda lihat sendiri Tuan, bagaimana kurva itu naik, dalam kurun waktu 6 bulan ini, semua pasien dengan trauma berdatangan, membuat pemasukan rumah sakit kita semakin meningkat," jelas Dokter Boy.
Luis, memperhatikan kurva yang ada di layar proyektor.
"Aku perlu berbicara dengan Pimpinan, untuk melengkapi semua peralatan yang di butuhkan rumah sakit ini," ucap Dokter Boy.
"Aku akan menjadi investor untuk melengkapi alat medis yang kalian butuhkan, dan membangun ruangan untuk ibu melahirkan dan membuka lowongan pekerjaan untuk Dokter Spesialis kandungan," ucap Luis.
"Saya sempat melewati daerah plosok yang ternyata tidak ada rumah sakit ataupun klinik di sana, maka dari itu saya kemari ingin mengatakan dengan Dokter Boy, sekaligus ingin membahas tentang kondisi Pimpinan Hanji," sambungnya.
Dokter Boy langsung menggeser layar proyektor, ia menunjukan kondisi Pimpinan yang sebenarnya.
"Minggu depan kita akan melakukan operasi untuk mengangkat kanker tulang, yang terletak di bagian panggul," jelas Dokter.
"Baiklah, lakukan yang terbaik untuk Kakekku."
BERSAMBUNG....
__ADS_1