
Terkadang apa yang kita inginkan memang tak sesuai dengan harapan. Namun, yang diberikan oleh Tuhan adalah apa yang kita butuhkan. ~JBlack~
****
Di tempat lain lebih tepatnya di dalam sebuah mobil. Terdapat seorang pria tampan dengan pakaian rapi sedang fokus mengemudikan mobilnya. Pria yang tak lain adalah Ibrahim, asisten Khali Mateen dilanda rasa buru-buru karena panggilan dari tuannya itu.
Hari yang seharusnya dia pakai untuk bekerja di dalam istana, harus dia tinggal karena mendapatkan telepon dadakan. Ibra diminta untuk datang ke rumah sakit tempat Aqila diperiksa untuk menebus obat istri tuannya.
Tanpa menolak dan membantah, Ibra segera meninggalkan segudang pekerjaannya dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Hari yang masih belum terlalu siang, tentu membuat kendaraan yang berlalu lalang cukup padat. Bahkan tak hayal, Ibra membunyikan klaksonnya dengan kencang ketika keadaan didepannya membuat ia sedikit jengkel.
"Kenapa pagi ini begitu berantakan," ujar Ibra sambil memukul setir mobil saat mobil yang ia kendarai berhenti di lampu merah.
Pria itu segera menyalakan lampu mobil ke kiri karena memang ia akan ke berbelok, hingga akhirnya lampu lalu lintas berganti menjadi hijau dan Ibra segera menekan gas mobil.
Namun, naas.
__ADS_1
Saat dia sudah berbelok, seseorang yang hendak menyebrang membuatnya harus menekan rem mobil sampai suara gesekan antara bahan ban dengan aspal begitu terdengar.
"Astagfirullah." Punggung Ibra terhempas ke belakang. Nafasnya naik turun saat dia menyadari bahwa mobil yang ia bawa tak menabrak seseorang yang menurutnya menyebrang dengan sembarangan.
Melepas setbelt yang ia pakai, lalu segera membuka pintu dengan kemarahan di ubun-ubun. Rasanya bibirnya itu akan meledak pada orang yang harusnya bertanggung.
"Apa anda tak tahu? Ini jalan raya dan anda menyebrang dengan sembarangan. Jika saya menabrak anda, bagaimana?" sentak Ibra pada seorang wanita yang terduduk di atas aspal dengan kepala menunduk.
Ibra mendesis. Kemarahannya semakin memuncak saat wanita yang dia ajak bicara hanya diam.
"Hey! Anda mendengar tidak?" serunya dengan tangan terkepal.
Tapi tunggu!
Kemarahan yang tadi menyala tiba-tiba meredup saat melihat sepasang mata menangis hebat dengan beberapa luka memar di wajah wanita itu. Wanita yang begitu dia kenal, wanita yang begitu menjengkelkan. Namun, sekarang terlihat begitu mengenaskan.
"Dini," ujarnya hingga Ibra berjongkok.
"Maaf," ucap Dini dengan kepala menunduk dengan badan gemetaran.
__ADS_1
Entah apa yang terjadi dengan wanita itu, hingga tak lama Dini mencekram kepalanya dengan berteriak sakit. Hal itu tentu membuat Ibra begitu panik. Hingga ia mendekat dan memegang kedua bahu Dini.
"Dini...Dini. Tenang," ujarnya dengan suara pelan
"Lepaskan! Jangan sentuh aku!" seru Dini marah.
"Aghhh, sakit," teriaknya hingga tak lama cengkraman tangan di kepala itu melemas, suaranya lirih dan tubuhnya hendak terjatuh tapi beruntung Ibra dengan sigap menopangnya.
"Dini...Dini…" Ibra menepuk kedua pipi Dini. Perempuan itu tak sadarkan diri hingga membuat perasaan yang tak bisa dijelaskan tumbuh di hati Ibra.
Perasaan yang tak pernah ia alami, entah kenapa muncul di kala seperti ini. Dirinya yang selalu egois dan tak pernah memikirkan perasaan orang lain selain tuannya. Sekarang entah kenapa tiba-tiba ia khawatir.
Diangkatnya tubuh Dini lalu segera dia baringkan di dudukan belakang.
"Bertahanlah, aku yakin kamu kuat," ujar Ibra pelan sebelum ia menutup pintu mobil dan berpindah ke depan.
Tanpa babibu lagi, Ibra segera melanjutkan perjalanannya dengan pandangan selalu menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan Dini. Perempuan pertama yang ia khawatirkan melebihi tuannya dan ia tak mengerti arti perasaan itu. Namun, yang terpenting sekarang, dalam pikiran Ibra bahwa Dini harus segera di bawa ke rumah sakit dan mendapatkan pertolongan.
~Bersambung~
__ADS_1
Ceileh Abang Ibra, udah minggat aja, kagak usah di bawa ke rumah sakit. Biar jadi manusia batu ente, hehe.