Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 6


__ADS_3


Pertemuan terakhir akan menyisakan sebuah kenangan yang kuat di saat nanti kita berjumpa kembali. ~Ibrahim~


****


Ibrahim, pria tampan dengan senyuman begitu mahal, segera mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Raja Brunei. Dia adalah salah satu spesies manusia yang tak pernah menunda pekerjaan. Selain cekatan, dia adalah seorang pria yang perfeksionis.


Semua yang dia kerjakan harus benar-benar sempurna. Tak boleh ada kata gagal dalam kamus hidupnya. Dengan sikapnya yang seperti itu, tentu membuat wanita yang sudah menambatkan hatinya pada Ibra, mundur pelan-pelan. 


Bagaimana mereka mau mendekat, bila Ibra hendak didekati. Pria itu seakan langsung membentengi dirinya sebaik mungkin. Jadi wajar, bila sampai di umur 30 tahunan, dia masih berstatus single lillah.


Waktu yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tak membuat Ibra ingin beristirahat. Dia langsung mengurus segala keperluan penerbangan untuk Khali dan sang istri. 


Pria itu benar-benar mengeceknya dengan teliti dan tak mau diwakilkan. Ibra benar-benar turun tangan sendiri agar semua pekerjaannya tak meleset.


"Semuanya beres. Ingat! Saya tak menerima kegagalan," ancam Ibra sambil beranjak berdiri.


"Siap, Tuan."


Segera dia berjalan meninggalkan ruangan yang sudah membuatnya hampir pusing selama dua jam lebih. Berjalan dengan tegap, wajahnya yang tampan tentu menarik perhatian calon penumpang dan orang-orang disana. Anggap saja rezeki malam melihat pria tampan berjalan sendirian dengan berpakaian formal lengkap.


Saat Ibra berjalan dan hampir sampai di luar Bandara. Dari arah berlawanan, terdapat seorang gadis memakai jilbab sedang berjalan tergesa. Sepertinya dia benar terburu-buru hingga tak melihat bila ada pria tampan di depannya. 


Bruk.


Tubuhnya yang tegap tentu tak membuat Ibra terjatuh. Dia tetap berdiri tegak dengan wajah datar menatap gadis yang baru saja menabraknya.


Ibra benar-benar tak suka dengan kecerobohan dan sekarang dia benar-benar terkena imbas gadis yang berjalan tanpa menggunakan mata, pikirnya. 

__ADS_1


"Ck." Decak lidah Ibra sambil merapikan jasnya yang kusut karena tabrakan tadi. 


Tak sedikitpun dia ingin membantu gadis yang tengah mengaduh kesakitan karena pantatnya langsung jatuh terduduk di lantai. 


"Sakitnya," gerutu gadis itu dengan wajah masih menunduk dan mencoba berdiri.


Menepuk-nepuk pantatnya agar tak sakit, segera ia mengangkat wajahnya ketika perlahan rasa itu hilang.


"Kamu."


"Kamu." 


Dua pasang mata itu sama-sama membulat penuh. Keduanya tak menyangka jika bertemu setelah sekian lama.


"Jelas aja gak dibantuin. Orang yang nabrak, kamu," seru si gadis kesal dengan melengos pergi.


"Kamu yang menabrak saya dan kamu yang marah? Kamu sehat?" tanya Ibra menatap gadis itu tajam.


"Sehat, dan saya tidak sengaja." Menyentak tangan Ibra yang memegangnya. Gadis itu mendengus kesal.


Entah sudah berapa lama mereka tak bertemu sejak pertemuan mereka yang terakhir. Sepertinya perjumpaan keduanya dulu, saat Aqila masih bekerja menjadi dokter di salah satu rumah sakit milik Keluarga Kevin di Brunei.


"Dasar gadis…." Suara Ibra seakan lenyap dalam tenggorokannya saat melihat gadis itu berlalu dengan tanpa rasa bersalah. 


Sungguh setiap pertemuannya dengan gadis itu, seakan pertengkaran selalu menjadi prioritas keduanya.


"Rasanya setiap bertemu dengannya, emosiku selalu membumbung tinggi," seru Ibra dengan melanjutkan langkah kakinya yang tertahan.


Pria itu ingin segera sampai di Istana dan mengistirahatkan tubuh dan otaknya. Seakan apa yang baru saja terjadi, begitu mendominasi dirinya dan membuat Ibra selalu lelah dengan perdebatan tak penting itu.  

__ADS_1


"Jika aku bertemu dengannya lagi, aku bungkam bibirnya dengan tanganku ini." 


****


Di tempat yang sama.


Gadis yang baru saja terkena insiden kecil dan berakhir besar tak hentinya menggerutu. Sungguh bertemu pria dingin dan cuek itu selalu membuat moodnya hancur.


Seakan pertemuan mereka selalu tanpa disengaja dan menjadi alasan perdebatan kecil hingga membuat Dini begitu muak.


Dini, gadis yang memiliki seribu kata pada bibirnya dan selalu meramaikan sebuah keadaan sudah menjadi ciri khasnya. Pekerjaannya sebagai suster, tentu membuatnya menjadi pribadi yang selalu ramah pada semua orang.


Akan tetapi, sikap itu terkecuali pada satu pria yang baru saja ditabraknya tanpa sengaja. Pertemuannya dulu dengan pria bernama Ibra, berakhir begitu menjengkelkan. Masih Dini ingat, bagaimana dulu Ibra mengusiknya untuk mencari keberadaan Aqila di rumah sakit.


Ya, Dini adalah sahabat dan teman Aqila saat bekerja sebagai dokter. Keduanya yang berteman dekat, tentu membuat Ibra memanfaatkan Dini sebagai jembatan berkomunikasi dengan Aqila dulu.


Namun, siapa sangka jika dari sana, hubungan keduanya berakhir seperti ini.


"Kalau ketemu lagi, aku tabrak tubuhnya biar dia jatuh terus aku tinggal," ucapnya pada diri sendiri dengan tangan terkepal. 


Ah sepertinya meremat wajah pria cuek itu menjadi hal yang begitu diinginkan Dini selama ini. Tetapi, sepertinya semua itu mustahil jika melihat bagaimana pekerjaan dan pentingnya pria itu di Negara ini.


~Bersambung~


Ehemm ada yang penasaran gimana kelanjutan kisah Ibrahim sama Dini?


Mau gak kisahnya diseling sama kisah Aqila Khali?


Jangan lupa tekan like yah, kalau yang belum like di bab selanjutnya. Jangan lupa scroll ke atas lagi dan like.

__ADS_1


__ADS_2