Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 1


__ADS_3


Jangan pernah berhenti untuk berusaha. Biarpun apa yang kamu dapat tetaplah kekecewaan, percayalah jika Allah sedang menyiapkan sesuatu yang indah untukmu di waktu yang tepat. ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


****


Pagi kali ini terasa begitu berbeda. Hawa dingin begitu menusuk ke dalam tulang. Ditambah rintik-rintik hujan pun mulai berjatuhan membasahi tanah Brunei Darussalam. Hal ini tentu menjadi pertanda, bila negara ini mulai memasuki musim penghujan. 


Suara gemericik air di luar sana, tentu tak membuat seorang wanita yang tengah duduk diatas closet kamar mandi menjadi terganggu. Pandangan matanya tertuju pada dua benda yang berada di tangannya. 


Helaan nafas berat dengan mata bengkak tentu menjadi pertanda bahwa wanita itu sedang tak baik-baik saja. Alat tes kehamilan yang dia pakai, ternyata masih menunjukkan garis satu. Padahal hari ini dia sudah telat selama satu minggu. Namun, nyatanya lagi-lagi Allah belum memberikan rezeki itu kepadanya. 


Lagi-lagi dia, Aqila Kanaira istri dari seorang Khali Mateen, dikecewakan dengan tespek yang ada di tangannya. Sungguh harapannya begitu besar ketika tahu, jika dia telah telat berhalangan bulan ini. 


Bahkan dengan begitu percaya diri, Aqila sudah menyiapkan rencana untuk mengatakan kabar bahagia ini. Namun, sepertinya takdir kembali mengajaknya bercanda. Harapannya yang tinggi, hancur sia-sia tak berbekas. Dia kembali harus menerima bahwa takdir belum mengizinkannya untuk memiliki anak.


Seketika ingatan Aqila kembali berputar pada kejadian beberapa tahun lalu. Dimana untuk yang terakhir kalinya dia datang ke Indonesia. 


Hari itu, Haura yang berstatus sebagai adik kandung Khali, memberikan berita gembira. Kabar tentang kelahiran putri dari pria yang dulu pernah dekat dengannya tentu menjadi sebuah kabar kebahagiaan untuk Aqila.


Tanpa menunda lagi, Aqila, Khali dan Haura segera terbang ke Indonesia dengan menggunakan pesawat Kerajaan. Tak lupa, mereka juga membawa beberapa hadiah mewah untuk bayi mungil pasangan Rey dan Jessica. 


Entah kenapa semakin mendekati Rumah Rey, ada perasaan yang tak bisa dijabarkan dalam diri Aqila. Apalagi melihat kebahagiaan adik iparnya akan kelahiran Bayi milik Rey, tentu membuat sesuatu dalam hatinya sedikit sakit.


Setelah melakukan perjalanan panjang. Akhirnya mobil yang membawa mereka, mulai memasuki sebuah rumah mewah dan unik. Dari dalam mobil, Aqila sudah bisa melihat keberadaan Mama dari Rey yang menunggunya. 


"Selamat datang."


"Assalamualaikum, Tante." Dirinya dan Haura mendekat. Mereka meraih punggung tangan wanita paruh baya itu dan menciumnya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Ayo masuk Nak Khali," ajak Mama Ria dengan begitu hangat. 


"Iya, Tante."


Mereka semua akhirnya masuk dan langsung disambut oleh Rey, Bima, Jessica dan Amanda. 


"Selamat atas pernikahannya, Asisten. Maaf aku tak bisa hadir karena ada pekerjaan," ucap Haura yang turut senang akan kabar gembira dari Bima. 


"Santai saja, Putri. Saya tahu anda begitu sibuk."


Haura mencebik. Dia paling tak suka jika ada seseorang yang bersikap berlebihan kepadanya. Dirinya hanya ingin diperlakukan sama seperti orang biasa.


"Mari duduk!" 


Aqila segera mengambil posisi duduk di samping suaminya. Tak lupa kedua tangan mereka yang selalu menggenggam membuat siapapun yang melihat merasa bahagia.


"Masya allah. Jelas saja kamu viral, Bayi Mungil. Kamu cantik sekali seperti mamamu," puji Haura sambil mencium pipi Shira.


 


"Siapa namanya?" tanya Haura lagi.


"Arrisa Lashira."


"Nama yang bagus dan cantik."


Aqila hanya diam dengan tangan yang semakin menggenggam erat jemari sang suami. Entah kenapa melihat bayi mungil yang kulitnya masih memerah membuat jiwa keibuannya keluar. 


"Apa Aqila tak mau menggendong Bayi Shira?" pertanyaan Mama Ria tentu saja membuat Aqila menoleh.

__ADS_1


Segera Aqila memaksa tersenyum untuk menutupi gejolak yang berperang dalam hatinya. 


"Apakah boleh?" tanyanya meminta persetujuan. 


"Tentu saja, Nak."


Adik dari suaminya itu mendekat, dan memberikan bayi mungil itu ke tangannya. 


"Bismillahirrahmanirrahim."


Aqila mulai mengambil bayi itu dan memindahkan ke gendongannya. Sungguh tangannya gemetaran ketika untuk pertama kali  merasakan seorang bayi mungil di dekapannya. 


Apalagi ketika melihat wajah yang masih kemerahan dengan tubuhnya yang rapuh. Tentu tanpa sadar membuat mata Aqila berkaca-kaca. Seperti inilah rasanya dia menggendong seorang bayi.


Menimangnya, membawanya ke sana kemari dan jangan lupakan tubuhnya yang mungil dan lucu semakin membuat sesuatu dalam hatinya kembali membuncah.


Aqila memberanikan diri menyentuh pipi Bayi Shira dan menghadiahi kecupan singkat di dahinya. Bersamaan dengan itu, air mata yang ditahan sejak tadi akhirnya menetes. Keinginannya akan sosok buah hati yang dinantikan, terkadang membuatnya iri kepada pasangan yang sudah dikarunia seorang anak. 


Seketika lamunan Aqila terpecah mendengar ketukan pintu disertai suara berat khas milik sang suami.


~Bersambung~


Assalamu'laykum Warrahmatullahi Wabarakatuh.


Halo selamat datang di novel lanjutan dari "Aqila Love Story"


Buat Tim Aqila Khali jangan lupa langsung di favorit dan like yah.


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2