Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 33


__ADS_3


Menjaga sebuah hubungan pernikahan adalah tugas kedua pasangan. Karena bila hanya salah satu, bisa dipastikan jika pernikahan mereka akan kandas di tengah jalan. ~Khali Mateen~


****


Pagi-pagi sekali, dapur kerjaan sudah mulai ramai oleh pekerjaan pelayan. Keberadaan tamu spesial dari Malaysia, tentu membuat pelayan harus menyiapkan sarapan yang begitu enak di lidah.


Tentu semua itu tak luput dengan keberadaan Aqila. Ratu dari Brunei itu, membantu memasak dan mengecek apakah rasa dari masakan yang akan dihidangkan sudah layak atau tidak. Karena bagaimanapun, melayani rekan kerja untuk kebaikan kerja sama mereka merupakan hal baik bagi mereka.


Bergerak dengan lincah. Gamis yang dipakai Aqila seakan membuat gadis itu tak merasa terganggu. Dengan santai dan enteng, dia kesana kemari membantu para pelayan yang begitu sibuk.


Hingga kedatangan sosok perempuan yang begitu ingin merusak keluarganya membuat Aqila menghentikan pekerjaannya.


"Ada apa Putri Rafiena datang ke dapur?"  tanya Aqila sambil mencuci tangan.


"Saya ingin meminta segelas air putih," ucap Rafiena memandang Aqila dari atas ke bawah.


"Saya akan menyiapkannya, Putri," ucap salah satu pelayan.


Saat dia hendak melangkah, suara Rafiena menghentikan pelayan tersebut.


"Aku tak memintamu untuk mengambil minuman untukku," serunya menatap sinis.


"Maaf, Putri."


"Aku ingin Ratu Aqila yang mengambilkan air putih untukku," ujar Rafiena sambil tersenyum miring. "Apa boleh?" 

__ADS_1


Aqila tersenyum. Dia bisa membaca ekspresi gadis di depannya ini. Rafiena tentu sengaja menyuruhnya untuk mencari gara-gara. Akan tetapi, Aqila tetaplah Aqila. Gadis dengan sejuta ketenangan karena sudah mengalami banyak kenangan untuk pembelajaran. 


"Ten…." 


"Tidak boleh!" seru suara bariton hingga membuat Rafiena dan Aqila serta pelayan di sana terperanjat kaget.


Aura kemarahan dan kilatan di mata Khali tentu membuat Rafiena dan para pelayan takut. Baru kali ini, para pekerja di Istana melihat tuannya marah, dan mereka tahu jika semua ini karena ulah Rafiena.


"Raja Khali…" ucap Rafiena gemetaran.


"Kenapa?" ucap Khali dengan wajah merah padam. "Anda terkejut, Putri?"


"Bukan...bukan…"


"Lalu? Atas dasar apa, Anda menyuruh istri saya mengambilkan air putih untuk Anda?" serunya sambil menggenggam tangan Aqila. "Dia itu istri saya dan ratu dari negeri ini. Bukan pembantu yang seenaknya Anda suruh, Putri." 


"Saya tidak menyuruhnya," kilahnya dengan menyatukan kedua jarinya.


"Hubby," bujuk Aqila sambil mengusap punggung tangan Khali. "Udah. Gak boleh marah-marah di pagi hari."


"Aku gak marah, Sayang. Aku hanya ingin menekankan pada Tuan Putri Rafiena," ucapnya menatap gadis yang hanya diam menunduk. "Jangan pernah menyuruh istriku lagi, kalau tidak…" jedanya membuat jantung Rafiena semakin berdebar kencang. 


"Aku akan mengungkap bagaimana tingkah laku Tuan Putri yang begitu dipuja oleh rakyatnya dan memutuskan segala hal dengan Negara Malaysia."


Setelah mengatakan itu. Khali menarik tangan istrinya begitu lembut dan meninggalkan dapur dengan emosi yang mulai reda. Perkataan yang dia ucapkan barusan, bukan main-main.


Dia rela memutuskan kerjasama dengan Negara yang tak menghargai istrinya, Aqila. Menurut Khali, urusan dunia bisa dicari dengan jalan yang lain. Tetapi, urusan akhirat dan berhubungan dengan istri, tak bisa dipermainkan.

__ADS_1


"Sabar, By. Jangan emosi," nasehat Aqila saat keduanya berada di kamar.


Khali menghela nafas berat dan menuju sang istri yang duduk di atas ranjang. Direbahkannya kepala di pangkuan Aqila, dan dia menikmati elusan lembut di kepalanya.


"Harusnya aku yang bilang ke kamu begitu, Sayang. Kenapa kamu begitu sabar dengannya? Bahkan disaat dia mengajakmu berduel, kamu masih menerimanya dengan tenang?" 


"Hubby tau darimana?" tanya Aqila dengan degup jantung berdetak kencang. 


"Apakah istriku lupa, jika di semua tempat di Istana ada CCTV dan penyadap suara yang aku simpan untuk pengamanan?"  


Aqila terkekeh dan menggeleng. Dia menjadi lupa dengan satu hal ini. Padahal sudah berapa tahun dia hidup di Istana hingga melupakan hal penting itu. Namun, dia sedikit lega karena melihat suaminya tak marah.


"Aku lupa, By. Maafkan aku," sesal Aqila membuat Khali menatap kedua bola mata istrinya.


"Berjanjilah padaku untuk selalu mengatakan hal sekecil apapun. Jangan pernah menyimpannya sendiri apalagi masalah seperti ini." 


"Aku berjanji."


~Bersambung~


 


Nah 'kan?


Perlu diingat!


Khali itu agamanya kuat. Jadi...

__ADS_1


Dilanjut sendiri yah, hehehe.


Jangan lupa like dan votenya dong~~~


__ADS_2