Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
kepadatan Ruang UGD


__ADS_3

Suara sirene ambulan terdengar sangat jelas, itu artinya pasien sudah berada di luar ruang UGD. Dengan cepat, petugas ambulan langsung membawa korban ledakan masuk ke dalam ruang UGD.


"Pasien darurat!"


Teriak petugas ambulan sambil berlari masuk ke dalam ruang UGD yang sudah disambut oleh para dokter dan perawat.


"Pasien bernama Bairam, berusia 27 tahun, keluhan nyeri dada, tekanan darah 130/80 mmHg, denyut 88 kali per menit, pernapasan 25 kali per menit," ucap petugas ambulan.


Pamela langsung menyuruh petugas ambulan untuk meletakkan pasien ke bed nomor 05.


"Siapkan larutan garam, kasa, dan larutan iodin, berikan infus 20 tetes per menit," perintah Pamela.


"Baik, Dokter," ucap Perawat Isni.


Pamela langsung memeriksa dada pasien dengan stetoskop, ia merasakan ritme jantung yang tidak normal, membuatnya langsung memeriksa EKG jantung.


"Setelah pasien menjalani pemeriksaan EKG, segera bawa pasien untuk melakukan rontgen," perintah Pamela.


"Baik, Dokter," ucap Perawat Isni.


Pamela langsung beralih ke pasien berikutnya yang mengalami luka yang sama, hanya saja kondisinya yang berbeda-beda.


Datang lagi pasien baru dengan robekan kaki hingga membuat tulang di kakinya koyak. Dokter Varel yang melihat kondisi pasien ini langsung merasa jijik.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Dokter Zen.


"Pasien tidak sadar, tekanan darah 90/70 mmHg, denyut nadi 89 kali per menit, pernapasannya 20 kali per menit," jawab petugas ambulans.


"Letakkan pasien langsung di ruang hibrida," perintah Dokter Zen.


"Panggil Dokter Orthopedi (tulang) untuk segera ke ruang hibrida, siapkan larutan garam, anti inflamasi, anti nyeri, dan infus Ringer Lactat. Setelah selesai melakukan pertolongan pertama, bawa pasien ke ruang rontgen dan beritahu hasilnya kepada Dokter Okta," perintah Dokter Zen.


Perawat Ken langsung menuju ruang hibrida dan langsung memasang infus dan selang oksigen. Semua yang diperintahkan oleh Dokter Zen telah dilakukan, dan pasien akhirnya dibawa ke ruang rontgen.


Tidak lama kemudian, Dokter Okta atau Dokter Orthopedi datang setelah hasil pemeriksaan lab keluar.


"Bagaimana kondisi pasien?" tanya Dokter Okta.


"Kondisi pasien stabil, Dok. Hanya saja pasien sempat mengalami gagal jantung," jawab Perawat Ken.


Dokter Okta langsung memeriksa hasil lab pasien dan melihat tulang yang sangat hancur sehingga membuatnya harus melakukan operasi.


"Di mana Dokter Zen?" tanya Dokter Okta.

__ADS_1


"Pasien harus segera dioperasi. Kau sudah melihat hasil lab-nya, kau bisa memutuskan, apakah pasien harus melakukan pemasangan pen atau harus diamputasi," jawab Dokter Zen.


Dokter Okta menatap Dokter Zen dengan penuh keyakinan bahwa pasien harus segera dioperasi.


Tatapan Dokter Okta seolah mendapat jawaban yang tepat, maka dari itu, ia memutuskan untuk segera melakukan operasi.


"Siapkan ruang operasi, panggil Dokter Ria, kabari saya jika pasien sudah dipindahkan," perintah Dokter Okta.


Perawat Ken langsung memastikan ruang operasi kosong, dan ternyata pasien VIP akan menjalani operasi di ruang operasi kedua.


Akhirnya, pasien militer menjalani operasi di ruang operasi dua.


"Dokter Arif menggunakan ruang operasi pertama, jadi terpaksa Dok, kita menggunakan ruang operasi kedua," ucap Perawat Ken.


"Operasi pasien VIP? Bukankah jadwalnya dilakukan lusa?" gumam Dokter Zen.


Setelah mendengar Dokter Arif telah maju dengan operasi kedua, Dokter Zen langsung berjalan menuju ruang operasi. Ia melihat operasi sedang berlangsung.


Hal ini membuat Dokter Zen merasa ada yang tidak beres. Ia langsung meninggalkan ruang operasi dan berjalan menuju ruang VIP.


"Di mana rekam medik pasien Zamudin?" tanya Dokter Zen.


Perawat Kai, yang berjaga di ruang VIP, langsung memberikan rekam medik pasien Zamudin.


Dokter Zen melihat Dokter Pamela sedang sibuk merawat pasien yang terus berdatangan, membuatnya tidak menyadari bahwa ada Dokter Zen yang membantunya.


Semua pasien sudah ditangani dengan cepat, tinggal menunggu giliran untuk dilakukan operasi.


Pamela sedang menjahit luka salah satu anggota militer yang tersandung batu dan menimbulkan luka yang harus dijahit.


Anggota militer itu memperhatikan Pamela yang sangat serius.


"Lukamu sudah ku jahit, jadi kau harus berhati-hati. Jangan banyak bergerak dulu, nanti jaitannya bisa lepas," ucap Pamela.


Anggota militer itu terus menatap Pamela tanpa berkedip, membuat Pamela langsung menegurnya.


"Apa kau mendengarku?" tanya Pamela.


Anggota militer itu langsung tersadarkan, dan seperti orang bingung ketika Pamela menatapnya.


"Hem... iya, Dok. Saya baik-baik saja," jawab Sersan Alin.


"Siapa yang bertanya kondisimu? Aku hanya mengingatkan agar harus berhati-hati merawat lukamu," ucap Pamela.

__ADS_1


Sersan Alin langsung melebarkan senyumnya.


"Nah itu maksudnya, Dok," ucap Sersan Alin.


Petinggi militer datang dengan membawa banyak ajudan, ia memasuki ruang UGD yang dipenuhi dengan pasien. Membuat semua pasien yang bukan dari angkatan bersenjata merasa takut dan kurang nyaman.


Dokter Zen yang mendapat laporan dari Perawat Amel langsung menemui petinggi militer yang bernama Jenderal Santoso.


"Rupanya kau masih di sini, Dokter Zen," ucap Jenderal Santoso.


Dokter Zen hanya terdiam menatap kedatangan Jenderal Santoso. Ia memperhatikan setiap bagian ruang UGD yang merasa tidak nyaman karena kedatangan para petinggi militer beserta jajarannya.


"Silahkan keluar dari ruang UGD dan masuk ke dalam ruangan saya," perintah Dokter Zen membuat Jenderal Santoso dan pengikutnya merasa terkejut.


"Jaga ucapanmu, apa kau tidak tahu sedang berbicara dengan siapa!" geram Mayor Ardi.


Dokter Zen tersenyum seolah meremehkan ucapan Mayor Ardi.


"Kau tahu ini ruang UGD, kalian dilarang masuk ke dalam ruangan ini karena pasien di dalam merasa sangat takut dan tidak nyaman. Kalian datang seperti orang yang akan menagih utang," jelas Dokter Zen, membuat Mayor Ardi mulai mengepalkan tangannya dan akan memukul Dokter Zen, tetapi niatnya ditahan oleh Jenderal Santoso.


"Baiklah, aku akan ke ruanganmu," ucap Jenderal Santoso.


Mereka akhirnya keluar dari ruang UGD, membuat semua orang menatap mereka dan beberapa perawat juga melihat kepergian para anggota militer itu, termasuk Perawat Isni dan Amel.


"Dia terlihat sangat menyeramkan," bisik Perawat Isni.


"Tapi semua akan baik-baik saja jika ada Dokter Zen," sahut Perawat Amel.


Pamela yang melihat perawat Isni dan Amel sedang bergosip langsung mendekat.


"Kalian sedang apa?" tanya Pamela.


"Apa Dokter tidak tahu, tadi ada kejadian yang sangat menegangkan," jawab Perawat Isni dengan nada yang sangat lirih.


Pamela menggelengkan kepalanya, ia terlihat sangat bingung, membuat Perawat Isni langsung membisikan ke telinganya.


"Tadi hampir ada keributan antara anggota militer dengan Dokter Zen. Mereka terlihat seperti ada dendam, dan tatapan Dokter Zen sangat tajam ketika menatap petinggi militer itu. Mereka terlihat sangat menyeramkan," bisik Perawat Isni.


"Jangan suka menggibah, sebentar lagi akan datang pasien dengan luka."


Ucapan itu membuat mereka kaget bukan main.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2