
Pamela yang nerasa ucapannya tidak ada yang salah, ia langsung kembali memeriksa rekam medis pasien.
Dokter Morgan terus menatap Pamela dengan penuh arti, sedangkan Dokter Feni menatap Dokter Morgan yang sedari tadi memandangi Dokter Pamela.
'Apa Dokter Morgan menyukai Dokter Pamela, tidak biasanya dia bersikap seperti itu,' gumam Dokter Feni dalam hati.
Saat tengah malam, Pamela berusaha memejamkan matanya tetapi ia tidak bisa. Akhirnya membuat Pamela terbangun dan keluae dari ruangan staf.
Pamela membuat susu hangat agar bisa menghangatkan tubunnya yang terasa dingin. Saat Pamela berjalam di lorong rumah sakit, ia melihat Luis sedang duduk di kursi pasien.
Pamela yang tak bisa menghindar, akhirnya duduk di samping Luis.
"Kau tidak bisa tidur?" tanya Pamela.
"Apa aku harus menjawab," jawab Luis.
Seketika mata Pamela langsung melebar, saat Luis menjawab pertanyaanya.
'Songong sekali dia, apa perlu aku tuangkan air panas ini ke wajahnya,' batin Pamela.
"Tidak perlu, aku hanya basa basi. Kalau begitu aku pamit pergi," ucap Pamela langsung beranjang bangkit dari tempat duduknya.
"Permintaanmu sudah di kabulkan oleh Kakek, semua anak yang di sandra sudah terbebaskan," ucap Luis, membuat langkah kaki Pamela langsung berhenti.
Pamela menoleh ke ara Luis.
"Jadi, kejadian kebakaran kemarin itu ulahmu?" tanya Pamela.
"Kami sengaja melakukan itu, agar tidak terjadi pertumpahan darah, ku dengar tidak ada korban jiwa, jadi amankan," jawab Luis.
"Tindakanmu itu sangat ceroboh, kau hampir membuat mereka mati karena luka bakar, untunglah mereka semua selamat dan bertemu dengan keluarganya," ucap Pamela.
"Lalu bagaimana dengan mafia yang bernama Rozak itu?" tanya Pamela, kembali duduk di samping Luis, membuat Luis menoleh ke arah Pamela.
"Ada apa?" tanyanya kembali dengan wajah yang bingung.
"Tidak," jawab Luis.
"Rupanya kau mengenal pria itu," sambungnya.
"Tentu, dia hampir saja menggodaku saat itu dan aku bertemu saat pesta anniversary pak Bramasta," ucap Pamela.
"Bukankah kita juga bertemu di sana," kata Luis.
"Kau benar sih, tapi ada sesuatu yang janggal saat aku melihat wajahnya," ucap Pamela.
Luis, memperhatikan Pamela dengan jarak yang dekat. Ia langsung teringat dengan Peimel, seorang disk jokey yang akan di pacarinya.
Seketika jantungnya berdetak kencang, membuat Luis merasa bingung dan heran saat menatap wajah Pamela yang sedang bercerita tantang mafia Rozak itu.
Pamela baru menyadari, jika Luis berkeringat seperti menahan sesuatu.
"Apa kau baik-baik saja, wajahmu seketika pucat," tanya Pamela langsung memeriksa Luis, tetapi ditepis oleh Luis.
"Aku baik-baik saja," jawab Luis.
Luis, langsung masuk ke dalam ruang VIP, dimana Kakek sudah tertidur lelap.
__ADS_1
Napas yang sangat cepat, membuat Pimpinan Hanji terbangun.
"Ada apa, kau kesulitan tidur?" tanya Pimpinan Hanji.
"Entahlah kek perasaanku sedang tidak karuan," jawab Luis.
Pimpinan Hanji tersenyum.
"Kau terlihat sedang jatuh cinta, jika kau tertarik katakan saja jangan di pendam," ucap Pimpinan Hanji.
Luis seketika terdiam dengan raut wajah yang sangat kesal.
Tak menghiraukan ucapan sang kakek, Luis memilih membaringkan tubuhnya di atas sofa. Ia berusaha memejamkan matanya.
Malam pun berlalu.
Pamela di perintahkan oleh Dokter Boy untuk melakukan pemeriksaan secara lengkap pada Pimpinan Hanji.
Saat Pamela masuk ke dalam ruang VIP, dengan senyuman, Pamela menyapa Piminan Hanji yang sedang menonton berita.
"Selamat pagi Pak, bagaimana kabar Pak Hanji. Apa tidur mu nyenyak?" sapa Pamela.
"Ada apa?" tanya Pimpinan Hanji.
"Dokter Boy, memesankan saya untuk memeriksa kondisi Pimpinan," jawab Pamela.
Mata Pamela melihat sekitaran ruang VIP, tak sengaja Pamela melihat Luis yang sedang tertidur dengan mulut yang terbuka. Luis terlihat dangat kacau, membuat Pamela hanya terdiam, ingin rasanya ia tertawa tetapi tak kuasa karena ia cucu pemilik rumah sakit ini.
Pimpinan Hanji yang menyadari Pamela melirik Luis yang sedang tertidur, membuatnya langsung membuka percakapan.
"Dia sangat berbeda jika sudah terbangun, saat tertidur tingkahnya seperti anak kecil," ucap Pimpinan Hanji.
"Hanya kau yang mengetahui tidurnya yang seperti itu," ucap Pimpinan Hanji.
Pamela malah justru merasa salah tingkah, karena hanya dia wanita yang baru saja melihat tidurnya Luis yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Pamela langsung teringat kejadiam semalam.
"Pak," panggil Pamela.
Pamela langsung menganggukan kepalanya seolah memberi hormat.
"Terima kasih sudah membebaskan korban perdagangan anak, mereka semua datang kemari dengan selamat. Meskipun ada yang terluka, tapi kami mampu menyelamatkan mereka," ucap Pamela.
"Baiklah, aku terima semua kebaikanmu, tapi ...," kata Pimpinan Hanji membuat Pamela merasa penasaran.
"Tapi apa Pak?" tanya Pamela.
"Kau harus mangencani cucuku," jawab Pimpinan Hanji.
"Apa!" seru Pamela membuat Luis sampai terbangun.
Seketika Luis langsung duduk.
"Ada apa ini berisik sekali," kesal Luis.
Pimpinan Hanji dan Pamela langsung menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
Luis dengan muka bantalnya, menatap Pamela. Seketika ia langsung tersadar dan menutu wajahnya.
"Kenapa kau masuk ke ruangan kakek?" tanya Luis sambil menutup wajahnya.
"Aku ... aku akan memeriksa Pimpinan Hanji untuk syarat sebelum operasi di mulai," jawab Pamela.
"Kenapa harus sekarang sih," ucap Luis.
"Ya suka-suka aku lah, aku dokternya," ucap Pamela dengan nada yang lirih.
"Apa kau bilang, beraninya kau membantahku," kesal Luis.
"Aku tidak membantahmu, aku hanya meluruskan saja. Ayok Pak kita ke ruang pindai CT," ucap Pamela.
Pimpinan Hanji di bawa oleh Pamela dibantu satu perawat yang menemaninya, lalu pergi meninggalkan Luis yang sedang duduk sambil menutup wajahnya.
Luis melihat Pamela yang sudah pergi meninggalkannya, ia langsung bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Astaga, wajahku terlihat sangat buruk," ucap Luis menatap cermin.
Luis langsung mencuci wajahnya.
Pamela melakukan serangkainya pemeriksaan kepada Pimpinan Hanji, tetapi hasilnya langsung masuk ke dalam user milik Dokter Boy, tidak ada yang boleh tahu kondisi Pimpinan yang sebenarnya selain Dokter Boy dan team yang akan mengoprasinya.
Selesai melakukan serangkaian pemeriksaan, Pamela kembali mengantarkan Pimpinan Hanji kembali ke ruangannya.
"Pimpinan ingin makan cilor tidak?" tanya Pamela.
"Cilor? Apa itu?" tanya Pimpinan.
"Itu jajanan anak kecil yang menurutku sangat enak," jawab Pamela.
"Apa kau akan membelikannya untukku?" tanya Pimpinan Hanji.
"Tentu, jika Pimpinan mau," jawab Pamela.
"Baiklah, aku tidak akan menolak," ucap Pimpinan Hanji.
Pamela mengantarkan Pimpinan Hanji terlebih dahulu, lalu ia keluar untuk membeli cilor. Karena ia memang sangat menyukainya.
Perawat Rere yang sedari tadi menjadi asisten Pamela merasa terkejut saat perbincangannya dengan Pimpinan Hanji terdengar sangat akrab.
'Apa Dokter Pamela akan di jodohkan dengan cucunya yang tampan itu?' gumam Perawat Rere di dalam hati.
Dokter Morgan yang melihat Perawat Rere melamun, membuatnya langsung menegurnya.
"Dilarang melamun," ucap Dokter Morgan.
"Dokter Morgan, ku pikir siapa," kata Perawat Rere.
"Kau ini kenapa, bagaimana tadi kau yang ikut melakulan pemeriksaan pindai CT Pimpinan Hanji kan, apa hasilnya sudah keluar?" tanya Dokter Morgan.
"Aku rasa dia akan di jodohkan," ucap Perawat Rere.
"Siapa yang di jodohkan? Apa kau dijodohkan?" tanya Dokter Morgan.
"Enak saja, ini bukan jaman siti nurbaya."
__ADS_1
BERSAMBUNG ....