
Katakan kejujuran walau terasa pahit, karena pahitnya kejujuran masih lebih pahit dari pahitnya kebohongan. ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
****
"Aku mohon jangan katakan pada siapapun, tentang penyakitku, By," pinta Aqila saat keduanya hendak turun dari mobil.
Khali terdiam, matanya menatap sang istri yang menunggu penuh harap jawabannya. Mendekat, Khali menarik tubuh istrinya dan menghujani banyak ciuman disana.
Sungguh selama pernikahan mereka, Aqila tak pernah meminta apapun darinya. Istrinya ini, selalu menjadi yang terbaik untuk merawat dirinya, mengatur rumah tangga dan segala keperluannya.
Meski Khali tahu, walau dia mencegah sekalipun. Istrinya akan tetap melakukan banyak hal dengan seribu satu cara. Maka dari itu, ketika melihatnya memohon seperti ini, tentu membuat sudut hati Khali menjadi sakit.
"Jangan pendam semuanya sendiri, Sayang. Ceritakan padaku dan pada keluarga. Aku yakin semua pasti akan terasa lebih mudah dengan semangat dari keluarga," ucap Khali dengan tangan mengelus kepala Aqila lembut.
"Aku hanya takut membuat Mama dan yang lain kepikiran, By. Aku takut menjadi beban untuk mereka," ungkapnya dengan air mata mulai menetes.
"Dengerin Hubby, Sayang." Khali mendongakkan wajah sang istri dan menepis air mata yang selalu keluar tanpa permisi. "Ini adalah ujian untuk kita dan keluarga, Sayang. Bagaimanapun keadaannya, kita harus jujur. Mama dan yang lain akan lebih merasa sakit, jika tahu sakitmu dari orang lain."
Aqila menunduk, dia mengerti pasti keluarganya akan kecewa bila tahu dari orang lain. Namun, sungguh ia tak mau menjadi beban apa pagi untuk mamanya.
Dia takut penyakitnya ini akan membuat semua orang khawatir dan menatap kasihan ke arahnya.
"Apa kamu takut dikasihani?" tanya Khali dan telak mengena dalam hatinya.
__ADS_1
"Salah satunya itu, By."
"Percayalah, Sayang. Semua akan baik-baik saja, bila mama dan yang lain tau dari mulut kita sendiri," bujuk Khali dan langsung diangguki oleh Aqila walau hatinya begitu berat.
Keduanya segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Ternyata di ruang tamu, sudah ada Mama Angel, Kak Adel, Kak Kevin, Kak Lana dan Kakaknya sendiri, Axel. Semua orang tengah berkumpul dan keduanya yakin bila sedang menunggu mereka berdua.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Serempak keduanya.
"Bagaimana, Nak?"
"Bagaimana, Dek?"
Mereka mulai tak sabar menunggu hasil dari dokter. Aqila hanya bisa menunduk dengan menggenggam jemari tangan suaminya. Dia menyerahkan semuanya pada sang suami untuk menjelaskan semuanya.
Ketika Khali mulai menceritakan semua tentang sakit yang dia derita. Keluarganya menatap tak percaya ke arah Aqila.
Yang paling terlihat shock adalah Mama Angel. Perempuan itu merasa anaknya selalu dipermainkan oleh takdir. Dengan tubuh gemetaran, Mama Angel mendekati putrinya dan memeluknya begitu erat.
Anak dan ibu itu saling menyalurkan perasaan yang sulit dijabarkan.
"Ini hanya ujian dari Allah, Sayang. Mama yakin Qila anak yang kuat," ucap Mama Angel dengan lembut.
"Maafin Qila ya, Ma. Maafin Qila belum bisa memberikan mama cucu."
__ADS_1
"Ustt." Mama Ria melepas pelukannya dan menggeleng.
Dihapusnya air mata sang putri dan memberikan kecupan hangat di dahi Aqila.
"Jangan katakan apapun lagi, Nak. Jangan pikirkan tentang cucu atau apapun," ucap Mama Angel memberikan pengertian. "Mama gak pernah nuntut Qila buat kasih Mama cucu. Mama juga gak pernah maksa Qila buat hamil. Biarkan semuanya berjalan sesuai dengan takdir Allah."
"Tapi, Ma…."
"Gak ada tapi-tapian. Mama percaya bahwa pasti ada jalan dibalik semua yang terjadi pada putri mama satu ini. Mama yakin akan ada hikmah terindah di kehidupanmu suatu hari nanti."
"Aamiin."
"Ya udah. Sekarang kamu ganti pakaian dan istirahat yah."
"Iya, Ma."
Aqila dan Khali mulai berpamitan menuju kamarnya. Keduanya memang terlihat begitu lelah. Namun, tetap saja, Pria yang begitu menyayangi istrinya langsung mengotak atik ponsel di tangannya.
Dia segera menghubungi orang kepercayaannya untuk mencarikan dokter terbaik di Brunei sebagai pengobatan istrinya nanti bila sudah kembali. Khali akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kesembuhan wanita yang begitu dia cintai. Dirinya juga berjanji, tak akan meninggalkan istrinya untuk menghadapi semua ini sendirian.
~Bersambung~
Karena penguat lebih ampuh adalah keluarga~~
Jangan lupa tekan like dan vote ya guys~~~
__ADS_1
Terima kasih juga yang kemarin vote koin buat karya ini.